terencana sebelumnya – Jakarta

Terencanakan sebelumnya, …
Suatu rencana yang telah dibicarakan jauh hari sebelumnya dan tak terasa hari yang terencanakan itu pun tiba dengan persiapan yang matang walaupun sedikit hambatan pada diri, hmmm.. suatu hal yang mencuri senyum manis ku akhir hari ini tapi insyaAllah sembuh, apakah itu?? Bell Palsy!!
Namun walaupun begitu, berbekal tiket ditangan kanan bertanggal berangkat 21 April 2011, koper barang bawaan ditangan kiri, family di samping kanan kiri, serta bayangan wajah ridho ayah ibu yang menunggu di rumah, dengan ucapan bismillahi tawakkaltu alallah aku berangkat menuju stasiun besar Kediri. Hujan yang begitu deras menemani selama perjalanan menuju stasiun, di sepanjang jalan banjir kanan kiri, alis kaca yang harus berkedip ke kanan kiri untuk menghapus air hujan yang menghalangi jarak pandang mata ke depan jalan.
Suasana mendung hujan kilat benar-benar tak sepadan dengan perasaan hati, karena segala perasaan yang mengundang rasa syukur ada di hati yang paling terdalam.
Tepat pada pukul 03.00pm aku dan keluarga berangkat meninggalkan stasiun besar Kediri untuk menuju kota tujuan liburan, Jakarta!!

odissey starts..

odissey starts..


Pada tiket tersurat bahwa kami akan sampai di stasiun pada pukul 06.30 am keesokan harinya.
Beserta dengan kakak perempuan, kakak ipar dan dua adik keponakan yang sangat aktif yang sejak masuk kereta telah lari ke sana kemari, kami pun menikmati udara senja hari yang sejuk dengan bentangan ranah hijau sawah yang menambah ragam warna pada cahaya nila senja.
Maghrib pun datang dengan melantunkan suara merdu adzan surau-surau yang terdengar dari kereta yang berjalan tak lebih dari 100km/jam ini, niat sholat pun kami hatur kan untuk menghormati waktu sholat maghrib, bismillah..
Perhitungan waktu antara Kediri-Jakarta yang tertera pada tiket kereta express senja Kediri bila dikalkulasikan akan memakan waktu hingga 13,5 jam, namun bila itu tak ada hambatan apapun dan semoga lancar, amin. Sebelumnya aku berpikir, 13,5 am adalah akan menjadi waktu yang sangat lama bila tak melakukan apapun, dan telah kupersiapakan 2 novel untuk menemani perjalanan yang membentang seluruh jawa.
Ku jatuhkan pilihan ku untuk membawa novel Ranah 3 Warna dan Habibie&Ainun, dengan pikiran lain bahwa, siapa tau bisa bertemu Pak Fuadi atau Pak Habibie ketika di Jakarta nanti, haha.. mustahil namun tetap berharap..🙂
Terduduk di gerbong 5 dengan nomor kursi yang kami miliki, 5A, 5B, 5C, 5D dan 6A, dengan leluasa kedua keponakan berbuat apapun yang membuat mereka nyaman, berlari-lari antar gerbong, meloncat-loncat antar kursi, petak umpet pada lorong antar kursi, masyaAllah.. nakal sekali..
Aku perhatikan saja, aku duduk sebelah keponakan ku bernama Imam Fachruddin, yang disepanjang jalan ada apapun yang dia lihat selalu ditanyakan dan aku awab sekenanya dengan bahasa yang dia langsung paham dengan maksud kejelasannya. Sedangkan keponakan perempuan ku, Na’ila Daffa Azaria menghafalkan lagu “Ibu kita Kartini” yang tepat hari ini diperingati hari Kartini.
Dan tepat sekali bila liburan jalan-jalan kali ini aku namai sebagai “Je Kartini”.
“Je” yang bermakna aku dalam bahasa perancis, yang bila di artikan keseluruhan menjadi, aku kartini. Nyambung tidak?? (geleng-geleng). Lalu aku buat arti dari akronim nya, Je Kartini, yang Je adalah huruf abjad ‘J’ yang bila di gabung menadi JaKARTa kINI. Menarik?? Obviously.. haha..
Stasiun besar pertama yang tersinggahi adalah Stasiun Kertosono, namun tak enak berhenti sudah melaju lagi ke arah barat mata angin. Setelah stasiun kertosono terlewati tak lagi aku perhatikan nama-nama stasiun yang tersinggahi, maklum, lupa tak membawa kaca untuk mata miopy ku ini.
Yang teringat hanya, aku melewati stasiun-stasiun besar seperti Madiun, Ngawi, Semarang, Cirebon dan stasiun-stasiun kecil yang terbaca dalam keremangan huruf abad yang ku lihat ketika hanya ada cahaya bulan yng menyinari.
Dari segala stasiun yang terlewati, beberapa aku perhatikan dengan seksama Stasiun berbangunan lama yang menarik untuk teramati, Stasiun Besar Semarang.
Stasiun besar dengan berpuluh-puluh pintu yang berjajar dari barat selatan dengan pintu yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri.
Stasiun Besar Semarang

