“sinkronisasi” ayat-ayat Al-Qur’an dan fakta Kematian

Terpikir oleh saya suatu pemikiran tentang kematian, dengan menemui beberapa kejadian kematian dari beberapa orang terdekat yang tak disangka-sangka dan dengan waktu yang sangat cepat yang hingga saat ini pun belum dapat aku yakini bahwa kematian telah memisahkan dunia kami.
Dan saya temukan ayat ini dalam tadabbur saya dalam mengulang membaca ayat-ayatnya seiring dengan datangnya bulan suci Ramadhan.

“ Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Al-Baqarah : 28)

Allah telah menjelaskan dalam Kitab-Nya, bahwa manusia pada awalnya adalah mati dan Allah menghidupkannya di dunia, lalu Allah mematikannya lagi hingga dihidupkan kembali yang dalam hal ini didefinisikan sebagai hari berbangkit.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Ali ‘imran : 145)

Dan ketika tanya masih besar dalam diri, saya temukan artikel yang hebat ini dalam Republika, bahwa, Kematian adalah sebagai salah satu dari fenomena kehidupan yang biasa terlihat di tengah-tengah kita, telah membuat ‘bingung’ para ahli biologi. Mereka dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi telah berusaha untuk menemukan hakikat dari kematian ini.

Namun kematian tetap saja, sebagai sebuah misteri, sangat sulit untuk dipahami apalagi dihindari. Kemampuan manusia tidak akan dapat mengetahui hakikatnya, karena keterbatasan kemampuan, sesuai yang diberikan Allah.
Pada masa silam, manusia umumnya meyakini bahwa kematian merupakan fenomena umum yang terjadi dan berhubungan dengan tubuh manusia, di mana tubuhnya mengalami suatu proses kehilangan fungsi kehidupannya. Namun dengan kemajuan ilmu biologi, mereka mendapatkan kesimpulan bahwa kematian, ternyata melancarkan serangan yang menyebabkan sel-sel tubuh mati dan kehilangan fungsinya.

Kematian sel-sel ini dimulai dengan kerusakan dan kematian zat-zat yang terdapat dalam sel, akibat serangan mikroba dari luar tubuh sel, yang tidak dapat dilawan oleh antibodi yang dimilikinya. Dalam keadaan ini, kematian mengakibatkan perubahan yang terjadi pada fungsi dan kemampuan struktural yang dimiliki sel-sel hidup yang terdapat pada tubuh. Perubahan ini dapat langsung dirasakan oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan kematiannya. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa sel hidup yang terdapat dalam tubuh kita dapat merasakan ‘kematian’ ini.

“Tiap-tiap yang berjiwa (hidup) pasti akan merasakan maut.” (Ali Imran : 185)

(lihat ayat ini pada versi bahasa arab untuk lebih jelasnya dalam penjelasan) Ungkapan Alquran yang menggabungkan makna dari kata ‘nafsun’ dengan makna dari kata ‘dza-iqotul maut’, menggambarkan hubungan antara apa yang dirasakan oleh ‘nafsun’ tersebut dengan ‘kematian’. Dan cara pengungkapan yang memilih penggunaan kata subyek ‘dzaa-iq’ yang berasal dari kata ‘dzaaqa’, dan tidak menggunakan kata subyek ‘mutadzawwiq’ yang berasal dari kata ‘tadzawwaqa’ menggambarkan bahwa kematian pada mulanya, menimpa bagian dalam sel-sel tubuh, bukan bagian luarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari hasil analisa sel yang membuktikan terdapatnya semacam ‘kesiapan sel untuk mati’ atau apa yang dapat kita sebut sebagai ‘batasan waktu kematian’ (al-miiqaat az-zamani lil maut).

Di mana, sejak terciptanya suatu gen dari suatu sel tertentu, sesungguhnya setiap sel telah memiliki sketsa yang mengatur kehidupan dan fungsinya, serta batasan waktu berakhirnya fungsi sel tersebut atau kematiannya. Sebagai buktinya, adalah kematian sebagian sel tubuh sebelum datangnya serangan mikroba yang menyebabkan kematiannya. Hal ini sebagaimana isyarat yang diberikan Alquran.

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (Yunus : 49)

Tentang waktu tertentu bagi kematian sel-sel hidup, juga dijelaskan dalam Firman Allah SWT. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (ar-Ra’d : 38).

