bila takdir telah berkata, akan diam seluruh dunia

Merenungi setiap kejadian yang tertapaki akhir-akhir ini, dengan mata tertegun, dengan mata berlinangan air mata, dengan mata terpejam menghayati, dengan mata sendu meratapi, dengan tatapan mata kosong jauh menerawang..

Merenungi bahwa setiap jiwa yang hidup, cepat atau lambat, hanya Allah yang tau, akan dan pasti kembali pada sisi-Nya semata. Dan hari-hari benar-benar aku saksikan setiap kematian yang aku tatap, hari ini yang benar-benar membuat pilu hatiku.

Dengan suasana mengharu biru, segala pasang mata yang sembab, berpasang-pasang tangan berjabat saling menguatkan, rengkuh rangkul pelayat yang memberikan nyawa kehidupan bagi keluarga yang ditinggalkan, tangisan kehilangan yang menyayat hati, lantunan bunyi tarji’ yang terucap dari setiap mulut, serta lantunan doa-doa mendoakan keselamatan bagi yang meninggal.

Aku saksikan hari ini, kematian seseorang yang pernah mengajarkanku menulis dan membaca huruf yang Allah gunakan sebagai tulisan Firman-firmanNya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bukan soal kematian beliau yang aku pikirkan setiap jalan dengan melihat taburan beras kuning dengan bermacam-macam bunga dari rumah duka hingga pemakaman, karena aku tau kematian itu hanya Allah dan malaikat izrail yang mengetahui.

Akan aku ceritakan kenapa aku sangat benar-benar tertegun tak berkata-kata, hanya linangan air mata yang mewakili sejuta kata yang terkunci rapat entah kenapa.

Ketika aku sedang berhadapan dengan beberapa pasang mata memecahkan soal-soal yang hampir memecahkan kepala aku mendapat kabar bahwa guru mengajiku meninggal dunia, dengan perasaan seperti kejut yang setara dengan sengatan listrik aku berdiam tak percaya, bukan maksud mempertanyakan takdir Allah tapi hanya bertanya dalam hati kenapa secepat ini.

Baru 1 bulan yang lalu anak ke-4 beliau lahir di dunia ini, tapi kini, sudah dan harus menyandang gelar anak yatim. Anak pertamanya laki-laki yang aku kenal sebagai murid ngajiku yang taat, sangat penurut, pendiam, manis dan dulunya selalu ikut kemanapun ayahnya pergi. Seorang anak laki-laki yang belum tau apapun itu harus menggantikan kewajiban ayahnya sebagai penjaga ibu dan adik-adiknya yang masih kecil. Dia masih duduk di kelas 5 sekolah dasar, ketika pemberangkatan jenazah ayahnya, tak kuasa aku melihatnya menangis, tapi aku bisa melihat ketegaran di wajah kecil yang lugu itu, aku tegarkan diri untuk tidak menagis tapi akhirnya tak kuasa dan aku sembunyikan tangisku di pundak ayahku.

Lalu adiknya perempuan berlari mendekati ku, aku ajak dia bersalaman, alhamdulillah .. , senyum manis merekah di wajahnya, seperti tak ada kesedihan sama skali. Sesak dada melihat tangis dan senyum dalam upacara pemberangkatan jenazah ayah mereka.

Seperti orang-orang yang bergantian memikul keranda jenazah, seperti itu pula orang-orang bergantian memeluk anak-anak beliau. Semua hanya mampu memandang pilu.

Ketika adzan dikumandangkan, ketika papan kayu ditutupkan, ketika tanah pasir di ratakan, ketika nisan di tancapakan, ketika bunga ditaburkan dan ketika doa terakhir di-amin-kan, yang ada di kedepannya adalah kehidupan yang harus tetap berjalan.

Bagaimana kelanjutan hidup keluarga kecil tanpa kepala keluarga itu?

Bagaimana dengan seorang istri yang ditinggalkannya dengan 4 anak yang masih kecil itu??

Bagaimana dia harus menyambung hidup dengan selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak tau seluk beluk pekerjaan??

Bagaimana dengan anak laki-laki yang terlalu awal diberi Allah kepercayaan menjadi penjaga ibu dan adik-adiknya??

Jawabannya, aku sangat tidak tau. Sedang yang aku tau adalah, Allah tau apa yang terbaik bagi keluarga kecil itu.

Hanya doa yang terhaturkan setulus hati dengan linangan air mata yang tak terbendung lagi.

Dan rasa syukur tak terkirakan dengan bercermin pada kejadian hari ini, syukur kepada Sang Pencipta yang telah dan masih memberiku kesempatan bahagia di pagi aku membuka mata dan malam sebelum aku terlelap dapat melihat senyum bapak dan ibuku.

Suatu nikmat yang tak terbantahkan benar-benar membuatku bahagia walaupun masih dalam derap ujian yang aku tak tau sampai kapan akan berakhir, hanya doa yang terucap dalam setiap sujud untuk kesembuhan ibu. Amin.. amin.. amin.. Ya Robbal’alamin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s