Long March Malang

Malang.. menyebutkan kota itu yang terekspresikan adalah excited seketika, itu dia kota tujuan jalan-jalan dalam liburan singkat yang tersedia di bulan maret lalu. Alhamdulillah, banyak hal mengejutkan terjadi di bulan maret, dan salah satunya adalah perjalanan ini.
Diawali sebuah tawaran dari kakak perempuanku untuk ikut jalan-jalan ke malang, dan lebih tepatnya jalan-jalan ke daerah sanan rejo, turen, malang, jawa timur. Yang dikata orang ada masid yang sangat menakjubkan. Aku pun pernah melihatnya di salah satu foto temanku, dan terlihat memang, ada sedikit keajaiban dari bangunan yang tergambarkan. Dari cerita orang-orang yang berkembang pun terjadi banyak deskripsi cerita, ada yang mengatakan bahwa itu adalah masjid ghaib, masid tiban (tiba-tiba ada, jawa-red), dan yang parah mengatakan bahwa itu masjid jin!! Hmmm.. curious irresistible in my heart..
Minggu pagi, aku bersama keluarga besar dari kaka ipar ku, dengan mengucap, bismillahi tawakkaltu alallah laa khaula walaa kuwwata illabillah, kami berangkat..
Ternyata perjalanan kali ini mengambil rute melewati blitar dan dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan kami semua pun mampir ke makam bung karno. Menapaki jalan Ir. Soekarno yang berpagar kios-kios souvenir, wanna buy something! Tunggu dulu.. abaikan..
Sebenarnya aku sudah pernah kesini ketika jalan-jalan lebaran keluarga, namun, yang namanya jalan-jalan always become the interesting one..
Begitu masuk kompleks makam, tertujulah langsung pada museum bung karno. Masuk langsung tersambut dengan lukisan besar bung karno yang berdebar pada bagian dadanya dan mata yang selalu mengikuti arah gerak kita. Magis memang, tapi aku tak mau mempertanyakan mengapa bisa seperti itu, wallahu’alam..

museum makam bung karno

museum makam bung karno


Terpajang segala macam lukisan-lukisan dari “sungkem”nya pak karno dengan ibunya, lukisan bung hatta, ibu fatmawati, dan lukisan pahlawan-pahlawan di ujung ruangan. Banyak juga foto-foto peristiwa-peristiwa penting, berjajar sepanjang museum.
Terpajang juga segala macam peninggalan bung karno, dari mulai koper, baju safari 4 saku berwarna coklat muda yang kulihat banyak jamur yang merasa senang karena bisa tinggal di bekas penghangat badan orang no 1 di Indonesia kala itu, ada juga uang-uang jaman dulu yang terlihat sangat lucu, bendera perdana bangsa Indonesia yang dijahit oleh ibu kita, ibu fatmawati soekarno putri, yang telah pudar warna merahnya dan telah kusam warna putihnya, namun terlihat sangat berharga..
Di sudut ruangan terdapat patung besar burung garuda dan sebelum pintu keluar terdapat frame-frame yang membuat para filateli pasti berhenti sejenak menyaksikannya..
Setelah puas sightseeing di museum kami pun bergegas ke makam, dan karena minggu, kerumunan orang pu tak terelakkan, setelah berdoa sejenaknya kami pun kembali akan melanjutkan perjalanan, eeits..pada pintu keluar kompleks makam kami disambut dengan jajaran kios souvenir yang panjang dan belanjalah sudah..tak penting diceritakan!
Mari kita lanjutkan..
Dan akhirnya kita mulai perjalanan ke malang. Berkilo-kilo sudah terlampaui dengan menuju alam mimpi, ketika membuka mata, pada jendela mobil tersajikan pemandangan menakjubkan. Sampailah aku pada daerah waduk sutami. Indah, sangat indah..terdapat pula jembatan lengkung pembelah jurang curam yang di atasnya melintas kereta api dengan danau sebagai backgroundnya.. dari banyaknya pergi ke malang, lebih banyak aku habiskan dengan naik kereta api, dan ketika melewati waduk sutami ini selalu melewati terowongan dua kali dan melihat jalan yang sekarang aku lewati ini yang meliuk-liuk indah, dan sekarang dari sudut pandang lain aku melihat indahnya rel kereta api yang membujur muncul dari sisi-sisi pegunungan, subhanallah..
Bukan itu saja kejutan yang tersajikan pada jalan-alan kali ini, aku melewati suatu daerah yang tak ku bayangkan akan melintasinya. Membaca board toko-toko terdapatlah nama itu, yang membuat senyum merekah tak terelakan.. More felicity, ketika melintasi sebuah masjid besar nan indah dengan nama Masjid Besar Gondang Legi. Senyum lah hati ini.
Tak lama kemudian kami pun sampai di tempat tujuan, terlihat pada banner selamat datang, Pondok Pesantren Bihaaru Bahri..
Melintasi jalan masuk, kami pun disambut dengan gerbang yang megah, kubah kerucut indah berwarna biru pun mengucapkan selamat datang. Takjub melihat gerbang seindah itu, belum sepenuhnya jadi memang tapi subhanallah..tak cukup dengan itu saja kami dibuat takjub, memasuki kompleks pondok tersambut dengan, disebut apa ya?? Mungkin bisa disebut dengan pos satpam lah, yang bercorak orange yang berbeda dengan bangunan-bangunan disekitarnya yang lebih banyak menggunakan warna biru muda dan putih, bak istana surga demi Allah..
Depan bangunan berstruktur bunga-bunga arah mata angin dengan cawan-cawan putih yang menjadi tudung pembatas lantai satu dan lantai selanjutnya. Sebelah samping bangunan depan terdapat cungkup setengah kubah yang dijajarkan dengan tiang sokong pembatas satu sama lainnya, dibatasi dengan pagar yang berbentuk mahkota putih biru yang membuat tak berhenti hati ini menyebut kebesaranNya.
kami pun mencari tempat untuk istirahat sejenak dan makan siang, lalu sampailah kami pada suatu tempat santai yang telah tersediakan disana meja-meja dan kursi untuk makan, dengan pagar pembatas berlafadzkan huruf Allah dan di sebelah selatan terdapat sebuah papan bercorak kuning gading serta hijau dengan garis yang menyaratkan pemusatan cahaya pada sebuah tulisan arab berframe 8 mata angin..

