ketermendadakan memalang..

Keputusan pun terputuskan pagi itu juga, tanggal 31 Desember 2011, jam 05.00 am. Dan saat itu juga aku tanya temanku, Dek kyky, untuk jadi tidaknya ikut bersama ku dan dia pun memutuskan untuk ikut. Aku telpon Stasiun Besar Kediri untuk menanyakan keberangkatan kereta menuju malang, dan waktu terdekat adalah sekitar pukul 08.30 am, dan bila mengambil waktu yang setelahnya akan terlalu malam untuk sampai di malang, serta merta aku bersiap-siap dan bismillahirrohmanirrohim aku berangkat.

Sampai stasiun suasana sudah begitu sangat ramai oleh penumpang dengan tujuan masing-masing, libur panjang tahun baru lah yang menjadi alasan mereka menunggu dari pagi dingin kota Kediri. Dua tiket pun telah terbeli dan aku menunggu teman ku datang yang sedang diperjalanan.

“Ting tung ting tung..”

Nada suara yang menandakan kereta sebentar lagi sampai, namun temanku pun belum sampai, hmmm..bagaimana ini?? Dan akhirnya sejenak setelah itu dia sampai dan sedetik setelah itu pula kereta datang. Hhhh.. bloody hinged for a while.
Para penumpang pun bersiap-siap dan berebutan mencoba merangsek masuk pada pintu kereta yang tingginya hampir setengah meter itu. Orang-orang dengan bawaan yang banyak pun harus bersusah payah mengangkat barang mereka, ada yang di seret ada pula yang di ‘sunggi’ di kepala dan bila tak berhati-hati akan gampang mengenai kepala orang.

Aku dan temanku pun harus berusaha agar mendapat tempat duduk. Adalah suatu hukum dalam peng-kereta-api-ekonomi-an, bahwa ada tidak ada ruang kosong yang boleh kosong. Dan hukum itu berlaku juga saat itu. Tidak ada tempat duduk yang kosong dan tidak ada jeda kosong pun didalam kereta, jalan utama pun menjadi tempat berdiri orang-orang yang tak mendapat tempat duduk seperti aku dan temanku. Namun tenang saja, hukum lain berlaku, bahwa bila kau naik kereta api dengan berdiri maka akan terasa seperti terbang. Namun itu hanya hukum bagi orang-orang yang berusaha menyenangkan dirinya karena harus berdiri sepanjang jalan. Haha..

Beberapa stasiun terlewati dan semaikn lama semakin banyak orang yang naik dan aku dan temanku pun bisa bergeser sedikit ke depan yang tadinya harus membaui bebauan toilet yang masyaAllah baunya. Masih berdiri dan bersenggol-senggolan dengan para pedagang dengan bermacam-macam jajanan yang mereka jajakan. Dan bau-bau keringat pun tak terabaikan lagi, para pedagang dengan leluasanya menyelinap diantara bejubelnya orang-orang. wooooh, exciting!!
Dan akhirnya aku dan temanku mendapatkan tempat duduk namun kami harus berpisah karena masing-masing tempat duduk yang ada berkapasitas hanya untuk dua orang. Aku duduk dengan sebuah keluarga dari jombang yang akan berlibur di rumah neneknya di malang, (jadi iri..) sebelahku adalah seorang anak perempuan yang mempunyai HP sama dengan ku, namanya siapa yaa, lupa saya. Sepanjang jalan kami pun berbincang-bincang, dia menceritakan tentang Jombang, sekolahnya, rumah neneknya hingga bertanya-tanya tentang dimana rumahku, mau kemana aku sampai kisah cintaku, haha..

Adeknya yang kira-kira masih duduk di bangku SD terlihat jenuh karena lamanya berada di kereta, dan ayahnya bilang ini adalah pengalaman pertamanya ke malang naik kereta jadi perasaan yang ada hanya jenuh dan ingin turun. Panas, berjubelan, seringnya berhenti di stasiun-stasiun kecil dan suara-suara pedagang menjajakan dagangannya, orang-orang yang pada bercerita tentang segala yang ingin mereka ceritakan, para pengamen bertato, angin yang bila dating akan disambut dengan gembira, adalah euphoria tersendiri yang ku temukan pada setiap kali naik kereta. Euphoria yang tidak akan ku temui di lain tempat.

