“my indica angel” di luar jendela kamarku…

Dimulai dari suatu kebiasaan diri mengatur ulang design kamar tidur, entahlah, semacam hobby atau semacam kutukan karena tidak menyukai suatu hal yang monoton. Mulai mengatur ulang posisi kamar tidur, cat tembok, warna korden, posisi laci dan meja belajar, hingga painting art pada dinding.

Satu tahun yang lalu, setelah semua kamar di rumah telah pernah tertempati dan hanya tersisa satu kamar saja yang belum pernah tertempati, kamar paling depan, kamar nomor 1 dari depan, dan boleh dibilang kamar paling sakral karena dari ketiga kakak ku semua, ketika menikah selalu harus menempati kamar ini. tapi, biasa saja, menurutku kamar mana pun akan sakral bila itu aku yang menempati, haha…

Kamar nomor 1.

Bersebelahan tepat dengan kamar tetanggaku, sahabat kecilku, saudaraku, keluargaku, segalanya. Yang hanya terdapat sebuah space tidak lebih dari 1 meter, setelahnya adalah tembok rumah sebelah. Jadi, bila pagi hari membuka jendela, pemandangan yang tercipta adalah tembok. Melihat keluar jendela, terlihat tembok. Menutup ketika gelap malam telah tercipta, yang terlihat juga tembok.

Tembok, tembok, tembok.

Tak akan aku betah dengan pemandangan semacam ini disetiap harinya! Sungguh!
Akal pun terputar. Setelah selesai dengan segala desain interior kamar (weits..) berpikir tentang pemandangan luar yang akan kupandangi setiap harinya ketika mempersilakan masuk sinar matahari pagi. Mondar mandir ke depan kebelakang hingga aku melihat sesuatu yang aku anggap itu adalah malaikat penyelamat.

Tamarindus Indica.

Yang kala itu sedang berdiri ringkih di pojok belakang rumah. Mati segan hidup tak mampu. Hidup di sebuah bak hitam besar yang dibeberapa sisi telah tersandat dengan kawat-kawat berkarat untuk tetap mengukuhkan sisinya. Berdiameter tak kurang dari 10cm dengan cabang ranting coklat yang tak tertemani dengan hijau dedaunan, namun disana-sini tertempel daun-daun kering khas pohon yang tak lama lagi. Namun kulihat, banyak tunas-tunas daun muda menyembul diantara ranting satu dan lainnya yang mengisyaratkan, masih ada harapan untuk hijau kembali.

Kukatakan kepada ayahku, aku ingin tanaman itu berada di luar jendela kamarku. Dengan berunding lebih dahulu dan dengan pertimbangan atas cahaya matahari, pengairan penyiraman, perawatan, akhirnya ayah setuju. Dan sore itu aku dan ayah menggotongnya untuk diletakkan tepat di sebelah kamarku. Walaupun berat, tanpa alat apapun untuk mengangkat karena medan yang ada tidak memungkinkan untuk semacam pengangkut melintas. Terhuyung-huyung, tersandung-sandung, akhirnya sampai juga pohon asam ini tepat di sebelah kamarku.

Lantas, ku atur sedemikian rupa dan mencari angle yang pas, yang bila disaksikan dari dalam kamar dapat menciptakan siluet pohon yang indah. Dan inilah siluet terbaik yang terciptakan yang hari demi hari, bulan demi bulan akhirnya dedaunan menghijau dengan sebutannya sinom menyeruak menyembul diantara ranting-ranting coklat bertekstur kasar itu.

tamarindus indica di luar jendela kamar

tamarindus indica di luar jendela kamar

Pohon asam, yang bisa kusebut sebagai malaikat penyelamat lingkungan dan pemandangan yang kuberi nama “indica angel”, yang disetiap hariku membuka jendela kamar. Tamarindus indica. Yang telah menjadikan pemandangan setiap harinya lain seiring tumbuhnya setiap tunas-tunas sinom pada dirinya.

5 thoughts on ““my indica angel” di luar jendela kamarku…

    • kakak tetep ndak bisa suka kata “aku” yang disingkat menjadi “ku”. kesannya gimanaaa gitu. hehe, itu saja sebagai caci maki, kata-kata bengis, atau entah adek menyebutnya apa. xixixi

      masalah preferensi pribadi juga sih…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s