apa “gerangan” cerita di pantai “brumbun”??

uji nyali lahir dan batin..

curhatan cinta para pecinta..

dua pantai satu muara..

dua jalan satu jebakan..

satu hari, satu juta pelajaran berharga.

excited lahir dan batin..

scenery of Gerangan beach

scenery of Gerangan beach

Serangkaian kata yang tepat untuk mengawali cerita liburan ke pantai gerangan, Tulungagung pada 18-19 Februari 2012 kemarin. Liburan yang teradakan oleh himpunan ku yang bertujuan untuk refreshing bersama dalam suntuknya liburan yang panjangnya tak terkira. Dan, yap, berangkatlah kami dari base camp yang aku dan kawan-kawanku menyebutnya dengan komistar.

Perjalanan tertempuh dengan tersihirnya mata oleh pemandangan alam Tulungagung yang memang memanjakan mata dengan dominasi pemandangan hijau buminya, sawah, perbukitan, gunung marmer, menjadi pemandangan alam yang membuatku berkali-kali menyebut asma-Nya karena saking speechless-nya diri menyaksikan yang kusebut cerminan surga pada bumi Tulungagung.

Karena ada yang masih tertinggal karena masih mengurusi logistik, aku dan kawan-kawanku berhenti dan menunggu di daerah campur darat, Tulung agung. Menunggu dan menunggu hingga akhirnya senja sore meninggalkan kami dan maghrib menemani, dan kami pun sholat di salah satu musholla terdekat.

Perjalanan pun termulai ketika semburat warna jingga senja menyatu dengan warna hitam pekat malam yang berkolaborasi dengan abu-abu tua dari mendung pembawa hujan, yang maka dari itu hujan rintik-rintik pun turun membersamai kami dalam perjalanan.

Gelap, Hujan, Malam, Mencekam.

Beberapa kata itulah yang menggambarkan suasana perjalanan malam itu. Apalagi ketika memasuki jalan yang tak beraspal yang bila itu beraspal aspalnya telah mencuat disana-sini, jalan yang terjal, yang bletok, berlumpur, banyak jeglongan, banyak bebatuan, pemandangan sekitar yang menakutkan karena hanya deretan sawah, hutan, kebun, jurang dan tak ada kerlap-kerlip lampu yang menandakan adanya tanda kehidupan. Suasana tambah didramatisir lagi dengan hujan rintik yang sedari tadi semacam memayungi kami dengan payung hujan. Sungguh lengkap sudah, semacam perjalanan uji nyali lahir dan batin. Uji nyali lahir yang itu medan yang sulitnya masyaAllah yang membuatku terus berdoa tanpa henti selama perjalan, uji nyali batin karena suasana malam yang mencekam ditambah hujan ditambah beberapa teman ada yag jatuh. Lengkap! Astaghfirullah..

Cahaya!!

Alhamdulillah, akhirnya terdapat pendaran cahaya yang pasti itu menandakan adanya rumah-rumah warga. Dan benar, setelah melewati turunan yang berkelok-kelok masuklah kami diperkampungan yang kukira sudah terlalu malam kami sampai disana karena tidak ada lampu yang berlebihan dalam rumah ke rumah, bahkan hanya lampu ublik saja kulihat. Lantas, berhentilah kami pada suatu rumah yang itu terbuat dari kayu dan sangat sederhana sekali namun aku suka, dan ternyata malam itu bagi kami para kohatiers untuk menginap. Sederhana dan jauh dari kata keangkuhan, itulah yang menggambarkan rumah ini.

Kami pun istirahat sejenak di rumah yang aku lebih suka menyebutnya dengan pondokan, sambil berbincang-bincang dengan ibu yang punya rumah yang hanya ada penerangan dengan lampu kelap-kelip yang dirakit sendiri, dan ternyata listrik belum masuk ke desa ini karena terlampau terpencilnya, dan orang-orang disini memanfaatkan tenaga surya sebagai listrik, dan bila cadangan energy dari cahaya matahari telah habis maka terpaksa harus menggunakan ublik sebagai penerangnya ketika malam. It’s romantic, isn’t it? Hmmm..

