“guten morgen..”

“Guten Morgen lieb..”

“Guten Morgen, sprechen sie deuch??”

“Hehe.. Ja, Liebe ist das was?”

“Mein..🙂 ”

Suatu penggalan percakapan antara aku dan dia dalam suatu pagi ketika tatap akan bertemu. Hari itu adalah hari dimana semua orang kristiani sedang merasakan euphoria hari raya yang mereka rayakan setiap tanggal pada akhir desember, yaa itulah dia, hari Natal. Aku bahkan ketika itu lupa bahwa tanggal yang ada adalah tanggal merah yang sekarang di Negara paling kecil di dunia sedang riuh meriah memeringatinya. Karena aku, ketika itu sedang merasakan euphoria tersendiri dalam hati, yang menimbulkan suatu rasa yang tak terjelaskan dengan segala macam kata, frase, kalimat hingga paragraf.
Tatap muka yang terbicarakan sebelumnya, dalam proses diskusi panjang berhari-hari yang menimbulkan berbagai macam pernyataan, pertanyaan hingga keraguan akan kemana dan apa yang akan terlakukan, dan pada akhirnya Allah mengijinkan pertemuan kedua dalam Cinta di rumah cahaya Nya, dengan mengucap bismillah, dia pamit untuk berangkat.
30 menit sebelum kedatangan ku, dia telah disana. Menunggu dalam salah satu sudut pelataran masjid yang aku sangat suka bila memandangnya. Pohon sawo manila berdaun merah bata coklat pada satu sisi bawah dan hijau tua hitam disisi yang lain yang akarnya harus mampu menembus hingga dalamnya tanah untuk melangsungkan hidup karena takdirnya yang ditanam dalam pelataran paving jalan.
Dengan perasaan sedikit bersalah karena harus membuatnya menunggu, tertitilah jalan menuju rumah cahayaNya dengan masing-masing perasaan yang tak terkatakan. Banyaknya perasaan dihati tak lantas membuat kedua lidah lancar dalam berbicara. Hanya sedikit bertegur kata, dan tibalah pada tempat berwudhu bertudung kerucut biru tua yang tak senada dengan warna dinding yang merah jambu.
Terceritakan hari sebelumnya, dalam dia memenuhi hak lisan untuk membaca firmanNya, telah khatam sudah, 30 juz terlampaui dan berkatalah aku untuk memulainya lagi esok dan aku sebagai penyimak dalam dia mengulang lagi membaca ayat-ayatnya.
Dan begitulah kesepakatannya. Maka dari itu terputuskan untuk bertemu di rumah agung Allah, dan pagi itu di dalam masjid hanya ada aku, dia dan Allah.
Sebelumnya, terawali dengan menunaikan hak berdoa ketika matahari sepenggalah naik. Bersebelahan memang, namun terdapat tirai pembatas antara ma’mum laki-laki dan perempuan.
Masing-masing memulai memanjatkan segala doa, menghormati waktu dhuha, menghaturkan segala cinta, mengatakan segala kerinduan yang membuncah kepada Nya dan menitipkan segala rasa yang bertahta di hati, sepenuhnya terserahkan kepada Nya.
Aku serahkan kepadanya Al-Qur’an kecil yang ku bawa dari rumah, dan mulailah dia membaca surat pertama, Al Fatihah. Termulai dengan bacaan ta’awud dengan suara yang begitu mendamaikan menggema dalam ruangan besar berdinding kaca, dengan atap limas biru tua. Aku simak, aku dengarkan, aku hayati, aku resapi, dan aku jatuh cinta.
7 ayat terlampaui dan diteruskannya membaca surat Al Baqarah. “Alif laam miim” salah satu ayat mutasyabihat yang hanya Allah yang mengetahui dan di sisiNya lah ayat-ayat itu berasal.
Walaa tus’aluuna amma kaanuu ya’lamuuna..” terbacakan sudah, yang menandakan 141 ayat Al Baqarah telah selesai di bacanya, alhamdulillah.. (terima kasih by)
Berjalan meninggalkan mihrab dengan embusan angin yang masuk melewati celah-celah jendela kaca, hanya damai yang terasakan. Terduduk di serambi kanan masjid dengan membau angin pembawa hujan arah selatan. Pohon patrakomala dengan bunga merah, orange kuning nya yang memberi warna lain pada bermacam tumbuhan yang ada, terombang-ambing kesana kemari tertiup angin menambah keanggunannya yang kadang orang menyebutnya pohon bunga merak. Mengamati setiap kaki pemandangan lantai dua masjid sambil berbicara apapun yang harus terbicarakan yang tak sempat dan perlu terkatakan dengan suara yang terdengarkan.
Dalam beribu kata yang terucap, aku memintanya untuk bercerita tentang suatu cerita yang ingin aku dengar, lalu berceritalah dia tentang pengalamannya yang hebat yang telah membawanya ke segala tempat dengan pembelajaran disetiap jengkal langkahnya. Aku bertanya bila ada yang dipertanyakan dan aku berkomentar bila ada yang patut dikomentari. Cerita kehidupan yang sebenarnya pernah aku dengar dari jauhnya jarak namun dekatnya suara tapi selalu membuat ku sangat terkesan. Suatu cerita perjalanan menakhlukkan segala mimpinya yang ditempuh dalam diamnya kata, asingnya diri, bertemu dengan beragam wajah orang, terpejamnya mata di rumah-rumah Allah, dengan perasaan dari segala perasaan ada dalam hati yang mampu membawa mimpi agungnya hingga ke negeri lintas samudra, lintas benua hingga sampailah pada negeri Pangeran William. Magnifique!!
Dan dengan segala cinta di hati yang terasakan pada setiap degub jantung serta denyut nadi, bertambahlah segala pelajaran kehidupan yang bila niatkan segala sesuatu itu dengan niat mendekatkan diri pada Allah maka semuanya akan selalu indah. Dan sekarang setiap kesempatan selalu berkata hati, nawaitu taqorruban ilallah.. suatu pelajaran berharga darinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s