Adzan dhuhur pun terkumandangkan, kami pun bergegas ke masjid, dan kejutan pun datng lagi. Sebuah masjid kecil yang terletak lebih rendah dari bangunan yang lain dengan corak putih, beraksen kubah-kubah gaya timur tengah pun terhadirkan, dengan tambahan efek kabut, yang sebenarnya dari asap pembakaran, dan lantai bak kaca memantulkan bentuk gagah masjid mungil ini. Berdamping dua buah menara yang di ukir indah, dan Alhamdulillah satu masjid ter-sholat-i lagi.
Tak dapat ku gambarkan keadaan dalam masjid karena banyaknya orang-orang yang sholat, yang aku bingungkan kala itu adalah, aku sholat seperti menghadap ke timur..loh?! gara-gara bingung tak tau utara barat selatan, hehe..

Selepas sholat kami bersiap-siap touring ke dalam pondok pesantren yang konon mempunyai 9 lantai ini. Loh?! Katanya masjid? Koq jadi pondok ya?? Sabar dulu, mari kita mulai touring kita..
Masuklah kami ke dalam bangunan pondok di temani oleh guide dari pondok itu benama Pak Anwar, begitu masuk kami tersambut dengan lorong gelap yang dingin, berlantai keramik marmer, berdinding ukiran dan berhiaskan pohon-pohon dan bunga-bunga, dengan lampu-lampu merah hijau yang membuat suasana menadi lebih terlihat lebih dramatis. Terdapat kursi-kursi dari akar kayu yang terpajang pada ruangan pertama setelah lorong. Dan karena berjubel-jubel orang yang naik dan turun tidak bisa ku dengar penjelasan dari Pak anwar tentang ruangan itu dan tak dapat ku lihat lebih jauh keadaan lantai satu yang gelap itu..
Lanjut masuk ke lorong selanjutnya, terdapat lorong berdindingkan aquarium dengan kaca tebal berisikan ikan-ikan yang aku tak tau apa namanya hingga sampailah aku di lantai 2, terdapat disana pajangan seperti kereta kecil, ayunan untuk anak-anak, sofa-sofa untuk pertemuan keluarga lengkap dengan furniture seperti ruan keluarga dalam rumah, serta pohon-pohon dan bunga-bunga yang mempercantik keadaan ruang lantai 2 itu.
Banyak pintu dalam ruangan-ruangan tersebut, hingga Pak anwar pun bilang samapi ada yang menyebut lawang 1000 karena saking banyaknya pintu yang ada disana, ketika ditanya berapa jumlah pintu yang ada Pak anwar pun tidak tau karena memang tidak pernah ada yang menghitungnya.
Naik lagi ke lantai 3, terdapat banyak ruangan-ruangan yang mempunyai banyak fungsi, lalu kami pun di ajak untuk beristirahat di suatu ruangan dan disanalah pak anwar menceritakan tentang pondok pesantren itu. Terjelaskan bahwa, banyak orang mengira seperti yang aku gambarkan ada awal cerita, yang mengira bahwa ini adalah masid, namun sebenarnya ini bukan lah masjid namun pondok pesantren, dan bangunan ini terbangun sekitar tahun 90an hingga sekarang dan masih 40% jadi, dan dana pembangunannya sendiri pun adalah dari dana keluarga pak kiai pondok, dari infak-infak pondok dan sumbangan-sumbangan. Terceritakan pula bahwa santri-santri yang mondok di pondok tersebut kebanyakan adalah remaja-remaja dan orang-orang yang sudah berkeluarga, dan bila ada orang-orang yang ingin menjadi sukarelawan menjadi pengecat dinding-dinding pondok, akan diterima dengan tangan terbuka.
Setelah itu kami lanjutkan pada lantai-lantai berikutnya tanpa ditemani dengan pak anwar karena beliau harus meng-guide-i tamu-tamu yang lain, baiklah syukron katsir Pak anwar..
Pada lantai 4 terdapat kolam dengan hiasan batu-batu besar di tengahnya, dan bila melihat ke bawah dari balkon akan terlihat lantai dari marmer yang di cat warna-warni serta taman-taman yang tersusun rapi serta pagar-pagar pembatas balkon yang lagi-lagi banyak menggunakan warna biru dan putih.
Pada lantai selanjutnya kami sampai pada semacam aula yang di dalamnya terdapat bedug yang terbuat dari kulit sapi perah dan terlihat jelas corak hitam putih dari sapinya..magnifique!
