pengejawantahan diri atas “madre”

Entah suatu kebetulan atau memang telah digariskan. Terbacalah madre olehku, suatu cerita ber-setting tempat di Tan de Bakker. Semacam cerita yang berubah menjadi alur cerita. Semacam alur cerita yang terangkat di kehidupan nyata. Semacam itu mungkin penggambarannya yang sedikit hiperbolik.

Malam hari, kuhabiskan 72 halaman novel madre karya mbak Dee. As always, mbak Dee selalu bisa membuat pembaca terbawa dalam suasana dan alur cerita. Dari sore hingga tengah malam bahkan hingga hampir pagi, sejenak melemparkan diri dan jiwa di Jakarta, di toko Tan de Bakker. Hingga akhirnya terbawa mimpi dan esoknya dengan tak terduga benar-benar mengejawantahkan apa yang terbaca di malam hariku, yaitu membuat Bakery.

Esok harinya, masih dalam serangkaian liburan di gresik, di rumah kakak ku tercinta, Mbak Tu’nas, yang di rumahnya adalah juga merupakan toko kue dengan label d’larizza, namun jangan dibayangkan toko ini seperti kebanyakan toko kue lainnya karena toko ini menerapkan sistem make in order. Jadi tak ada jejeran kue-kue di etalase-etalase.

Oven-oven besar yang terlihat telah berumur berjajar mengelilingi sudut dapur yang lumayan luas yang berjumlah 3 oven besar. Di salah satu pojok dapur terdapat rak-rak yang digunakan sebagai tempat loyang-loyang kue dan alat pencetak kue lainnya.

Adonan kue pun tergiling dengan suara berat saking kalisnya dimesin penggiling atau kalau aku dapat katakan penggiling itu semacam mixer yang besar.

Secuil-cuil adonan kue ditimbang dengan presisinya, dilumat-lumat lagi dengan tangan yang berbalut tepung terigu dan dibentuk menyerupai bola-bola tennis yang dihitung tepat dan sisa adonan dicuil kecil-kecil ditemplokkan keatas adonan bola-bola.

Lanjut selanjutnya, adonan dipipihkan hingga berdiameter 10 cm dengan ketebalan 0,5 cm. Diisi dengan bermacam topping, ada ayam saos pedas, blueberry, coklat pisang, dan lain lain. Dan dilumuri dengan campuran susu dan kuning telur agar terlihat keemasan ketika selesai dioven dan diberi hiasan untuk masing-masing rasa. Untuk bakery isi ayam saos pedas dihias dengan sosis dan seledri diatasnya, untuk blueberry dihias dengan kelapa parut sangria dengan sedikit dilumuri lagi blueberry dan untuk isi coklat pisang dihias dengan kulit adonan yang dibentuk berbeda. Bukan bulat namun oval lonjong dan dikerat diujungnya sebagai selimut suir-suir.

Adonan-adonan yang telah cantik dengan hiasan diatasnya, disimpan disuatu lemari kaca kedap udara dan membiarkannya selama beberapa jam agar ragi kue bekerja dengan maksimal dan adonan mengembung besar.
Inilah mungkin yang disebut madre, ragi kue, penggembung kue, hingga seperti benar-benar menjadi tokoh cerita, saya excited menyaksikan proses gembungnya kue-kue bakery tersebut.

d'larizza Bakery

d'larizza Bakery

Jadi seperti, malamnya membaca suatu naskah scenario cerita dan paginya menjadi tokoh yang memerankan tokoh dalam cerita tersebut. Sungguh, pengalaman cerita hidupku dengan bakery kala itu adalah seperti pengejawantahan diri atas madre.

Entah suatu kebetulan atau memang sudah digariskan.

3 thoughts on “pengejawantahan diri atas “madre”

  1. hiks…kakak yg duluan tahu madre, malahan adek yang lebih dulu bisa bertemu sang “biang” ini…😦

    baca narasi tentang pembuatan kue ini, bikin kakak nahan napas berkali-kali. ndak tahan pingin nyicipiiiiin! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s