Berharap bisa sekedar update status dengan suasana remang dan tadi menakutkan, aku pun mengecek ponsel ku dan ternyata, No Signal!! No network available!! Oh Noooo! Be here without such gadget for communication? Dan benar ternyata, semua operator tidak ada sinyal, dan bapak yang punya rumah pun bilang kalau mau cari sinyal bisa naik ke gunung dulu. Feels like a joke, hingga berandai-andai, andai saja sinyal bisa dibeli pasti kaya sudah, hahaa..
Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, yang aku merasa sedang disuatu tempat antah berantah yang tak berwaktu. Suasana luar rumah sungguh seperti tak ada kehidupan karena gelapnya jalan-jalan yang itu memang hanya jalan setapak saja untuk menghubungkan rumah satu dan yang lainnya. Aku pun mengajak jalan-jalan teman-teman ke pantai malam itu, dan yaa, gelap namun embusan angin, suara ombak yang melting dengan angin mendamai kan hati. It’s time for contemplating.

Aku dan teman-teman duduk di pinggiran pantai, bernyanyi-nyanyi,berlari-larian, dan berbuat apapun yang sekiranya dapat mengekspresikan diri untuk mengatakan kepada angin laut, pasir lembut dan air asin bahwa, hey creatures, we are here to find you!!

Aku memilih untuk berdiam diri dan berbincang dengan seseorang yang aku menyebutnya Ayah, yang aku awali dengan mengatakan apa yang kurasakan malam itu dengan mengutip sebuah quotes nya Nicolas Spark, love is like the wind, you can’t see it but you feel it. Dan diskusi tentang kehidupan pun terjadikan, ayah pun berkata bahwa, “Dari suasana malam ini kita dapat lo mengambil pelajaran, karena dimana pun tempat kita berpijak itu adalah ayat kauniah Allah yang dapat kita ambil pelajaran dari padanya. Dan aku suka belajar dari alam karena Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an agar kita belajar dari alam yang selalu memberikan pertanda.”Ayah Gatrem.

Banyak sekali yang kami bicarakan, kami diskusikan, tentang hidup dan kehidupan, tentang alam dengan segala pelajaran
yang kita dapat memetik pelajaran daripadanya, tentang cinta hingga pengertian jodoh, segalanya.
Malam pun seperti semakin mendekati larut, semuanya berkumpul dan membentuk lingkaran yang mengitari api unggun yang baru saja dibuat. Angin laut pun berembus menambah garangnya api yang membakar ranting kayu dan dedaunan yang menyusun api unggun kecil dimuka kami. Acara dimulai dengan diskusi tujuan diadakannya acara malam ini sambil menunggu bakaran singkong diantara kayu bakar.

Lanjut acara selanjutnya yaitu, free activity, yang pada rencana diisi dengan pembacaan puisi atau bercerita tentang yang mewakili perasaan atau apapun, dan sebagai pengawal sang pembaca acara yang kala itu adalah Ketum Komistar, dengan tidak merasa menjebakku yang tidak kala itu memiliki persiapan apapun menunjukku untuk menjadi yang pertama yang tampil untuk bercerita, dasar papaaa!! Akhirnya, aku pun memulai bercerita dan berdiri di samping api unggun dengan hangatnya. Bingung harus bercerita apa, dan brainstorming saja lantas aku mulai bercerita tentang suatu kisah yang karena kisah ini aku jadi bertanya-tanya tentang apa itu makna hakiki dari jodoh? yang kisah ini kudapatkan dari cerita yang diceritakan secara tulus dari sang pencerita yang aku kenal singkat ketika perjalanan di kereta yang telah aku posting di postingan sebelum ini, dengan judul Ketika kita berbicara tentang cinta, maka tidak ada kata terlambat, dan akibat permulaan cerita yang kuakhiri dengan pertanyaan, “lantas apa itu yang disebut jodoh yang hakiki dan bagaimana dengan cinta itu sendiri?”, satu per-satu ditunjuk untuk menjawab atau sekedar menanggapi pertanyaan ku tadi.

Muncullah beragam cerita dari masing-masing kepala yang setiap orang pasti mempunyai kisah cinta masing-masing. Dan seperti curhat, terdengarlah dari mulut mereka kisah cinta yang pahit, manis dan segala euforia perasaan yang merasanya. Ada yang mencintai namun tak dicintai karena sang pujaan hati telah mempunyai kekasih hati, namun tetap sungguh tulus dalam mencintainya yang mampu berjam-jam menekuri laptop hanya untuk melihat slide show foto-foto dari sang pujaan hati, yang selalu mengikuti setiap update statusnya hingga ketika ia sang pujaan hati sedang bertengkar dengan kekasihnya, bersoraklah dia. Hehee..

