“inspirations” Bu Ainun, Sang mata yang indah..

Hasri Ainun Habibie, adalah merupakan inspirasi terbesar bagi saya. Kehidupannya memberikan keteladanan dan inspirasi sebagai “guru kehidupan” yang berharga dan bermakna untuk dipetik sari-patinya. Beliau adalah,The first lady of Indonesia ke 3 . Seorang istri dari orang paling hebat dari yang pernah dimiliki oleh indonesia. Seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan jiwa orang banyak dengan konsentrasinya pada mata. Seorang ibu yang dapat menyeimbangkan kehidupan dalam keluarga.

“Ainun selalu hadir memberikan keseimbangan dan menciptakan harmoni dalam kehidupan keluarga kami, dengan kerendahan hati untuk memberi suaminya selalu berjalan di depan, seperti ungkapannya: the big you and the small I. Lebih dari itu, dalam pribadi Ainun yang selalu memancarkan keteduhan, ketulusan, kesenduhan, dengan “mata yang indah” memukau, jadi penuntun biduk rumah tangga kami bagaikan sebuah lagu yang nada, ritme dan syairnya, sudah diorkestra sedemikian rupa sehingga selalu harmonis.” (Habibie & Ainun : X-XI)

Begitulah penggambaran sempurna yang Pak Habibie gambarkan dalam sosok bu Ainun, yang telah mendampingi dan berbagi derita dan bahagia selama 48 tahun 10 hari. Tentu bukan merupakan waktu yang singkat kebersamaan mereka, namun waktu ternyata juga merupakan suatu kenisbian.

Akan saya tuliskan disini, biography Bu Ainun yang saya ambil literaturnya dari berbagai macam situs dan buku Habibie & Ainun.

Bu Ainun Habibie

Bu Ainun Habibie

Hasri Ainun Besari adalah anak keempat dari delapan bersaudara putra dari H.Mohammad Besari, Arti dari nama Hasri Ainun berarti “Mata yang Indah”
Bu Ainun lahir di Semarang, 11 Agustus 1937. Beliau merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara keluarga H Mohammad Besari yang beralamat di Jalan Rangga Malela 11 B, Bandung.
Bu Ainun kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia.
Bu Ainun pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto mangunkusumo, Jakarta. Tinggalnya saat itu di Asrama Wanita Belakang RSCM di Jalan Kimia.

Pada tanggal 7 Maret 1962, Bu Ainun bertemu kembali dengan Pak Habibie yang lebih dari 7 tahun tidak pernah bertemu. Reaksi spontan Pak Habibie ketika itu adalah, “Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!” padahal, mengingat 7 tahun lalu Pak Habibie pernah mengatakan pada Bu Ainun, “He ainun, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam?”. Kejadian demi kejadian pun terjadi antara mereka hingga semenjak saat itu secara batin tidak terpisahkan satu sama lain.
Dan akhirnya mereka menikah pada tanggal 12 Mei 1962, secara adat dan budaya Gorontalo dan juga adat Jawa. Setelah resepsi selesai mereka pun menyekar ke makam ayah dari Pak Habibie di Makassar, dan melanjutkan bulan madu di Kaliurang Jogja dan Bali.
Dan setelahnya mereka tinggal di Aachen lalu pindah ke Oberforstbach, Jerman. Pak habibie ketika itu bekerja di Kantor Institut Konstruksi Ringan atau ‘Lehrstul und Institut fur Leichbau’ dan Perusahaan Talbot. Dari pernikahannya itu, Pak Habibie dan Bu Ainun dikaruniai dua orang anak, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Penuturan Bu Ainun yang dicatat pada buku A. Makmur Makka, yang ditulis ulang pada Novel Habibie & Ainun.
“Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik mengatur menu makanan murah tapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman, pendeknya semuanya yang harus dilakukan agar suami dapat memusatkan perhatiannya pada tugas-tugasnya. Saya belajar tidak menganggu konsentrasinya dengan persoalan-persoalan rumah.”
“Dan ternyata hidup pas-pasan begitu ada kebahagiaannya tersendiri : kami bertiga semakin erat. Erat dalam perasaan, erat dalam pikiran. Kami bersua suami-isteri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara semacam telepati. Tanpa diberitahu sebelumnya, seringkali karena tidak sempat, kami masing-masing dengan sendirinya melakukan tepat sesuatu yang diinginkan lainnya. Saya membuat masakan yang persis saya butuhkan tetapi lupa untuk menitipkan padanya sewaktu berangkat pagi. Hidup berat tapi manis.”
“Saya bahagia malam-malam hari berdua di kamar : dia sibuk diantara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur, saya menjahit, membaca atau berbuat lainnya. Saya terharu melihat ia pun banyak membantu tanpa diminta : mencuci piring, mencuci popok bayi yang ada isinya.”
(Habibie & Ainun : 38)

Ainun tidak pernah menganggu pekerjaan saya, kecuali jika tidak dapat menyelesaikan persoalan dan membutuhkan pendapat dan nasehat.
Ainun biasanya bekerja mandiri, konsisten, kuat, religius, pejuang, merakyat, berusaha belajar dari proses membangun keluarganya menjadi keluarga sakinah yang berakar pada nilai agama dan nilai budaya yang dikalbui oleh cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi, tulus dan ikhlas. ( Habibie & Ainun : 64-65)