Setelah aula terdapat aula lagi yang tak hanya luas namun tinggi bertiangkan pohon-pohon tua sehingga tercipta suasana seperti di dalam sumur gua pohon. Berjalan lagi, dipertemukan dengan 4 jajar kursi yang lebih tepat bila disebut seperti kursi pelaminan dengan aksen kursi kerajaan bercorakkan emas dengan twirl-twirl seperti bunga sulam, di suatu sisi lain terdapat seperti tahta sebuah raja dengan 4 tiang peyangga berlapis emas dengan sandaran berbentuk mahkota permaisuri.
Sebelah utaranya terdapat semacam tangga ke lantai selanjutnya dengan berpegangkan pada dinding-dinding biru lagi dan kayu-kayu pohon sebagai pembatasnya, bak tangga menuju ke langit.
Lantai-lantai selanjutnya ada semacam tempat berbelanja yang menyajikan segala macam jajanan khas malang serta souvenir-souvenir, jilbab beserta aksesorisnya dan lain-lain.
Pada lantai yang sama juga terdapat suatu taman pohon dengan berpagarkan gerbang bermenara berwarna seragam dengan bangunan yang lain, dengan menara berbentuk seperti, apa ya??.pentungan??! lihat seperti di gambar lah..
Pada lantai teratas, entah 9 atau 10, terdapat semacam gua dengan stalaktit buatan yang benar-benar menyerupai aslinya, pada celah celah dinding stalaktit bisa kita lihat kemegahan pintu gerbang kubah kerucut yang wondrous indeed!! Tak lupa aku abadikan kemegahannya dalam sebuah potret melewati celah-celah stalaktit, benar-benar niat! Haha..
Sisi lain terdapat suatu taman dengan gazebo-gazebo yang belum sepenuhnya jadi, terdapat pula 4 tiang dari pohon yang di huni oleh monyet-monyet yang saling menggelantung di atasnya. Di sisi sebelah timur terdapat juga sebuah batu putih besar yang bertahta di puncak bangunan, just wondering, bagaimana caranya meletakkan batu sebesar itu ke lantai 9??
Puncak telah terkunjungi, lalu kami turun dengan melewati tangga yang didepan tersajikan pemandangan pegunungan nan asri. Ketika melewati tangga yang berputar-putar, kami pun bertemu dengan pohon kelapa yang tembus sampai ke lantai 6!! That’s really incredible!
Dan Alhamdulillah setelah berpusing-pusing pada tangga yang berputar-putar kami sampai pada lantai dasar dan disambut dengan pemandangan sebuah kolam yang luas lengkap dengan sebuah perahu yang bisa dibuat untuk berkeliling kolam, di sudut kanan kolam pun terdapat angsa-angsa berenang, such a balance scenery..
Panggilan Allah telah terdengarkan dan kami pun dengan bergegas menuju masjid untuk menawab panggilannya. Setelah sholat, sambil menunggu yang lain selesai aku pun berjalan-alan mengamati pemandangan sekitar. Entah kenapa rasanya sangat berbeda, lingkungan yang benar-benar sangat nyaman, bukan hanya karena bangunan yang indah namun ada suatu rasa kenyamanan yang tak dapat di jelaskan ketika di sana.
Perjalanan pulang pun aku jalani dengan puas hati, apalagi berkesempatan lagi melewati sebuah kampung yang aku tak atu kenapa aku sangat interest sekali melihatnya. Dan yaa.. sekian dulu rangkaian cerita yang dapat terceritakan in one of my 4 precious Sunday in my great march.. 

6 thoughts on “Long March Malang

  1. pas pertengahan thun kmrn, ruame banget ponpes ini, jadi kurang begitu menikmati kemegahannya, tapi walopun gitu emang ajaib banget, di tengah perkampungan bisa didirikan bangunan semegah ini..

    • he em, pas nyampek gerbang aja udah dibuat takjub sma gerbang e yang menjulang tinggi, subhanallah..
      tapi pas aku kesana dulu jek banyak sing belum jadi, katane sekarang udah lebih bagus dam..
      pengen kesana maneh, ayoooo..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s