kisah legenda kuliner nusantara

Asal iseng baca-baca pamphlet dan banner-banner di jalan menuju kediri, aku temukan sebuah banner bergambar orang madura membakar sate dengan judul tema besar “Festival Jajanan Bango Nusantara”, sedikit berpikir, ah mungkin tidak di kediri, mana mungkin, lalu aku baca informasinya ternyata benar di kediri, di lapangan yang tidak semua orang tau. Aku lihat informasi selanjutnya akan terselenggara pada hari Sabtu tanggal 28 Mei 2011. Dengan senang lansung aku susun jadwal acara, dan akhirnya. Taraaaa.

festival jajanan Bango

festival jajanan Bango


welcome to Festival Jajanan Bango Nusantara. Sampai di sana suasana sangat crowded, pengunjung seluruh kediri tumpah ruah di sepanjang Jalan Supersemar Ngronggo, Kediri. Pak polisi pun sepertinya hampir kewalahan mengatur lalu lintas karena saking banyaknya orang ada yang melintas ke barat, timur, nyebrang ke utara nyebrang keselatan, rieweh.
Umbul-umbul hijau tua dengan gambar bangao pun berjejer berkibar terterpa angin malam minggu. Sebuah gerbang “dark green glow”
dark green glow

dark green glow


pun menyambut para pengunjung seraya mengucapkan selamat datang. Ketika itu saya dan adik keponakan saya datang sekitar jam 06.30 WIB, dan keramaian pun tak terelakkan lagi. Para pengunjung yang baru datang mencoba merangsek masuk dengan jalan yang berjubel sementara para pengunjung yang telah termanjakan lidahnya pun berjajar berjalan pelan-pelan untuk keluar.

Masuk area festival terdapat pagar yang terjagai dengan bunga-bunga buatan dengan sorot lampu dari bawah yang memperlihatkannya sangat anggun sebagai pengganti pagar ayu pengucap selamat datang. setelah beberapa meter koridor bunga-bunga terdapat sebuah gerbang masuk festival dengan lampu sorot bawah dan lapu ublik kecil pada setiap sudut atap yang terbuat dari dedaunan kering, disebut apa ya?? Damen? Ato klaras, saya lupa. Hehe..

gerbang kampung bango

gerbang kampung bango

Didepan tiang gerbang terdapat replika besar kecap bango dikedua sisi.

replika besar kecap

replika besar kecap

Bawah atap gerbang tertuliskan, Kampung Bango.
Sebelah kiri pintu masuk terdapat suatu stand paling terang dan paling terbesar yang menyajikan asal mula bahan kecap bango, proses pembuatan kecap bango yang dijaga oleh mas mbak yang berpakaian seperti pak petani. Terdapat berkendi-kendi kedelai hitam, gula jawa dari yang kualitas buruk hingga baik, serta mesin-mesin pembuat kecap dan akhirnya menjadi kecap kemasan yang tersampaikan ditangan para ibu-ibu.

sak kedelai hitam

sak kedelai hitam

Disediakan pula tempat peng-visualisasian lewat televisi flat yang menyajikan acara pembuatan kecap dari dasar hingga jadi kemasan. Sebelah tenggara stand terdapat juga tanaman kedelai hitam dari yang mulai masih beberapa hari hingga telah berbiji.

Aku dan adik ku melanjutkan membeli tiket makan yang telah diinformasikan di papan-papan seluruh lapangan. Antrian berjubel dengan segala tangan menyodorkan uang dan mas penjaga tiketnya menyobek karcis dengan gugup yang satunya memberikan kecap-kecap 85 ml. lucu suasananya.

Setelah dapat tiket mulai lah hunting makanan dengan menu makanan dari berpuluh-puluh stand yang berjajar mengelilingi lapangan dengan panggung utama insyaAllah sebelah selatan kalau tidak timur. Kami mulai hunting makanan dari ujung utara sebelah gerbang masuk, banyak yang sudah kehabisan makanan dan kami pun mampir untuk sekedar foto-foto. Dasar narsis!😀

Pertama kami kunjungi stand Rujak cingur Sedati Bu Nuraini Surabaya, sudah habis memang namun lemper dan huleg-huleg besarnya itu yang membuat kami interest untuk mampir. Lemper besar itu diameter kurang lebih satu meter terbuat dari batu asli, hebat!! Gimana bawanya ya bu??

Lanjut ke stand berikutnya kami temukan telur asap di stand aneka masakan tanpa duri khas sidoarjo, dan seterusnya tidak ku perhatikan karena banyaknya orang dan karena habisnya makanan di stand-stand. Dengan segera kami memutuskan untuk mencoba sate, terdapat berbagai pilihan menu sate, sate ayam, sate kambing, sate jamur yang sebagian telah habis. Sate jamur masih tersedia namun antriannya bermeter-meter. Lalu memutuskan untuk memilih soto, ada soto lamongan, soto makasar, soto ayam yang dengan suasana yang sama, deretan panjang orang-orang atau orang-orang berjubel memagari stand.

Pergi ke stand ayam-ayaman, duuh, saya kan alergi ayam! Kami urungkan niat pergi ke stand ayam bakar, ayam panggang, ayam kremes dan lain-lain. Dan karena bertemu dengan temannya teman yang sedang mengantri dan telah dapat baris pertama di stand lontong cinta, kami pun akhirnya memesan lontong cinta. Disediakan tempat makan berpuluh-puluh meja kursi namun tak satu pun ada meja kosong, kalaupun ada meja yang kosong pasti tidak ada kursinya, namun akhirnya kami dapat meja dengan bapak-bapak baik hati yang bersedia berbagi tempat duduknya kepada kami. Hehe..
Dengan rasa juara kami lahap habis lontong cinta yang mantap jaya rasanya, ditutup dengan minuman dari stand sari murni.

Kupon masih satu namun perut telah sangat kenyang dan kami memutuskan untuk membeli dawet ayu dibungkus dibawa pulang. Di panggung utama tersajikan band dengan tema lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara, membuat kami serasa keliling nusantara. Lagit-langit penghubung stand, panggung utama dan tenda makan adalah lampion warna-warni yang meriuh riahkan suasana malam kala itu. Sungguh indah!!

lampion warna-warni

lampion warna-warni

Setelah kenyang dan jam sudah menunjukkan jam 08.00 malam kami pun pulang. Tak lupa kami memotret apapun yang menarik. Suasana yang begitu menyenangkan dengan bebauan makanan yang menggugah selera. Berharap tahun depan ada acara Festival jajanan Bango lagi di kediri. Amiiin.. dan begitulah acara weekend kemarin yang seruu, dan terima kasih buat Kecap Bangoo!!