Ada suatu cerita dari seseorang yang tidak pernah mengerti apa itu cinta dan mencinta, hingga suatu hari merasa iri melihat kawan-kawannya bisa lebih semangat ketika mencintai dan dicintai, dan dikatain memang masih kecil dalam segalanya, mencobalah ia mencintai seseorang dan mencoba untuk tulus hati namun akhirnya ditolak. Sudah pertama kali mencintai seseorang namun ditolak, hingga ia tidak percaya lagi dengan apa itu cinta.

Cerita lain yang pernah sedikit kudengarkan dan membuatku tercengang karenanya, cerita dari seseorang dengan banyak sekali cerita cinta yang tercipta, namun ia berani mengatakan bahwa, hanya ada satu yang tulus, yang benar-benar ia cintai dengan setulus hati yang mengharapkannya menjadi yang terkahir dalam hidupnya.

Seseorang lain pun bercerita tentang masa SMA nya yang pernah nyaris seperti genk nero karena background sekolah yang, dia cewek namun bersekolah di STM, dengan keseharian tawuran sesama teman, rebutan pacar, dan kisah tragis dari cintanya yang mencintai namun dihianati dengan teman yang balik menghianati karena merasa sakit hati.
Ada juga cerita menarik yang daripadanya aku pernah memakanai bahwa dia adalah jahat karena tak lain yang tersakiti adalah teman ku yang kisah ini telah dicurhatkan kepadaku, cerita tentang seseorang yang nyaris dikatakan homo oleh kawan-kawannya karena tidak pernah curhat tentang wanita disaat yang lain tergiur untuk mendekatinya. Dan dengan segala tekanan yang ada, berusahalah dia mencintai seseorang namun akhirnya karena suatu kewajiban besar harus dipikulnya, terlantarlah cinta itu karena tak bisanya pikir memikirkan keduanya dan sesungguhnya memang belum siap untuk memikirkan cinta. Jahat kan? memang! *subjektif sih, hihii..

Seorang guru yang jatuh cinta dengan muridnya, terdapat juga cerita yang terceritakan dengan judul tersebut. Cerita yang berawal dari pertemua mereka di sebuah tempat kursus yang seseorang yag bercerita ini adalah sebagai tentor bahasa inggrisnya, yang mencintai seseorang murid yang logat berbeda dengannya. Pertama kali sang guru pun ragu untuk mendekati karena sang murid adalah anak pondok yang sangat membatasi diri dengan yang namanya cinta, but love will conquer it all. Akhirnya mereka pun saling jatuh cinta dan mencintai satu sama lain.

Seseorang yang mencintai dan yang dicintainya ada di tempat yang sama malam itu, yang dari padanya setelah bercerita tentang kisah cinta mereka ternyanyikan lah sebuah lagu dengan iringan gitar yang ia petik sendiri. Tersipu-sipu malu seseorang pujaan hatinya itu karena sungguh so sweet banget dan pas dengan suasananya. Pinggir pantai malam hari dengan kemerlap lampu di garis horizon pantai, bintang kemintang yang berkelip diatas sana yang menjadikan langit begitu spektakulernya, dan lagu romantis yang tertuju untuknya. Hingga tiba giliran sang pujaan hati untuk menceritakan kisah cintanya yang dahulu hingga akhirnya menemukan seseorang yang menyanyikan lagu cinta untuknya itu.

Hingga yang lain hanya bisa berkata, poin, poin, poin!! Ada banyak poin malam itu. Hahaa..
Sungguh beragam kisah cinta dan pemaknaan atas cinta, dan kisah yang kudengarkan dalam keterngantukan diri lainnya yang membuatku lupa dengan jalan ceritanya. Sebagai penutup aku diminta untuk mengungkapkan cerita cintaku karena karena akulah yang mengawali cerita yang memancing semua jadi bercerita tentang cinta jadi dikira tidak fair jika yang membuat ide tidak bercerita, begitulah komentar teman-teman ketika aku menolak karena aku telah cerita pada awalnya, dan akhirnya dengan sangat terpaksa aku menceritakannya. Dan cerita ku tentang cinta, akan ku ceritakan pada postingan selanjutnya, keep waiting!!