“Memang: tuntutannya banyak. Terhadap isteri. Terhadap anak. Terhadap anak buahnya. Ia ingin mencapai yang setinggi-tingginya. Dia memberikan segalanya dan menuntut segalanya. Dia memberi dan menuntut secara mutlak. Begitulah sifatnya. Itulah yang membuat hidup dengannya tidak mudah.”
“Tetapi ia juga memberi secara mutlak, semua yang ada padanya diberikannya pada anak-isterinya: impian-impiannya, kepandaiannya, semangatnya, marahnya, kekecewaannya, perhatiannya, kesehatannya, pengorbanannya. Di dalam segala kehebatannya ia sangat peka: perhatian kami, pengertian kami, dukungan kami, baginya segala-galanya. Itulah yang membuat semuanya ada gunanya.”
(Habibie & Ainun : 64)

“Saya pikir di tahun-tahun pertama di Aachen itulah dasar kebahagiaan hidup kami berdua terbentuk. Tiga setengah tahun berhidup pas-pasan. Tiga setengah tahun suka duka sumber kenangan pahit manis tidak terlupakan. Saling mengerti. Saling membantu. Saling berkorban. Makin menyatu jiwa raga. Sampai sekarang. Hingga akhir hidup. Memang waktu itu kami tidak punya banyak. Tetapi kami memiliki masing-masing.” (Habibie & Ainun : 132)


“… saya dengan tulus hati menyampaikan bahwa “dibalik sukses seorang tokoh tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan yaitu ibu dan isteri saya.”
(B.J.Habibie)

Ia selalu mengingatkan saya untuk beristirahat, jika melihat saya kelelahan bekerja, sebelum ia sendiri masuk ke kamar tidur. Tetapi beberapa saat kemudian, jika saya belum juga beranjak dari meja kerja saya, Ainun bangun lagi dan mengingatkan bahwa saya harus istirahat, karena sudah larut malam saya harus istirahat, karena sudah larut malam saya harus menjaga kesehatan. (Habibie & Ainun : 184)

Pada tahun 1977 Prof. Dr.-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie serta dr. Hasri Ainun Habibie kembali ke Indonesia. Selanjutnya menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi hingga terpilih menjadi wakil Presiden Soeharto, yang pada akhirnya Pak Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden dan beliau, Pak Habibie menjadi Presiden ke-3 menggantikan Pak Soeharto dan dalam suasana politik negara yang tidak menentu di Indonesia, dengan masa jabatan hanya 17 bulan saja.

“Kehidupanmu dengan Ainun selalu mesra dan menyenangkan untuk siapa saja. Tiap hari shalat 5 kali, berpuasa bersama Ainun tiap hari Senin dan Kamis. Bekerja keras tidak pernah mengeluh atau membuat persoalan yang menganggu berkembangnya keluarga sakinah sesuai ajaran Al-Qur’an. Hidup dan perilaku Habibie dan Ainun selalu mencerminkan keseimbangan antara Iptek dan Imtak.” (statement Pak Harto dalam Habibie & Ainun : 141)

Hal yang saya temukan sebagai penyemangat hidup dalam kehidupan bu ainun, kesetiaan dan cinta yang tidak pernah pudar. Pengabdian tanpa batas seorang istri dalam segala kondisi. Menjalani setiap saat hidup dengan bernafaskan iman dan taqwa dengan sisi religiusnya. Penyeimbang dalam kehidupan keluarga. Menjadi pendukung setia suami dengan segala kerendahan hati memberi suaminya selalu berjalan di depan, dengan ungkapan, Tut Wuri Handayani dan The big you and the small I.
Itulah mengapa, setelah mengetahui cerita tentang beliau, saya buat list for my great inspirations, dan Bu Ainun adalah menjadi salah satu seseorang yang menginspirasi saya. My Great Inspiration!!
Walaupun tak seperti Bu Ainun dengan caranya mendedikasikan hidupnya untuk menolong jiwa orang banyak dengan profesinya sebagai dokter, saya menemukan cara lain untuk tetap mendedikasikan hidup yaitu untuk mencerdaskan anak bangsa, insyaAllah..

Doa Habibie & Ainun

“Terima kasih Allah, ENGKAU telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah pertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya.
Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, ENGKAU titipi kami bibit Cinta yang Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi melekat pada diri Ainun dan Saya.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta ini dengan kasih sayang nilai Iman, Takwa dan budaya kami tiap saat sepanjang masa.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah menikahkan Ainun dan Saya sebagai Suami Isteri tak terpisahkan di manapun kami berada sepanjang masa.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah perkenankan Ainun dan Saya bernaung di bawah bibit cinta titipanMU ini di manapun kami berada, sepanjang masa sampai akhirat.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami dapat menyaksikan, merasakan, menikmati, dan mengalami TitipanMU menjadi Cinta yang Paling Murni, Paling Suci, Paling Sejati, Paling Sempurna dan Paling Abadi di seluruh Alam Semesta dan sifat ini hanya dapat dimiliki oleh ENGKAU Allah.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah menjadikan Ainun dan Saya Manunggal Jiwa, Roh, Batin, dan Nurani kami melekat pada Diri kami sepanjang masa di manapun kami berada.
Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan semua terjadi sebelum Ainun dan Saya, tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 untuk sementara dipisahkan. Ainun berada dalam Alam Baru dan saya sementara masih di Alam Dunia.
Terima kasih Allah, perpisahan kami berlangsung damai, tenang, khidmat dengan keyakinan bahwa KebijaksanaanMU adalah terbaik untuk Ainun dan Saya.
Berilah Ainun dan Saya petunjuk mengambil jalan yang benar, Kekuatan untuk mengatasi apa yang sedang dan akan kami hadapi di mana pun kami berada.
Lindungilah Ainun dan Saya dari segala Gangguan, Ancaman, dan Godaan yang dapat mencemari Cinta, Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi kami, sepanjang masa.”

Amiin.

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun

2 thoughts on ““inspirations” Bu Ainun, Sang mata yang indah..

  1. Pingback: Habibie & Ainun The Movie, kekuatan cinta sejati | we wee world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s