hujan lah yang tau segala isi hati, hatiku..

Hujan pembawa pesan rindu.

butir-butir air hujan yang tertinggal..

butir-butir air hujan yang tertinggal..

Tuhan itu benar, bahwa hujan adalah pembawa berita gembira bagi seluruh makhluk semesta alam. Tetes air hujan pertama kali setelah kemarau panas nan panjang adalah buktinya. Ada suatu bebauan khas yang selalu membawa melankoli sendiri pada diri. Kenangan masa lampau yang seperti berbalik memenuhi setiap ruang pada pikiran. Hujan seperti memberi kan suatu pelajaran berharga dalam setiap musimnya disetiap tahun. Bahwa, akan timbul suatu euforia bila datang sesuatu yang kita rindukan kehadirannya.

Hari hujan pertama adalah saksi, saksi dari rasa gembiranya para bocah yang menari dibawah hujan yang penasaran akan setiap tetes air hujan yang menempa wajah mereka. Saksi dari leganya perasaan para orang tua yang merindukan kesejukan awal musim hujan dalam setiap inchi kulit keriput mereka. Yang dari padanya, bahkan selama hidup, mereka telah menemui musim hujan berkali waktu, dan telah merinduinya pula dengan berkali waktu. Namun penyambutan hari pertama hujan akan selalu menimbulkan sedikit kerut pada mata kanan kiri karena senyum yang tersungging ketika melihat satu per satu tanah yang kelabu berubah menjadi hitam tertempa hujan. Dan dalam hati mereka, ada sejumlah rasa syukur yang tak terkira kepada Sang Pencipta atas jajaran mendung hitam yang membawa hujan untuk kesuburan.
Bunga-bunga, daun-daun, pelepah daun, tangkai hingga batang, hingga akar, seluruhnya bersorak sorai menyambut tetes-tetes air pertama yang mengenai setiap bagian dari permukaan mereka. Siapa yang tau bila mereka menangis haru rindu atas kedatangan hujan? Dan hanya manusia yang sedang jatuh cinta saja yang dapat mendengar tangisan rindu nan haru dari sebatang pohon diluar jendela besi usangnya.

Entah mengapa, petrichor selalu menjelma menjadi bebauan terapi jiwa yang menenangkan. Pertemuan dari air hujan pertama kali ke tanah yang menciptakan kabut yang tinggi tak melebihi 1 meter dari padanya. Gemercik air hujan ke tanah bak simfoni lagu kerinduan dengan syair kenangan masa lalu yang dirindukan. Tetes-tetes air bak sentuhan lembut selendang sutra para bidadari yang terlambai-lambai teterpa angin ke utara dan selatan.

Teramati dengan jeli setiap dari kelabu menjadi hitam secara keseluruhan. Ada kerinduan yang membuncah pada diri yang sudah tidak bias lagi diekspresikan dalam berbagai ekspresi yang ada. Hambar, seperti senyum tanpa berbalas.

“Aku rindu padamu!!” teriak hati kecil memberontak.

Kalimat yang terpendam, hati yang mencintai, diri yang merindu, tak berdayanya mulut dalam diam seribu bahasa. Mereka lah yang sebenarnya membatasi hasrat untuk sekedar menyunggingkan senyum. Namun ada suatu kegilaan tersendiri dari rasa rindu di hati. Aku juga tak mengerti sebenarnya rasa apa yang membuatku tetap bertahan pada kerinduan yang menekan hati. Dan hujan telah membuatnya menjadi sangat manis dan indah, walau dalam mendungnya menerbangkan asa. Namun itulah cinta, even it’s just remain some bitterness, but it also has some sweetness.
Bittersweet.

One thought on “hujan lah yang tau segala isi hati, hatiku..

  1. aku suka membaui debu yang beradu dengan rerintik hujan pertama.
    aku suka ketika lalu mendengar derap lelangkah ceria anak-anak nan berbasahan. dan senyuman para petani yang melihat cerahnya hari di depan karena turunnya hujan, menjadi suatu pemandangan nan tak tergantikan… ^^

    gadis hujan… tulisannya keren…😀 senyuuuum… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s