Stasiun Besar Semarang

Beraksen jawa klasik di padu dengan gaya bangunan jaman belanda yang terlihat dari bentuk pintu lengkung setengah lingkaran dengan batu bata merah yang menjadi batas lengkung pintu yang diteruskan hingga membentuk suatu ragam yang menyatukan antara pintu satu dengan pintu yang lain.
Atap stasiun dengan penyangga segitiga yang sinkron warnanya dengan warna kayu tiang-tiang penyokong tudung atap stasiun. Jam 12.00 am ketika itu, banyak orang-orang yang terlelap di kursi-kursi tunggu, banyak juga orang-orang berlarian meneteng barang bawaan yang berat sedang ringan yang masing-masing berlarian setengah sadar. Para penjual kaki dua berteriak menjajakan barang dagangannya dari luar kereta yang aku selalu melambaikan tangan menolak tawaran mereka.
Perjalanan kami lanjutkan, dan aku pun aku lanjutkan dengan menopangkan kepalaku pada bantal spon hijau sewaan dari mas mas waiter yang berbaju abu-abu yang selalu mondar-mandir membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat pesanan dari penumpang.
Ketika mata terbuka lagi, sampai lah kami di Stasiun besar Cirebon.
Stasiun Besar Cirebon

Stasiun Besar Cirebon

Unik juga dan menyita perhatian riyip-riyip mata bangun tidurku. Terlihat suatu bangunan besar yang hampir mirip dengan bangunan stasiun Semarang namun berbeda. Pintu-pintu stasiun yang berjajar tak sama besar kecil dengan bentuk yang jelas memperlihatkan mana pintu utama dan pintu sampingan. Suasana yang sama tersajikan disini, orang-orang tertidur di sepanjang kursi tunggu, ada yang terbangun mendengar deru kereta datang lalu pergi tidur lagi dengan melihat enggan.
Kereta api meneruskan perjalanannya menghitung setiap rel kereta besi kayu bertabur batu koral besar kecil yang teratur, hingga semburat cahaya kuning menyembul di timur angkasa yang kami tinggalkan arahnya. Perlahan-lahan menjadi sebuah lingkaran sempurna merah cerah yang memberikan warna baru dalam gelapnya alam hijau bumi dan akhirnya sang surya pun mengucapkan selamat pagi pada bumi Jawa bagian barat.
singsingan fajar di Jabar