Kemudian, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kematian terkadang datang secara tiba-tiba tanpa didahului proses perubahan biologis.
Mengenai hal ini, jika kita mau melihat ke dalam Alquran, maka kita akan mendapatkan petunjuk mengenai kematian yang datang dengan tiba-tiba, yang menceritakan tentang peristiwa yang terjadi pada seseorang hamba Allah yang saleh. Allah SWT berfirman:

“Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tingal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah : 259
)

(lihat ayat ini pada versi bahasa arab untuk lebih jelasnya dalam penjelasan) Pengungkapan Alquran dengan menggunaka huruf ‘fa’ dalam firman-Nya: “Fa amaatahullah” yang artinya: “Maka Allah mematikan orang itu”, menggambarkan kejadian maut yang tiba-tiba yang menyebabkan terhentinya kehidupan di bagian dalam sel-sel tubuh.
Namun kematian sel-sel ini, tidak berarti hancurnya sel-sel tersebut, karena melalui proses pemeliharaan (pembekuaan) sel-sel ini, kehancurannya dapat dihindari. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh bagian ayat di atas yaitu: “Saya telah tingal di sini sehari atau setengah hari.”

Dugaan di atas (dari hamba yang sholeh itu) yang menyatakan bahwa dirinya telah tinggal di negrei itu sehari atau setengah hari, didasarkan pada apa yang dilihatnya dari kondisi fisiknya yang belem berubah dan tidak adanya kerusakan pada sel atau organ tubuhnya.

Hal ini menjelaskan bahwa sel-sel tubuh meskipun telah mati, bisa tetap dijaga sesuai keadaannya semula, jika dihindarkan dari sebab-sebab yang bisa mengakibatkan kehancurannya (misalnya, dibalsem). Dan proses ini, pada masa sekarang, bisa dilakukan oleh para ilmuwan dengan bantuan sains dan teknologi di bidang biologi yang telah berkembang pesat.

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, ….” (Al Waqi’ah : 60)

Artikel yang sangat menarik dan tepat untuk dibagikan, dan teringatlah saya akan suatu fakta yang mengejutkan tentang jiwa orang yang meninggal, yang tertuang dalam Novel fenomenal The Lost symbol yang menuangkan cerita dengan durasi 7 jam saja ke dalam 705 halaman. Yang saya tuliskan summary ceritanya yang mendebarkan tentang seorang tokoh dalam Novel ini, Katherine Solomon, yang menghitung jiwa manusia, walaupun nilai kebenaran dari cerita itu masih belum saya temukan penjelasannya dalam Al-Qur’an, tapi sekedar untuk berbagi sesuatu yang menurut saya sebuah pemikiran yang sangat irrasional namun hebat.

Bermula dari pemikiran Katherine yang didasarkan pada Ilmu Noetic dengan temuannya yang paling mengejutkan, dan hasil-hasilnya berpotensi mendefinisikan kembali cara manusia memandang kematian.

Katherine Solomon sering bertanya-tanya adakah kehidupan setelah kematian. Adakah surga? Apa yang terjadi ketika kita mati? Ketika dia semakin dewasa, studi-studinya dalam ilmu pengetahuan segera menghapuskan segala gagasan tidak masuk akal mengenai surga, neraka atau kehidupan di alam baka. Dia mulai menganggap konsep “kehidupan setelah kematian” sebagai gagasan manusia … dongeng yang dirancang untuk memperlunak kebenaran mengerikan berupa kefanaan kita.

Katherine dan kakaknya, Peter Solomon, mendiskusikan salah satu pertanyaan yang terus bertahan dalam filsafat, yaitu keberadaan jiwa manusia, khususnya pertanyaan mengenai apakah manusia memiliki semacam kesadaran yang mampu bertahan di luar tubuh.
Mereka berdua merasa bahwa jiwa manusia yang semacam itu mungkin memang ada.

Sebagian besar filsafat kuno mengiyakan. Kebijakan Budha dan Brahmana mendukung metempsikosis-perpindahan jiwa ke dalam tubuh baru setelah kematian; pengikut Plato mendefinisikan tubuh sebagai “penjara”, dan dari sana, jiwa meloloskan diri; Stoic, sebuah kelompok filosof Yunaninkuno, menyebut jiwa sebagai apospasma tou theu-“partikel Tuhan”- dan percaya bahwa jiwa dipanggil kembali oleh Tuhan disaat kematian .

