tak terduga tak tersangka

“Pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan, maka pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu dibalik itu (Dwilogi Padang Bulan)

Kumpulan kata yang tepat untuk kalimat pembuka suatu deskripsi cerita yang akan terceritakan, entahlah.. berjam-jam men-search ide tentang tulisan yang bagaimana yang harus ter-post-kan dalam blog baru ku ini, and, just like blowing wind, terembuslah ide cerita yang terprogram rinci memenuhi setiap inci neuron otak selama kurang lebih setengah dari 12 bulan yang terlampaui.
Suatu cerita persahabatan yang tak ada seorang pun yang menyangka, tak ada sekepala pun yang memikirkan, tak ada selamun pun yang mengangankan akan terceritakan suatu harinya.
Pada awalnya hanyalah, aku dan dia dipertemukan dalam suatu tempat mencari ilmu, tak ada yang istimewa, tak ada suatu kesan yang menarik perhatian, tak ada kenangan dalam episode kehidupan, hany saling kenal, begitu saja.
Yaa, ketika sekali bertemu dalam huruf yang mewakili terucapnya kata, aku mengakui bahwa aku kagum dengan cara berjalannya, itu saja. And finally revealed, ternyata dia juga sempat kagum pada caraku bicara yang karenanya mengalahkan keindahan London dalam suatu speech contest, tersenyumlah aku..🙂
mmm.. cerita lain yang dulu terabaikan ketika tatap muka masih terijinkan dan terbahas di masa sekarang adalah ketika malam hari turun hujan lebat, aku berdiri di depan pintu gerbang besar sedang menunggu jemputan dari kakak ku, dia berdiri dalam petak yang sama. Tak ada sapa yang tersampaikan, aku tak sadar dengan kehadirannya, tapi dia sangat tau bahwa ada aku, sapa diri berhasrat untuk menyapa tapi tak terjadikan dalam kediaman diri.
Ketika tercerita bersama, berandai-andai, I wish I were realise. Walau hanya sepenggal kisah setengah sadar, terkenangkan indah dan tak terlupakan akhirnya.
Cerita lain.. begitu saja, setelah terpisahkan dengan terilisnya farewell party, tak ada yang memikirkan satu sama lain secara istimewa, benar-benar tak ada.
Suatu ketika, secara tidak sengaja, tidak terencana, tidak ada maksud yang terpikirkan akan terjadi kisah selanjutnya, terpandangkan oleh mata sebuah bayangan kalender tertanggal 28 juli 2010. ketika itu aku update status suatu jejaring social tentang suatu kalimat pada novel Cinta di Dalam Gelas, komentarlah dia dan aku balas dengan komentar sedikit berbangga diri, (maaf hubby, hehe..) begitu saja. Dan masing-masing diri tak ada yang memikirkan akan ada kelanjutan dari komentar singkat yang tertuliskan tak lebih dari 9 kata, but apparently, Tuhan menskenariokan kisah selanjutnya.
Esok harinya, 29 Juli 2010 terdetik pada pukul 12:07:15 pm, terkedip-kedip layar hp ku, msg received, secara mengejutkan dia sms, terbacakan pada layar,
“Subhanallah. Cinta di Dalam Gelas… selesai , bagus!”
Dengan ekspresi terkaget-kaget, excited mungkin, dan dengan senyum terekah aku segera membalas dengan perasaan runtuhnya kebanggaan diri karena telah merasa mempunyai start baca yang lebih dulu daripadanya, tapi ternyata dia mendapatkan finishnya.
Dan, dari sanalah awal mula dari perasaan yang sedang memenuhi seluruh palung hati sekarang ini, tapi sebelum sampai di sekarang, yang tersepakati bersama adalah menjadi sabahat sejati.
Hari-hari berikutnya, aku lewati dengannya dalam jauhnya raga, jauhnya pandang, jauhnya dengar, jauhnya kata, tapi dengan segala kejauhan yang ada justru membuta hati kian hari kian dekat.
Berbagai peristiwa besar dalam masing-masing hidup terlampaui bersama, berbagi cerita hidup, cerita masa depan, cerita pelajaran berharga, cerita segala kenangan yang terlampaui hingga cerita masing-masing cinta yang kesemuanya sangat menakjubkan.
Bertukar kata yang mendebarkan untuk saling menguatkan dalam putaran roda kehidupan yang kadang membuat tawa pahit dan tangis bahagia, dan itu dia, terlampaui bersama sebagai sahabat.
Bersama melalui bulan yang suci, berlomba-lomba saling mendekatkan diri pada-Nya, bersama dalam pahitnya mulut, terisinya perut, terbangunnya rakaat setelah isya’, dalam memenuhinya hak lisan akan terlantunnya alunan ayat-ayat suci Tuhan, dan ketika dingin yang terasakan pada sepertiga malam terakhir ketika sahur hingga fajar tiba.
Secara tak dinanya, ramadhan pun telah menggenapkan bulannya, tergenap begitu cepat dengan menyisakan nelangsa pada diri karena berpisah dengan bulan yang suci, tapi dia berucap akan membuat bulan-bulan selanjutnya menjadi sama seperti bulan ramadhan, dan alhamdulillah, bulan berikutnya hingga sekarang masih kita bawa ramadhan di hati kita dalam cinta sahabat dalam hidup.
Tak menghendaki lebih, tak menghendaki adanya perasaan lain, bersahabat dengan tetap setia pada masing-masing masa lalu yang tidak mudah untuk terlupakan dan untuk mencinta lagi, namun Tuhan memudahkan untuk menimbulkan cinta itu.
Akhirnya, dengan segala limpahan cinta dari Sang Maha Cinta, persahabatan itu berubah menjadi suatu kisah yang mengindahkan hidup.

Sebait kata darinya :
Seperti puisi.. hidupku indah..
Awan cendawan berhenti bergerak..
Dedaunan hijau berbaris rapi mengucapkan salam..
Hati bergetar menyebut asmaNya..
Bersyukur atas keindahan dan kedamaian ini..
Makhluk suci ciptaanNya..
Memenuhi setiap sudut hati..
Tuhan..
Terima kasih untuk cinta ini..
Kutitipkan padaMu..
Selalu dalam kesyukuran..
Terima kasih cantik ku..

8 thoughts on “tak terduga tak tersangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s