singsingan fajar di Jabar


Stasiun demi stasiun kami lewati dengan menghirup udara pagi dan segelas teh hangat manis peredam dingin udara pagi, hingga matahari member cahaya kehangatannya yang menembus kaca retak menyilaukan mata.
Jadwal tiba di stasiun pasar senen yang tertera di tiket berjepret 5 lembar ini adalah pukul 06.30 am, namun ternyata harus terlambat karena adanya gangguan sinyal GPS si stasiun Jati Negara, 1 jam, 2 jam, 3 jam hingga 4 jam dan Alhamdulillah, setelah bersunggut-sunggut kepanasan seperti di oven selama 4 jam keterlambatan akhirnya kami pun tiba di Stasiun Pasar Senen.
Tiba disana kami sudah ditunggu oleh kakak dan keponakan ku. Tak berlama-lama kami pun langsung bergegas menuju rumah dinas kakak ku di meruya, Jakarta Barat. Sepanjang perjalanan aku tersuguhi pemandangan yang 14 tahun lalu pernah ku saksikan dengan mata kecil ku, yaa.. Welcome to Jakarta again!!
Sampai di rumah istirahat lah kami semua, mandi, sholat, makan, cuci baju, menghempaskan badan sejenak di tempat tidur. Sekitar pukul 01.00 pm kami pun siap-siap untuk touring pertama kita di Jakarta. Selama di jalan bernyanyi-nyanyi dengan keponakan, tebak-tebakan matematika hingga bahasa inggris, dan melihat bermacam-macam bangunan pencakar langit dengan bermacam-macam bentuk dan nama. Terekam pada baca mata beberapa gedung stasiun TV swasta, gereja katedral yang terlihat berdampingan dengan masjid istiqlal, secretariat Negara, gedung-gedung para pejabat kementrian dan yang paling interest ketika memandang gedung kementrian luar negeri, waaaa.. Pak Marty Natalegawa. Entah kenapa aku sangat nge-fans pada beliau, so good looking minister..🙂
Terlihat pula gedung putih tempat para menteri-menteri berfoto dengan presiden setelah pelantikan, suatu saat nanti aku akan foto disana, amin.. hehehe.. bermimpi dan semoga dipeluk Allah, amin..🙂
istana negara

istana negara


Yaa, itulah istana Negara yang terlihat setiap sudut terdapat CCTV dan beberapa penjaga yang tampak berdiri tak bergerak walaupun untuk berkedip, koq bisa yaa..
Berjalan sedikit kea rah yang menurutku arah timur, terdapat menara megah yang dijadikan sebagai identitas bangsa Indonesia, itulah dia, Tugu Monumen Nasional. Keponakan ku, Fadhilla Syahda Faustina Austrin sebagai guide pengetahuan tentang Jakarta pun bercerita tentang tugu monas yang kata dia, monas bertinggi 179 m. Kelas 4 dia dan Alhamdulillah sangat pandai.
Melewati pintu parkir kami pun masuk ke gerbang timur monas, dan segera antri untuk naik kereta pengangkut wisatawan dari pelataran taman monas ke kaki tugu monas. Touring asik beberapa meter menggunakan kereta mini yang sejauh mata memandang adalah bangunan-bangunan tinggi sebagai pemandangan yang terpandang.
tugu monumen nasional kini

tugu monumen nasional kini


Turun dari kereta, aku dan keluarga tak lupa mengabadikan momen ketika berada di kaki tugu monas yang megah. Melihat waktu yang telah menunjukkan pukul 02.30 pm, kami bergegas masuk untuk sight seeing di atas menara berketinggian 179 meter itu. Melewati sebuah terowongan, kami pun sampai pada loket tiket masuk yang pada atapnya mencurahkan tetesan air embun menyejukkan diri pada panasnya udara Jakarta siang itu. Gawat!! Pada pukul 03.00 pm loket tiket masuk lift menuju tingkat atas tugu monas ditutup, tanpa sempat melihat-lihat ground floor dari tugu monas kami pun cepat-cepat menuju lantai dua tempat loket tiket lift, dan ternyata CLOSED!!
Namun, karena inisiatif dari kakak kami pun tetap naik ke lantai antrian masuk lift utama. Dan proses “wani piro” pun terjadi, yaa..inilah Indonesia, jangan kau pertanyakan lagi.
Dengan proses “wani piro” kami mendapat ijin masuk naik lift, dengan lift berluas 3 x 3 meter yang bejubel, kami tiba di lantai atas, yang kita bisa melihat lansekap kota Jakarta dengan bermacam gedung bertingkat yang terlihat angkuh dan bersaing satu sama lain.
14 tahun yang lalu, aku harus di gendong ayah agar bisa melihat seantero kota, namun sekarang aku saksikan dengan kaki ku sendiri bumi Jakarta yang menyimpan bermacam teka-teki kehidupan. Subhanallah..
scenery view above..