Karena aku adalah orang yang sangat memikirkan segala kemungkinan, dan memperhatikan hal-hal kecil jadilah ketika itu aku bawa barang-barang pengusir jenuh untuk perjalanan sekitar 5 jam Kediri-blitar-malang. Aku bawa novel, mainan rubik panjang dan tentunya makanan dan minuman ringan. Aku pinjami adek itu mainan rubik ku dan dia pun memainkannya namun belum bias, hehe.. dan dengan senang hati aku pun mendemonstrasikan kebolehanku memainkan rubik. Haha, PeDe!!
Tak terasa sudah berpuluh-puluh stasiun terlewati, dan masih saja ada yang naik dan kali ini ada seorang lelaki paruh baya yang sudah hilang rambutnya berdiri disebelahku. Karena tau aku bias memainkan rubik beliau pun menunjukkan suatu trik sulap dengan ring dan kalung rantai kecil. Aku pun terkaget-kaget dan beliau mengajariku bagaimana triknya hingga akhirnya aku bisa!!

he showed me that!!

he showed me that!!


Ring diletakkan pada tangan kiri dengan posisi tangan seperti memegang cangkir dan ring diletakkan pada atas datar jari telunjuk dan jempol. Lalu dengan tangan kanan kalung dimasukkan kedalam ring dengan diubetkan sekali lalu tangan kiri dilepas dan ring nya pun akan jatuh dan tidak ter-ubet-kan lagi. Ajaib!!

Keluarga Jombang pun turun di stasiun Kepanjen dan bapak itu tadi duduk disebelahku dan mengenalkan diri dengan nama Pak Sardy. Aku tanyakan siapakah beliau sebenarnya dan dengan bersahaja beliau pun menjawab bahwa beliau hanyalah seorang pedangang mainan di alun-alun Malang. Yang sebelum itu beliau adalah pensiunan sopir bus antar kota. Dan beliau pun cerita bagaimana rasa bahagia menjadi pedagang mainan anak-anak, bahagianya ketika melihat anak-anak gembira mendapat mainan baru, semua itu dilakukannya karena ingin bahagia di masa tuanya. Indah sekali, seperti hidupnya hanya lah untuk memberikan kebahagiaan untuk orang lain.

Sembari bercerita, beliau pun menujukkan permainan sulap lainnya. Dari mulai selembar kertas yang bergambar kubus segienam yang bila kita perhatikan dengan seksama dan dengan mengedipkan mata akan beda hasil visualisasinya. Dan itu benar!! Ada lagi permainan tebak penjumlahan angka dalam pikiran, caranya dengan kita memikirkan angka dan menambahnya, mengurangi, mengalikan dan membagi dan aku pun diberitahu caranya dan aku bisa. Wuuush, great!!

Ada lagi permainan acak huruf. Dengan menata huruf A hingga Z pada kertas kecil-kecil dan kita menunjuk salah satu namun tanpa sepengetahuan Pak Sardy, lalu dijalankan berpindah dari menyamping, menyerong, dibolak-balik dan akhirnya tertebak juga. Bagaimana caranya?? Aku tidak bisa, hehe.

Ada lagi juga permainan korek api, namun karena tidak ada korek api Pak Sardy pun menggunakan pensil untuk memperlihatkan kepada kami. Hanya mengenai tata letak dan memindahkan batang orek api saja dan jumlahnya akan tidak sama dengan korek api awal. Bila tak dipikirkan dengan logika maka akan sedikit bingung.

Malang kota lama.

Pak Sardy pun bilang kami harus bersiap-siap dan ternyata beliau juga turun di Stasiun kota baru. Beliau berpesan kalau ada kesempatan berkunjung ke alun-alun Malang untuk menemui beliau. Dan akhirnya, stasiun kota baru. I’m here love.
Berjalan menuju depan, aku, temanku dan Pak Sardy masih bersama dan lagi-lagi beliau berpesan agar mampir ke alun-alun agar bisa bertemu lagi. Dan salam perpisahan pun terucap. Terima kasih Pak sardy.

2 thoughts on “ketermendadakan memalang..

  1. lha memang panjang ceritanya mas, itu saja belum selesai. hehe..
    selamat membaca..🙂

    oiya mas, koq komment nya lewat email, koq gak lewat blognya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s