“Korelasi” Bahasa Al-Qur’an dengan Kesanggupan Seorang Hamba Allah dalam Menghadapi Cobaan Kehidupan

Mendapati hari-hari yang semakin sulit terjalani. Semakin terjal jalan kehidupan yang harus dilalui. Hambatan, cobaan, rintangan, masalah-masalah menjadi musuh yang selalu mengikuti, yang selalu siap menyambut kelelahan kita dengan kata “putus asa”. Naudzubillah!!

Terdiskusikan suatu masalah dengan seseorang yang kusebut cinta, masalah yang berhasil menyita sebagian perhatianku dari padanya. Masalah hidup yang bila dikeluhkan secara terus menerus akan menunjukkan rasa iba pada diri yang lambat laun menghancurkan pola pikir.

Nasehat-nasehat yang terhaturkan dalam suatu perumpamaan sederhana yang bukan saja sangat mengena dalam diri namun juga terkorelasi dengan ayat Firman Allah yang tertulis dalam ayat terakhir surat Al-Baqarah.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. …”
(Al Baqarah : 286)

Terumpamakan layaknya jembatan kayu dan jembatan beton. Keduanya mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk menyebrangi suatu rintangan seperti jurang, sungai, laut, serta untuk membolehkan laluan pejalan kaki maupun laluan kendaraan. Namun ada pembeda dari keduanya.

Jembatan kayu dibangun dengan pondasi kayu yang rapuh, mudah lapuk, tidak tahan bila diberi beban yang berat, hanya dapat terlewati oleh laluan pejalan kaki, kadang juga bila terijinkan sepeda melintasinya.

Namun jembatan beton, dibangun dari material yang mengkokohkan dan dibuat se-presisi mungkin, tahan terhadap segala macam perubahan cuaca, tahan terhadap goncangan gempa, tahan terdapat abrasi air laut maupun sungai. Dan dilalui oleh berbagai macam kendaraan dengan beban yang bervariasi, dari pejalan kaki hingga truk tronton yang ribuan kilogram beratnya.

Seperti itulah analogi dari perbedaan penciptaan dari jembatan kayu terhadap beton dengan manusia yang Allah ciptakan dengan berbagai cobaan yang menempanya.

Bila dikorelasikan dengan ayat Allah surat Al-Baqarah ayat 286, terkorelasi sudah bahwa Allah memberi cobaan kepada hamba-Nya itu sesuai dengan kapasitas kesanggupannya untuk menjalani.

Hamba Allah yang sadar akan kapasitas kesanggupannya dalam menghadapi cobaan hidup akan selalu berusaha sabar dalam menghadapi segala cobaan hidup. Dan harus disadari tentang pondasi seperti apa yang ada pada diri.

Bila Allah memberikan cobaan yang amat berat berarti Allah menciptakan hamba-Nya dengan pondasi yang kuat dan kokoh, dan pondasi yang kokoh itu adalah disusun oleh material yang disebut sabar. Dan sabar adalah dibangun dari ke-istiqomah-an.

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath Thalaaq : 7)

Pada ayat lain disebutkan pula,

“… Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. …”
(Al-an’aam : 152)

Tersebutkan pula dalam Kitab-Nya,

“… Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, …”
(Al-A’raaf : 42)

Allah sangat mengetahui kadar kesanggupan manusia dalam menghadapi segala cobaan dari-Nya. Seperti analogi dua jembatan yang telah terhaturkan. Masing-masing jembatan tau kapasitas kesanggupannya masing-masing. Bila sebuah jembatan kayu terlewati oleh sebuah mobil, maka respon dari beban yang tertempakan yang bukan merupakan kapasitasnya dari pada jembatan adalah, memungkinkan bisa roboh dan patah.

Kita diciptakan oleh Allah, maka tidak akan ada seorang pun yang Allah ciptakan tanpa Allah memberinya suatu cobaan. Karena
COBAAN ITU ADALAH UKURAN BAGI SEMPURNA ATAU TIDAKNYA IMAN SESEORANG, maka COBAAN itu adalah perlu,
namun harus perlu diingat lagi bahwa, Allah mengerti kesanggupan dari masing-masing hamba-Nya.

“… Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”” (Al Baqarah : 286)

Niers

Niers

Notes : English translation for that verse.

“Allah burdens not a person beyond his scope. …” (Al Baqarah : 286)

“… Allah puts no burden on any person beyond what He has given him. Allah will grant after hardship, ease.” (Ath-Thalaaq : 7)

“… We burden not any person, but that which he can bear. …” (Al-An’aam : 152)

“… We tax not any person beyond his scope, …” (Al-A’raaf : 42)

“… he gets reward for that (good) which he has earned, and he is punished for that (evil) which he earned. “Our Lord! Punish us not if we forget or fall into error. Our Lord! Lay not on us a burden like that which You did lay on those before. Our Lord! Put not on us a burden greater than we have strength to bear. Pardon us; grant us forgiveness; have mercy on us. You are our Maulã (Patron, Supporter, and Protector, etc.) and give us victory over the disbelieving people.” (Al-Baqarah : 286)

One thought on ““Korelasi” Bahasa Al-Qur’an dengan Kesanggupan Seorang Hamba Allah dalam Menghadapi Cobaan Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s