“KISS” Sukses Sebelum Lulus Kuliah

Satu kesempatan lagi oleh Allah diberikan kepadaku untuk bertemu dengan hamba-hamba Allah yang meniti jalan dakwah keridhoan-Nya dalam acara Kajian Islam Sabtu Sore (KISS).
Pada awalnya dapat kabar saya dari seorang kawan akhwat yang saya kenal dari suatu kajian islam sebelumnya. Kabarnya pun terkesan mendadak, untuk saya, karena jadwal yang telah terjadwal sepertinya tidak dapat diganggu gugat menjadikan kesempatan untuk mengikutinya hanya seberapa persen saja. Namun, akhirnya dengan segala kemudahan dari-Nya, I’m attending it! Yes!

Bertempat di Mahesa Institute, Kajian Islam Sabtu Sore di gelar dengan menyusung tema tentang judul “Sukses sebelum lulus kuliah” yang disampaikan oleh Ustadz Cecep Jamaludin, pemateri alumnus dari Universitas Al-Azhar, Cairo.

Because I’m late, I miss the introduction, so let’s keep moving on the point.

Dalam KISS yang telah teradakan ini, materi yang dibahas adalah seputar menjadi pribadi yang sukses dalam akademis, emosional, spiritual, finansial sebelum lulus kuliah. Namun pada KISS kali ini lebih ditekankan pada pengertian sejati tentang sukses dan prosesnya.

Ustadz cecep memaparkan bahwa, makna sukses tidaklah sempit pada pengertian sukses pada dunia saja, namun ada pengertian sukses yang paling hakiki, ialah sukses dunia dan sukses akhirat.

Banyak pandangan-pandangan yang menjelaskan definisi dari sukses sendiri.

Pandangan orang barat yang terwakili pada kamus besar Oxford terhadap definisi sukses adalah,
Success is achievement of your aims, wealth, etc. Or, success is person or thing that succeeds.
Once more, success is achieve what you are trying to achieve or do well in your job.

Yang pada intinya, sukses adalah mencapai sesuatu yang diinginkan.

Bila dilihat dari pandangan “Al-Qur’an”. Allah mem-Firman-kan pada surat Al-Mu’min ayat 8, yang terjemahannya sebagai berikut,
“Ya Tuhan kami, dan masukkan mereka kedalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh diantara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Mu’min : 8 )
Secara garis besar, orang yang sukses ialah orang yang mewarisi surganya Allah.

Dalam surat lain, surat Al Qashash ayat 5, Allah berfiman,
“Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.” (Al Qashash : 5)
Yang pada garis tebalnya, mencari karunia Allah untuk mencapai sukses dalam pandangan Allah.

Target yang paling sejati adalah, memang, sukses di akhirat namun dengan tetap menghidupkan hidup kita di dunia dan tidak melupakan kewajiban-kewajiban dunia agar dapat seimbang antara sukses dunia dan akhirat. Namun pada jalan pada sukses dunia hingga sukses akhirat terdapat serentang jeda masa yang disebut PROSES. Proses yang terjalani pun tidaklah secara langsung dapat didapat sukses yang diinginkan, akan tetapi sebenarnya dalam proses itulah kesuksesan itu dimulai dan didapat.
Pada saat menjalani suatuproses hidup, ada kalanya dan mungkin bias dibilang pasti menemui sutu kejenuhan, kebosanan, dan bahkan ke-putus-asa-an. Naudzubillah!
Maka dari itu dalam menjalani proses diperlukan rasa sabar dan juga kokoh dalam kesabaran dan taqwa kepada Allah.
Sabar dalam hal apapun adalah kunci sukses.

Dikisahkan suatu kisah dari Ibnu Shihab Az-Zuhri yang dalam beliau menjalani proses menuju sukses, beliau lakukan dengan rasa sabar yang luar biasa. Beliau adalah seorang ulama yang telah menghafalkan banyak sekali hadist-hadist Nabi. Metode belajar hadist setelah sholat isya’ hingga sholat subuh tiba. Karenyanya ribuan hadist pun telah beliau hafalkan. Subhanallah! Mampukah kita?? The big question for us!

Dikisahkan kisah hebat lainnya dalam kegigihan dan kesabaran hati yang mendalam dalam mencari ilmu dijalan keridhoan-Nya untuk kesuksesan dunia dan akhiratnya.
Seorang ulama besar, Imam Maliki, guru dari Iman Syafi’i, Abu Hanifah (Imam Hanafi). Metode menjalani proses yang beliau gunakan dalam belajar dan menuntut ilmu adalah beliau menggunakan wudhunya sholat isya’ untuk sholat subuh. Subhanallah! Itu artinya beliau dari setelah sholat isya’ hingga sholat subuh tiba, tidak tidur dan tidak melakukan hal-hal yang sia-sia yang dapat membatalkan wudhunya dan menggunakan waktu tidurnya hanya untuk belajar, belajar dan belajar. Besar karunia Allah yang atas beliau, Imam Maliki.

