Asta Tinggi, simbol dari kejayaan raja Madura


Sebuah masa jaya terkadang tersimpan dalam cerita para tetua, benda-benda peninggalan, puing-puing bangunan atau juga pada makam sang pemegang kejayaan, dan di Asta Tinggi inilah dapat terlihat betapa Madura mempunyai sebuah masa kejayaan yang hebat di masa lalunya..” – Tutut Indah Widyawati

Asta Tinggi Madura

Asta Tinggi Madura

Masih dengan cerita di wilayah timur Madura tepat setengah jam dari pelabuhan kalianget. Sampailah aku di next destination dari serangkaian spiritual journey yakni di Asta Tinggi, Sumenep. Masih teringat jelas betapa takutnya aku ketika berkunjung ke makam ini untuk pertama kalinya saat masih SD. Yah, dikarenakan saat tiba di sana hari sudah malam dengan penerangan seadanya, didramatisir pula dengan adanya sebuah makam yang terbuka dengan ‘sesuatu’ didalamnya yang membuat aku kecil pun menangis ketakutan tak terkira. Dan entah kenapa kemarin rasa merinding itu masih ada walau tak sebesar dulu. Tapi memang, atmosfer yang tercipta di Asta Tinggi benar-benar lain.

Memasuki gerbang utama depan langsung terlihat dua gerbang megah lain di dalam. Di sisi kiri dan di sisi depan gerbang masuk Asta Tinggi yang keduanya merupakan gerbang menuju kompleks pemakaman. Aku dan para peziarah lain pun tak lantas masuk ke makam, terlebih dulu kami semua berkumpul di pendopo sebelah kiri gerbang depan untuk mendengarkan sekilas cerita dari mungkin beliau adalah Juru Kunci dari makam tersebut yang aku lupa siapa nama beliau.

Juru Kunci Asta Tinggi

Juru Kunci Asta Tinggi

Tanpa banyak kata beliau-nya pun langsung menceritakan bahwa Asta Tinggi ini adalah Makam Para Raja Sumenep. Sempat dari awal aku rekam cerita beliau lewat voice recorder HP amatiranku dan hanya beberapa yang akan kutulis tentang cerita yang beliau ceritakan. Dan ini download link recording cerita tentang Asta Tinggi.

Di gerbang sisi kiri, kalau menurut mata angin gerbang selatan, terdapat 3 kubah yaitu Pangeran Pulang Jiwo, Pangeran Jimat dan Bindara Saut. Dalam gerbang masih terdapat gerbang lagi yakni Gerbang Barat, dan inilah gerbang masuk dari 3 kubah yang bergaya arsitektur Jawa-Mataram. Berbeda dengan Gerbang Timur dengan kombinasi arsitektur China, Arab, Jawa dan Eropa.

Gerbang Barat Asta Tinggi

Gerbang Barat Asta Tinggi

Dalam kubah Pangeran Pulang Jiwo terdapat juga makam dari Anggadipa yaitu orang pertama kali membuat masjid di kadipaten sumenep di sebut Masjid Laju atau sekarang disebut Masjid Agung Sumenep. Pangeran Pulang Jiwo dikenal karena telah diutus oleh Sunan Demak untuk mendamaikan orang Jawa dan Madura karena dulu antara Orang Jawa dan Orang Madura tidak akur. Dan Alhamdulillah sampai sekarang akur-akur saja, terbukti dengan dibangunnya jembatan suramadu yang menjadi simbol kedekatan Madura dan Jawa.

Kubah selanjutnya adalah milik Pangeran Jimat yang mempunyai nama asli Raden Rahmat, namun lebih dikenal dengan Pangeran Jimat karena walaupun menjadi seorang raja namun senang menuliskan jimat yang mustajab dan juga doa pun mustajab. Oleh karena itu beliau dipanggil Pangeran Jimat.

Kubah Bindara Saod. Nama Bindara adalah adat Madura, kalau ada anak laki-laki keturunan kiai saat kecil dinamai bindara, dan kalau perempuan dinamai Nyai. Dan nama Saod riwayatnya adalah ketika masih berada didalam kandung ibunya bisa menjawab salam dari abahnya. Abahnya, Kiai Abdullah yang seorang penyiar agama Islam yang berdakwah keluar masuk kampung yang setiap hari tidak pernah terlambat pulang ketika pulang istrinya selalu menunggu di serambi luar. Suatu ketika Kiai Abdul terlambat datang dan rumahpun sudah dikunci dari dalam. Lantas beliau pun mengucap salam berkali-kali namun tidak ada yang menjawab, tiba-tiba terdengar suara bayi yang menjawab salam.
“Wa’alaikum salam, Umi Sholat, Umi Sholat..”
Setelah pintu di buka Kiai Abdullah pun bertanya kepada istrinya tentang siapa tadi yang menjawab salam dan sang istri pun menjawab, “yang menjawab salam tadi adalah bayi yang ada dikandungan saya Pak Kyai. Oleh karenya Kiai Abdullah pun berujar, kalau putranya lahir dengan selamat akan dinamakan dengan Bindara Saod. Saod asal kata dari “nyaut”,“menyahut” atau “menjawab”. Dan untuk cerita selanjutnya dapat didownload dalam voice recording cerita tentang Asta Tinggi.

Setelah selesai mendengarkan sekilas cerita dari Raja-Raja sumenep yang di makamkan di masing-masing kubah, masuklah kami semua ke gerbang timur yang terdapat 3 kubah tersebut namun tidak ketiganya kami datangi, hanya kubah Bindara Saod saja. Lalu dilanjut ke Gerbang Timur yang disana bersemayam makam dari Sultan Abdurrahman yang sudah tersebut dalam postingan sebelumnya. Gerbang Timur ini lebih kaya akan kombinasi gaya arsitekturnya. Arsitektur bergaya China dapat ditemukan dalam dekorasi ukirannya, gaya arsitektur Arab dalam bentuk nisan dan kaligrafi.

Gerbang TimurAsta Tinggi

Gerbang Timur Asta Tinggi

Subhanallah, berdiri disini menyaksikan bangunan-bangunan tua yang masih berdiri dengan megahnya dengan atmosfer yang tak bisa dijelaskan dengan pemandangan perbukitan yang breathtaking view banget membuatku sadar bahwa sejarah bisa terlihat dengan adanya bukti sejarah, maka melestarikan sejarah adalah wajib hukumnya bagi setiap manusia yang masih diberi kesempatan oleh Allah menyaksikan segala sejarah yang ada di bumi. And this is what I did for keeping our History.

bersambung ke Religiusitas Madura dari Talango hingga ‘Mertajasah’..

About these ads

2 thoughts on “Asta Tinggi, simbol dari kejayaan raja Madura

  1. Pingback: Religiusitas Madura dari “Talango” hingga Mertajasah | we wee world

  2. Pingback: Religiusitas Madura dari Talango hingga ‘Mertajasah’ | we wee world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s