scenery view above..


Sempat juga kami bertemu dengan 2 foreigner yang ber sight seeing ditemai dengan seorang guide, kakak-kakak ku menantang keberanian berbahasa ku untuk mengajak foreigner berfoto bersama, setelah menunggu sang guide berhenti menjelaskan tentang keindahan kota Jakarta dari atas menara aku pun memberanikan diri untuk bicara dengan foreigner yang sangat cantik,
“would you mind to take picture with us??”
“oh, sure..” jawabnya dengan senyum paling manis khas orang berkulit putih. Kami pun berfoto dan seemua mata pengunjung tertuju pada bersalaman, dan tentunya, aku tangkupkan tanganku ketika akan bersalaman dengan male foreigner.
Puas melihat-lihat jajaran gedung tinggi Jakarta raya kami pun turun ke lantai cawan untuk melihat-lihat sejenak, berfoto, merasakan angin sore Jakarta.
on cawan

on cawan


Gerimis datang, dengan segera kami kembali menuju parking area tanpa menggunakan kereta mini karena kereta terkahir yang mengangkut sudah penuh, kami pun berlari-lari kecil dan alhamdulillah drizzling is over in a while, dan kami putuskan untuk bersepeda bersama mengelilingi monument nasional.
bersepeda ria

bersepeda ria

dan
bersepeda ria

bersepeda ria

Aku saksikan orang-orang dengan berbagai macam kegiatan yang mereka lakukan, ada yang bersepeda, bermain bola, berbain basket di basketball court, bermain laying-layang, berolahraga lari, ada yang sekedar duduk-duduk mengamati orang berlalu –lalang, ada yang berfoto mengabadikan momen indah bersama, dan yang mengejutkan adalah datangnya 3 mobil seorang pejabat yang hanya sejenak masuk di pelataran monas.
Capek bersepeda kami pun istirahat di tempat duduk taman dan memesan minuman pada pedagang kaki dua yang membawa termos serta berbagai macam merk minuman, aku amatisetiap penjual selalu mempunyai termos dan barang dagangan yang sama dan dengan perempuan sebagai penjualnya.
Matahari pun pulang ke peraduan barat, tidak lupa tersempatkan oleh kami ke kios timur parking area untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk sanak family.
Adzan maghrib menggema, kami pun terpanggil utnuk segera pergi mengunjungi rumah Allah, Masjid Istiqlal. Suasana hujan gerimis rapat menyambut kami ketika tiba disana. Suasana hikmat pun kami dapatkan. Merasakan segala atmosfer kedamaian disetiap jengkal keramik yang terjejaki. Ketika masuk ruang utama masjid tak kuasa hati ini menahan kata hati dan akhirnya terucapkan dengan kata Subhanallah!! Indah tak terkirakan dan tak terperi. Menangis haru hati ini terwakili oleh air yang menetes di sudut mata. Mendengar lantunan Firman Allah yang begitu indah mendamaikan hati, demi Allah. Tak kuasa setelah menghadap padanya dan menghaturkan doa mata ini benar-benar menangis, melihat dan merasakan segala kekuasaan yang begitu mendamaikan dan subhanallah tak dapat terlukiskan keindahannya. Rasa syukur tak terkira di hati karena 1 masjid lagi telah tersholati, karena keinginan di hati adalah dapat sholat di rumah Allah di berbagai penjuru dunia, amin ya Allah..
background spektrum cahaya, subhanallah..

background spektrum cahaya, subhanallah..