Terkisah, Imam Ahmad Ibnu Jauzi. “Saya mencari ilmu sampai saya masuk pada liang kubur”. Itulah ikrar beliau dalam menuntut ilmu. Walaupun telah bergelar doktor tetap mencari ilmu dan bila tidak mencari ilmu adalah disebut orang yang sombong.

Terceritakan lain, Imam Syafi’i, seorang ulama besar pemilik mahzab Imam Syafi’i yang tidak diragukan lagi kemampuannya berbahasa arab, namun beliau mempelajari bahasa arab lebih dari 20 tahun. Belajar dengan ketawadu’an.
Wasiat Imam Syafi’i bagi para pencari ilmu, orang yang mencari Ilmu dengan kekuasaan dan kesombongan tidak akan berhasil namun orang yang mencari ilmu dengan kesulitan dalam hidupnya dan khitmah kepada para ulama itulah yang akan sukses.

Ibnu katsir dalam kitabnya menceritakan kisah Imam Bukhari dalam menjalani proses suksesnya, “Imam bukhari dalam suatu malam bangun, menyalakan lampu dan menulis, lalu beliau matikan lampu lalu tidur, lalu beliau bangun lagi, menyalakan lampu dan menulis, lalu beliau matikan lagi lampunya, begitu seterusnya hingga 20 kali bangun dan akhirnya subuh pun tiba”
Subhanallah! Begitu gigihnya beliau dalam mencapai kesuksesan, dan dalam beliau tidur itu bukanlah untuk tidur namun mencari inspirasi untuk yang akan beliau tuliskan pada karyanya. Bagimana dengan kita? masyaAllah..

Diceritakan juga, Imam aththobari, setiap malamnya beliau tidur pada bawari (tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma) agar tidak nyenyak tidurnya dan dapat terus belajar menghafalkan hadist. Begitu niatnya beliau menuntut ilmu, bertanya lagi saya, bagimana lalu niat kita??

Sebuah pesan dari ibnu Hisyam, barang siapa yang sabar untuk mendapat ilmu dia akan mendapat kesuksesan.

Begitulah kurang lebih materi yang disampaikan oleh ustadz Cecep, setelah materi selesai disampaikan, sesi Tanya jawab pun dipersilakan.

Pertanyaan pertama, “Setiap orang pasti sangat terobsesi dengan kesuksesan dan bila sukses telah tercapai kebanyakan orang selalu lupa daratan, bagimana kita sebagai seorang pelajar menyikapi hal seperti itu?”
Ustadz Cecep menjawab, “kita harus selalu ingat bahwa sukses itu datangnya dari Allah dan cara kita mensyukurinya adalah dengan banyak berdzikir kepadanya.”

Pertanyaan kedua, “Sebagian besar orang mendefinisikan sukses itu adalah mempunyai uang banyak, terkenal dan kaya. Itu adalah pemahaman orang-orang tentang sukses, lalu bagaimana cara mengubah pandangan orang tentang sukses dan contoh konkret apa dari kegigihan orang dalam mencapai kesuksesan diluar prang-orang hebat yang telah tersebutkan?”
Ustadz menjawab, “memang benar, kesuksesan menurut kebanyakan orang adalah pandangan dunia saja, seperti kekayaan dan ketenaran, itu mereka sebut dengan sukses. Paradigma ini telah menyebar keseluruh lapisan masyarakat, dan cara mengubahnya adalah dengan kita menyampaikannya dalam dakwah. Memahamkan tanpa menyerah dan istiqomah atau terus menerus. Itulah tugas bagi para pemuda-pemuda islam seperti kalian.”

Kesimpulan dari tema yang tersampaikan oleh Ustadz Cecep jamaludin.
Berprestasi dan berdakwah adalah kewajiban bagi para penuntut ilmu, keduanya harus seimbang, karena orang yang berprestasi belum tentu dapat berdakwah, dan orang yang berdakwah belum tentu berprestasi, keduanya harus berjalan beriringan.
Semangat dalam menuntut ilmu harus tetap ada, mempertahankan semangat dengan mengambil pelajaran dari kegagalan, dan ingat akan orang tua. Bagiamana perasaan orang tua kita bila kita tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Bersabar dengan apa yang dilakukan.
Kalau kita tidak disibukkan dengan hal yang besar maka kita akan disibukkan dengan hal yang kecil.
Hati-hati dengan kemalasan karena usia rata-rata manusia hidup menurut Rasulullah adalah 60an tahun, sedikit sekali waktu kita didunia ini. Tinggalkan kata-kata “nanti” karena itu adalah penyakit yang perlahan-lahan melumpuhkan!!

Alhamdulillah, dengan segala kekurangan diri, materi yang saya dapatkan dalam KISS bisa saya sampaikan walaupun tidak bisa seluruhnya seperti yang disampaikan oleh Ustadz Cecep Jamaludin secara lansung karena terbatasnya kesempatan untuk tinta menggores dan terbatasnya pikir untuk mengingat. Bismillahirrohmanirrohim, semoga bermanfaat..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s