“sinkronisasi” mimpi manusia dan bahasa Allah dalam Az Zumar 42

“ … Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya, dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya, maka Dia tahan jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (Az Zumar : 42)

we all have a dream

we all have a dream

“ … Allah memegang jiwa (orang) yang belum mati dalam tidurnya, …”
Adakah ide yang menarik untuk dibicarakan dengan adanya ayat itu?? Jawaban saya adalah, ada. Apakah itu?? Hanya satu kata saja yang tergambar dibenak saya, yaitu mimpi.
Mimpi disini bukan lah mimpi tentang cita-cita dan keinginan namun lebih pada mimpi yang terjadi disaat terlelap.
Mendapati diri dalam hari-hari dengan mimpi-mimpi yang kadang diluar nalar pikir manusia, mimpi-mimpi yang berulang-ulang bahkan ada pula yang berkelanjutan, mimpi-mimpi yang kadang membawa ke tempat-tempat asing hingga tempat yang dikenal sangat baik, dan bermacam-macam lagi bentuk dari mimpi yang sebagian besar mustahil bila terjadikan di alam kehidupan nyata.
Terjebak dalam pikir tentang suatu mimpi yang menyesakkan hati muncul lah keinginan untuk mempelajari tentang apa itu mimpi dan Allah menunjukkan salah satu ayatnya yang ini.

Dari buku yang pernah saya baca, definisi mimpi menurut psikolog Freud (aslinya saya lupa), bahwa mimpi merupakan penghubung antara kondisi bangun dan kondisi tidur.
Mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang untuk diungkapkan ketika manusia dalam keadaan terjaga.
Dalam teori psikoanalisisnya, Freud membagi struktur kepribadian menjadi ID, EGO dan SUPEREGO.

ID adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan linibal dimana, sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan, pleasure principle.

EGO adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia untuk mengatur dorongan-dorongan ID agar tidak melanggar nilai-nilai superego.

Sedangkan SUPEREGO adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak sesuatu dilakukan oleh dorongan ego.

Setiap saat, ego harus menjadi hakim atas pertarungan antara id dan superego. Dan sering kali id mengalami kekalahan, sebab itu hasrat-hasrat atau keinginan-keinginan terlarang yang terendam ketika manusia dalam kondisi bangun akan terwujud dalam mimpi ditidurnya.
Mimpi adalah tempat hasrat-hasrat utama menampilkan dirinya. Ketidakberaturan dalam mimpi adalah hasil dari pergulatan memperebutkan dominasi antara ego dan id.
Itulah sebab ilmiah mengapa mimpi-mimpi yang terjadikan selalu diluar nalar manusia.

“ … dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.”
Dalam Al-Qur’an terdapat footnote pada akhir ayat tersebut. Menjelaskan maksud tentang waktu yang ditentukan, maksudnya, orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya, dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepas sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Dalam tidur, Allah melepaskan roh manusia dan bila terbangun maka akan kembali lagi pada raganya. Pertanyaan saya, lalu kemana perginya roh ketika Allah melepaskannya ketika seseorang tertidur? Perginya roh tentu menuju alam mimpi, namun kejadian didalamnya itu yang tidak diketahui dan berganti pada setiap tidurnya.
Dalam mimpi dapat manusia menjadi siapa saja, menjadi apa saja, pergi kemana saja sesukanya.
Saya jadi teringat dengan ssebuah film yang meimplementasikan tentang mimpi. Inception. Film yang membahas tentang membangun mimpi dalam mimpi dan mencuri alam bawah sadar orang lain. Ketika berada dalam mimpi, manusia bisa menjadi pencipta yang hebat dan bisa mencipta apa saja yang kita kehendaki yang tidak dapat terjadi dalam kehidupan nyata.
Memang banyak perdebatan tentang film ini namun ambil saja pelajaran darinya.

Dari apa yang telah saya tuliskan dan saya baca, definisi mimpi menurut saya bahwa mimpi yang teralami adalah realita yang teringkari.
“Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”
Mari bersama-sama membuka pikiran untuk berpikir seperti yang Allah telah jelaskan pada kita dalam Kitab-Nya dan membumikan Al-Qur’an dengan cara yang paling disukai.
Wallahu’alam..

3 thoughts on ““sinkronisasi” mimpi manusia dan bahasa Allah dalam Az Zumar 42

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s