Melihat lorong-lorong luar masjid dengan lantai berselimut air hujan yang memantulkan cahaya menjadikan warna-warni cahaya dengan tugu monas sebagai center cahaya indah. Aku tak mau pulang!
Ingin sekali berlama-lama namun keponakan kecil sudah kehabisan air susu, dan kami pun kembali ke rumah, menyiapkan segala energi untuk touring esok hari. Dengan mengamati perbedaan derajat celcius yang lucu yang terjadikan antara kamar tidur yang 16 derajat celcius dan kamar tengah 32 derajat celcius. Keren!!
Matahari mengusir gelap malam berganti dengan cerah benderang, tanda tanggal 22 April 2011 akan terjadikan di hari ini.
Rencana yang ada, hari ini akan kami habiskan di Taman Mini Indonesia Indah. Walaupun hari menunjukkan hari Sabtu, namun kakak ku tetap bekerja karena bulan akhir untuk mengurus SPT tahunan Pph, kami awali perjalanan hari ini ke kantor pajak kakak ku. Hanya sebentar saja lalu menujulah kami ke TMII. Seperti pemandangan yang tersajikan sebelumnya, hanya gedung-gedung bertingkat dengan berbagai nama, dan yang berbeda kali ini adalah bisa kami lihat gedung DPR bertudung hijau yang banyak menimbulkan kontroversi untuk pembangunannya itu.
Almost arriving there, kami melihat Masjid At-Tien yang namanya di ambil dari nama ibu presiden kita yang ke dua, Ibu Hartinah atau biasa disebut Ibu Tien Soeharto.
Sampai alhamdulillah, dengan tak membuang waktu kami menuju loket tiket skylift atau kereta gantung, menunggu antrian aku sempatkan utnuk berfoto di tempat yang sama 14 tahun lalu aku mengambil gambar. Tak banyak berubah namun aku saksikan keong emas yang menurutku ada di timur diri itu tak sebesar dahulu.
Tiket telah didapat dan keponakan kruncil rebutan untuk bias 1 kereta gantung dnegan ku, dan akhirnya aku bersama ke 3 keponakan ku, dan kakak-kakak ku berada di lain kereta.
Sempat terpikir, alangkah senang bila ayah ibu bisa ikut lagi menaiki kereta gantung bersama seperti 14 tahun lalu, insyaAllah nanti kita pasti diijinkan Allah untuk touring bersama lagi, amin, amin, amin..
Menaiki kereta kuning warnanya, sepadan dengan baju yang ku kenakan, kami melayang terbang di sepetak bumi Indonesia. Terlihat oleh kami suatu danau buatan yang memetakan nusantara dengan begitu indahnya. Telihat pula bangunan-bangunan yang terlihar kecil yang mewakili keragaman 33 propinsi di Indonesia. Berbagai rumah ibadah pun terbangun berjajar rukun, menunjukkam toleransi agama yang sangat erat. Dan yang menyita perhatian keponakan-keponakan kruncilku adalah istana anak yang terbangun seperti kastil kerajaan negeri dongeng, berwarnakan merah bata berpinggir putih beratap kubah kerucut emas.
Usai bertouring di udara kami pun turun dari stasiun skylift, dan tepat di bawah stasiun skylift terdapat boom boom car, dan beraksilah ketiga keponakan kruncil.
Then, menujulah kami ke keong emas besar utnuk melihat film sambil menanti kakak selesai bekerja. Film yang terputarkan di layar besar berjudul, Africa The Serengeti, film tentang hewan-hewan didataran Serengeti dengan segala macam bentuk rantai makanan dan ekosistem alam yang terekam di layar besar.
Durasi film pun berakhir dan kami sempatkan setelah itu melakukan fish therapy di halaman luar keong mas. Selesai bergeli-geli ria terciumi oleh ikan-ikan penerapi, kami tertarik untuk mengunjungi arena outbond. Keponakan ku, dhilla dan ruddin mengambil outbond dengan rintangan lengkap, sementara nala hanya flying fox saja, sementara aku menjadi juru kamera, hehehe..
Time to take a lunch, dengan berbagai macam menu dan selera yang berbeda, yang special, soto betawi
soto betawi nyummy

