dan, aku bangga menjadi putrimu..

Ya Allah, terima kasih atas terjadinya hari ini dengan tetap Kau embuskan nafas kehidupan ini. Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku ingin mengucap syukur atas anugerah-Mu yang tak pernah berhenti selalu datang kepadaku, bahwa, hari ini, tepat pada tanggal ini, Engkau telah menggenapkan angka usia ayahku yang ke-75. Subhanallah.. Alhamdulillah..

Tak ku sangka, telah begitu lama sudah ayah menjalani hidupnya yang sebagian besar tak pernah mudah, segala situasi telah hampir segalanya terjalani dengan heningnya doa setiap doa yang dipanjatkan.

Tidak bisa, tidak akan bisa, walau menggunakan segala macam bahasa di dunia, maka akan tetap tak bisa mendefinisikan sosok ayah ku di mata ku. Bahwa ayah adalah segalanya untuk ku.

Tak pernah selama ini, sekali pun, meninggikan suaranya, nada marah dalam katanya, menggunakan tangan dalam cara mengajariku ketika aku nakal. Wishful, itulah beliau.

Ayahku, penasehat spiritualku. Yang dulu mengajariku segala yang ibu tidak ajarkan kepada ku. Ayah lah yang dengan sisi religius nya, mengajari ku cara sholat, membenarkan aku dalam mengaji dari iqra’ hingga Al-Qur’an, mengajariku mencintai Rasul-Nya dengan nyanyian Cinta Rasul, meluruskan cara berwudhu yang sempurna, membiasakan ku mendirikan sholat malam dengan menuntunku berwudhu ke kamar mandi dengan tak jarang harus menggendong ku ketika mata ku tak mau membuka dengan sempurna, menceritakan segala kisah para teladan hingga dongeng pengantar tidur.

Ayah ku, perintis langkahku. Yang ketika dulu mengajariku meniti langkah pertama dengan pegangan dari bambunya, menuntunku dapat menaiki sepeda dengan pegangan kayu sebagai penyeimbang jalannya sepedaku, yang memberiku kepercayaan bahwa aku tidak akan jatuh dan bila pun akan jatuh beliau telah siap menolong dengan pegangan kayu nya.

Ayah ku, belahan jiwa ku. Yang karena begitu dekatnya aku dengan nya, hingga kemana pun ayah pergi aku selalu ikut dan bila sekelebat saja aku ditinggal maka menangislah aku sejadi-jadinya. Aku ikut kemana pun ayah pergi, dengan sepeda onthel nya, dengan tali selendang yang mengikat kaki ku di pergelangan leher sepeda yang membawa ku kemana pun. Ke sawah, ke sungai, melintasi desa-desa, kemana pun. Dengan tali selendang di kaki.

Ayah ku, sahabat sejatiku. Sesuatu yang selalu kuingat, pernah suatu ketika, ketika aku tidak bisa di ‘tilap’ ketika ayah akan pergi tahlilan di rumah seorang tetangga, maka, jadilah aku ikut ayah tahlilan hingga seorang tetangga yang masih kusebut paman memakai kan ku songkoknya.

Ayah ku, pengabul segala keinginan ku. Yang telah membuatkan ku segala yang aku minta, dari rumah kecil dalam laci almari untuk boneka kitty ku hingga boneka barbie ku. Yang telah membuatkan ku mobil-mobilan pengangkut pasir, pedang-pedangan dari kayu, kompor-komporan untuk masak-masakan hingga rumah bambu tempatku menyewakan buku-buku yang kusebut perpustakaan kecil dengan uang sewa Rp. 100,- setiap bukunya kala itu.

Ayah ku, pemberi warna dalam hidupku. Yang membuat masa kecilku terasa lengkap dan penuh makna, yang selalu mengabulkan semua hal yang ku inginkan dengan imajinasi masa kecilku yang serba tak masuk akal.

Ayah ku, guru ilmu pastiku, yang mengajariku mencintai pelajaran sains, dengan beliau yang pernah menjadi guru matematika, telah mengubah cara pandang ku terhadap matematika, bahwa pada dasarnya matematika hanya lah kumpulan dari 10 angka saja dengan hanya mengubah letak serta pengoperasiannya. Begitu saja, begitu sederhana.

Ayah ku, ayah paling sabar sedunia. Yang selalu berdiri di gerbang sekolah, yang ketika kali pertama masuk sekolah dasar tidak mau sedikit pun aku kehilangan sosoknya. Yang namanya pun selalu ada dalam buku rapor ku dalam setiap tri wulan nya, dan ayah lah orang yang selalu ku tunggu untuk mengetahui peringkatku.

Ayah ku, yang dalam diamnya menyimpan sejuta doa. Yang pada setiap ulang tahunnya yang aku jumpai selalu berkata, “Rata-rata jatah umur’e menungso miturut Nabi Muhammad kui 60 an tahun, mbah kung lan mbah putri mu yo semono ugo. Alhamdulillah, Gusti Alloh maringi aku jatah umur luweh, kudu panggah disyukuri.”

Selamat Ulang Tahun Ayah ku..

Shofwan bin Abdul Wahab.

Segala doa ku adalah tertuju padamu. InsyaAllah, Allah menjadikan kebarakahan dalam setiap mikro mili detik kehidupan yang ayah jalani, dahulu, sekarang, besok dan selamanya.

Dan, aku bangga menjadi putri ayahku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s