Katherine pun memperhatikan bahwa keberadaan jiwa manusia mungkin suatu konsep yang tidak akan pernah bisa dibuktikan secara ilmiah. Mengonfirmasi bahwa kesadaran bisa bertahan di luar tubuh manusia setelah kematian sama saja dengan mengembuskan segumpal asap dan berharap bisa menemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Kakaknya menyebut Kitab Kejadian dan penjelasannya mengenai jiwa sebagai Neshemah-semacam “kecerdasan” spiritual yang terpisah dari tubuh. Terpikir oleh Katherine bahwa kata kecerdasan menunjukkan adanya pikiran, Ilmu Noetic jelas menyatakan manusia kemungkinan juga punya massa.
Bisakah aku menimbang jiwa manusia?
Gagasan itu tentu saja mustahil … bahkan konyol untuk dipikirkan.
Katherine, dalam laboratoriumnya membuat sebuah mesin yang memang sedikit menyerupai inkubator trasparan untuk bayi prematur, akan tetapi mesin ini berukuran dewasa-kapsul plastik bening panjang, kedap udara, seperti semacam kapsul tidur futuristis. Mesin itu diletakkan di atas sebuah peralatan elektronik besar. Dengan layar digital pada mesin, dan ketika dikalibrasi dengan beberapa angka. 0.0000000000 kg. Suatu timbangan-mikro presisi-tinggi dengan resolusi sampai beberapa mikrogram saja.

Ketika dicoba memasukkan kertas kecil di atas kapsul, angka-angka pada layar berubah menunjukkan serangkaian angka baru, 0.0008194325 kg.

Dan timbangan tersebut akan digunakan untuk menimbang jiwa manusia dengan meletakkan seseorang ke dalam kapsul dan merapatkan tutupnya. Individu itu akan berada dalam sebuah sistem yang tertutup rapat seluruhnya. Tak ada yang masuk atau keluar. Tak ada gas, cairan, partikel-partikel debu. Tak ada yang bisa lolos-bahkan embusan-embusan napas, keringat yang menguap, cairan-cairan tubuh. Dan dengan waktu kira-kira 6 menit yang tentunya tergantung kecepatan bernapasnya, individu tersebut akan mati.

Katherine pun mencoba alat tersebut pada seorang lekaki yang ingin menyumbangkan dirinya untuk ilmu pengetahuan. Dengan berat 51,4534644 kg, selama enam puluh detik napasnya telah tersengal-sengal dan akhirnya dia menghela napas terakhir. Beberapa saat setelah kematian lelaki itu, angka-angka pada timbangan mendadak berkurang. Lelaki itu lansung menjadi lebih ringan setelah kematiannya. Perubahan bobotnya kecil sekali, tapi bisa diukur … dan implikasi-implikasinya benar-benar membingungkan. Tampaknya ada ‘materi’ tak terlihat yang keluar dari tubuh manusia pada saat kematiannya. Materi itu punya bobot yang bisa dikuantifikasi, dan tak terhalang oleh penghalang-penghalang fisik. Diasumsikan bahwa materi itu bergerak dalam suatu dimensi yang tak diketahui.

Hebat bukan, itulah Ilmu Noetic (Noetic Science), suatu ilmu menggunakan metode scientifik untuk menjelajahi “inner cosmos” atau kosmos didalam pikiran manusia (kesadaran, jiwa, spirit) dan bagaimana hal tersebut berhubungan dengan “outer kosmos” yaitu dunia fisik luar pikiran. Dengan kata lain, ilmu ini mempelajari bagaimana seseorang menjadi sadar akan pengalaman atau kemampuan (intuisi, komunikasi dengan jiwa, energy healing, dll) yang nampaknya secara rasional tidak dapat dijelaskan.

Terpulang dalam segala fakta yang tersajikan, kematian seorang hamba Allah adalah hanya Allah yang mengetahui, dimana pun, kapan pun tak ada yang dapat mengetahui. Dan seorang hamba itu akan mati dalam keadaan yang paling sering dilakukan saat hidup, hingga akhir hidup itu adalah ditentukan saat kita menjalaninya. Wallahu’alam.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, …” (An Nisaa’ : 78)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s