soto betawi nyummy

, santap makan siang yang nikmat bersama keluarga.
Kenyang, alhamdulillah, menujulah kami ke galeri pameran yang menyediakan bermacam-macam kerajinan tradisional nusantara, mulai dari segala alat musik daerah, patung-patung, bunga-bunga dari berbagai macam tanaman, wayang-wayangan, miniatur kapal pinisi, permainan-permainan tradisional, butik baju batik, dan kerajinan tradisional lainnya.
Touring kami lanjutkan untuk melihat satu-satu rumah adat nusantara yang tadi telah kulihat berjajar kecil-kecil dari skylift. Berasa keliling Indonesia karena seluruh rumah adapt 33 propinsi tersajikan berjajar rapi di sini. Kami jumpai pula berbagai museum-museum dari mulai museum bunga, museum komodo, museum minyak dan gas, museum transportasi, museum keprajuritan dan yang paling ditunggu-tunggu adalah istana anak. Senang lah keponakan kruncil, di habiskannya dengan main-main di tempat bermain istana anak.
depan istana anak

depan istana anak


Tak lupa sejenak kami berjalan-jalan di tugu api dengan maksud beristirahat sebentar sambil melihat topeng monyet kecil yang bila diperhatikan kasian karena lehernya harus ditarik-tarik oleh pemiliknya.
keponakan kruncil dan topeng monyet

keponakan kruncil dan topeng monyet

bawah tugu api

bawah tugu api


Waktu cepat berputar hingga senja pun datang, kami kembali kerumah dengan perasaan syukur yang tak terkirakan, alhamdulillah hirrobbil’alamin atas nikmat jalan-jalan yang terjadikan. Terima kasih ya Allah..
Malam hari tiba kami habiskan di rumah, memasak bersama, bermain bersama keponakan kecil yang lucu, berdelivery makanan keluarga, melihat video kejadian lucu di jalan-jalan dua hari, dan pergi kea lam mimpi dengan segala syukur alhamdulillah.
Tanggal pulang telah tercetak ditiket, dan ternyata hari ini, kami isi setengah hari terakhir untuk belanja keperluan pulang dan jalan-jalan sekiranya, dan packing.
Selama perjalanan menuju stasiun kereta, kami sempatkan untuk melihat lagi tempat yang belum terlihat, dan untung saja car free day sudah berakhir dan kami mengunjungi bundaran HI untuk sekedar berkeliling.
Hampir pukul 03.00 pm, kami standby di stasiun pasar senen menunggu kereta berangkat, sedih juga namun tetap bersyukur telah Allah beri kesempatan untuk bersilaturahmi dengan bumi Jakarta walaupun tak genap 4 hari.
Kereta senja kediri pun mulai menderukan suaranya dan mas mas waiter berbaju abu-abu mempersilakan masuk, tanda liburan singkat berakhir.
see you jakarta..

see you jakarta..


Lambaian tangan panjang mewakili ucapan sampai bertemu lagi yang tak terdengar terhempas angin sahutan kereta api. Duduk menyaksikan sekelebatan rumah-rumah berjubel kumuh sepanjang kereta, rasa haru pun terjadi dengan segala kenagan yang tak mungkin terlupakan.
Itulah Jakarta Kini.

3 thoughts on “terencana sebelumnya – Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s