history of holiday to Lawang, Malang.. *part 1

Beberapa bulan yang lalu, kudapati sebuah kabar dari kakak tingkat himpunan tentang suatu perjalanan studi sejarah di ujung utara Malang. Yang akhirnya, kemarin tanggal 12 Februari 2012, berangkatlah aku dan teman-teman kohatiers se-cabang Kediri kesana.

Studi sejarah, memang, yang namanya sejarah sejak dulu adalah merupakan suatu hal yang exciting untukku, meskipun aku ber-background saint. Menurutku, sejarah adalah semacam mengunjungi ulang masa lalu yang kita sedang menginjakkan kaki di masa sekarang. Dan itulah 50% iming-iming yang mendorongku untuk ikut ditengah kesibukan yang menjemukan (hahaa..), yang 50% iming-iming lainnya adalah kereta api. Entah terdapat sejarah apa aku dengan transportasi satu ini sehingga aku sangat interest sekali dengan transportasi dua batang besi ini.

Stasiun Kediri, sudah tentu menjadi tempat pemberangkatan kami, menggunakan kereta dengan jadwal kereta paling pagi menuju malang, yaitu jam 08.00 yang kali itu sedikit telat beberapa menit dari jadwalnya.
Perjalanan terjalani dengan excited seperti biasa. Wajah-wajah yang berbeda, suara saut-saut-an dari para pedagang asongan, suara genjretan kereta dengan relnya tepat ketika kontur tanah berubah menjadi besi yang mengambang diatas jembatan layang, pemandangan hijau sawah yang membentang.

pemandangan dalam kereta Kediri-Malang

pemandangan dalam kereta Kediri-Malang


Selama perjalanan, sebelah kiriku selalu berganti pada stasiun tertentu. Awalnya adalah anak kecil yang ketika kuberi beberapa pertanyaan terlihat diam malu-malu yang akhirnya mengantuk dan pelan-pelan kubiarkan tenggelam dalam punggungku, yang ketika sampai di stasiun blitar anak itu tadi turun.

Kulihat, satu per satu orang naik. Tidak banyak hanya beberapa dan ku lihat ada seorang kakek-kakek berjalan ke arah ku yang dari padanya ku geser sedikit duduk ku sebagai isyarat ku mempersilakan beliau duduk disebelahku. Satu hal, I like seeing the old man. Terdapat suatu kebijaksanaan dan pahit manis pelajaran hidup yang panjang pada setiap guratan keriputnya.

Tak banyak percakapan, karena kakek ini sepertinya sadar bahwa setiap kata yang kuucap akan sulit tertangkap oleh telinga tuanya, maka dari itu, sepanjang perjalanan dari blitar hingga malang hanya muncul beberapa percakapan biasa yang menanyakan naik dan turun kereta saja, hingga datanglah pedagang onde-onde yang merubah semuanya. 6 onde-onde, terbeli 7 dengan 1 untuk beliau dan 6 untuk ku dan teman-teman.

Sungkan? Pasti. Lapar? Iya. Hehee.. akhirnya dengan perasaan canggung dan gimanaa begitu, termakanlah onde-onde hangat dari kakek tersebut, yang aku hanya bisa menggigitnya sedikit demi sedikit sambil cengengesan sungkan dengan kakeknya dan berkali-kali mengucapkan terima kasih, hingga kakek itu berkata, “putuku yo kuliah mbak, tapi sak iki wis KKN. Melihat sampeyan jadi ingat dengan putuku mbak..” terlihat ada rasa rindu yang mendalam atas cucunya. I wish I could meet with my grandpa and grandma :’)

to be continued soon..

One thought on “history of holiday to Lawang, Malang.. *part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s