Malam terlewati dengan gemerlap sejuta bintang di langit dengan pertanyaan di dalam pikir ketika menatapnya telentang di pasir yang lembut, lebih banyak mana bintang di langit dan bintang di langit?
Fajar pun tiba, fajar terindah yang pernah aku temui. Matahari menampakkan wajah cerahnya dari tidur malam harinya di balik gunung ganang yang memacarkan cahayanya hingga menciptakan gemerlap pantulan air laut bak kristal air yang bersinar memancar menyilaukan mata. Indah sekali.

sunrise antara pantai Gerangan dan pantai Brumbun, Tulung Agung

sunrise antara pantai Gerangan dan pantai Brumbun, Tulung Agung

Seperti yang telah terkatakan sebelumnya bahwa, desa di pesisir satu ini sungguh terlampaui terpencil, hingga tidak ada tempat untuk ‘kebelakang’, dan keadaan kamar mandi pun kusebut dengan BnB “berdiri dan berteriak”, bila anda berdiri maka akan berteriak aaaaaw!! bila itu ada seseorang disekitar anda, hehee.. oleh karena itu, aku dan beberapa teman pergi ke desa sebelah dan berharap mendapatkan kamar mandi yang layak.

And, here we are, terbing pantai brumbun!!

look at there, it is brumbun beach!!

look at there, it is brumbun beach!!

Jalanan menanjak dan terjal lagi namun semua itu tak tergubris karena pemandangan sekitar yang sungguh wow!! indahnya. Kami pun berhenti sejenak untuk mengabadikan pemandangan alam yang incredible indeed itu. Dan sungguh, subhanallah, ini bisa disebut sebagai surga yang menetes ke bumi.

Salah satu temanku menyebutkan bahwa kami akan mengunjungi pantai dibawah sana dan pergi di masjid yang hanya terlihat cungkup kubahnya dari atas tebing ini.

aunty and I in pantai Brumbun

aunty and I in pantai Brumbun

Dan inilah yang disebut sebagai milyaran kristal air yang terpantulkan oleh cahaya matahari pagi.

kilauan kristal air pantai Brumbun, Tulung Agung

kilauan kristal air pantai Brumbun, Tulung Agung

Pada saat matahari mulai terik, satu per satu teman diceburkan ke air tanpa kecuali, kecuali aku tentunya yang sedikit phobia dengan perpaduan antara air laut dan rasa asinnya. Akhirnya jadilah photographer dadakan. Jepret sana jepret sini, menjepret segala kegilaan yang dilakukan teman-teman. Mulai dari perang pasir, ngambang-ngambangan, lomba renang, prosesi penguburan diri seorang korban, tumpuk-tumpukan diri, perahu nggoleng, hingga mengadakan games-games yang menambah kekompakan kami. Hingga tak terasa matahari kian semakin terik dan terik. Dan teman-teman yang berbasah-basahan pun membersihkan diri dan berkemas untuk pulang.

great friends ever, Himpunan Mahasiswa Islam

great friends ever, Himpunan Mahasiswa Islam

Berharap bisa menghilang pulang tanpa harus melewati track yang terlewati tadi malam, amiin.. Terkabul! Ternyata, usut punya usut, terdapat dua jalan menuju ke pantai gerangan ini, dan yang track ngeri tadi ketika berangkat adalah jalan trabasan atau alternative yang itu hanya digunakan sebagai orang-orang yang mau mengerjakan sawahnya, dan ketika pulang kami melewati jalan yang lumayan dan bisa disebut dengan jalan yang sebenarnya. Alhamdulillah..

Terima kasih untuk teman-teman HMI Komistar tercinta yang telah menjadikan hari penantian masuk kuliah begitu beragamnya dengan serangkain acara yang menyenangkan dan insyaAllah bermanfaar dan mbarakahi. Semangat selalu kawan-kawan! Bahagiaaa.. Eij Em Ai..

4 thoughts on “apa “gerangan” cerita di pantai “brumbun”??

    • ada dua jalur (tapi saya kurang paham lewatnya jalan mana) yang satu sepertinya mobil bisa masuk..
      jalannya masih sangat buruk saat itu tahun 2012, mungkin sekarang sudah bagus..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s