tiwwidy’s wardrobe, awal rajutan mimpi..

Berawal dari sebuah keinginan masa kecil yang labil akan cita-cita, yang pada awalnya ingin menjadi dokter namun 3 minggu kemudian ingin menjadi presiden. Beberapa waktu kemudian ingin jadi koki, ingin jadi anggota FBI, ingin jadi guru, ingin jadi duta besar, ingin jadi arsitek dan entahlah, terlalu banyak yang diinginkan, dan juga ingin menjadi fashion designer yang at least, bisa punya sebuah butik.

potret setengah wardrobe pribadiku

potret setengah wardrobe pribadiku

Sedikit curhat, dahulu, ketika ibu masih sehat dan karena mendapat gelar dari Allah sebagai anak terakhir, maka sifat ‘manja’ menyusup tanpa kuminta dalam diri. Hingga dulu, sebulan sekali bahkan beberapa minggu sekali selalu shopping dan shopping dengan ibuk, beli baju atau istilah kerennya “nggombal”, hehee.. Jadilah shopping menjadi sebuah hobby hingga setipa tahunnya harus melungsurkan baju ke pada keponakan-keponakan karena saking ndak muatnya almari pakaian dan memang sudah tidak muat akibat pertumbuhan yang sempurna.

Dari dulu, aku adalah seorang yang menyukai keunikan yang itu berarti berbeda termasuk dalam hal berpakaian, bahkan kakak perempuanku sampai mau menunggu untuk aku ganti baju lagi padahal sudah siap untuk berangkat karena baju yang kukenakan tergolong ndak lazim bagi banyak orang. Stop curhatnya!

Karena terdapat sebuah cerita hidup luar biasa kejamnya yang bahkan mampu mengikis rasa manja yang berlebihan ketika dulunya, berubahlah anak bungsu ini menjadi seseorang yang bisa memanfaatkan apapun, dan mendaur ulang apapun.

Kesulitan ekonomi membuat harus memutar otak berkali-kali untuk memikirkan bagaimana tetap bisa berbeda tanpa harus mengeluarkan biaya. Dan, ting!! Bohlam lampu menyala terang, solusi yang cerah berdatangan tanpa diminta.

Berkat keahlian menjahit yang pas-pas-an, keahlian merajut yang itu hanya bisa beberapa teknik, keahlian otodidak menggunting yang karena dalam proses belajarnya berkali-kali harus dimarahi oleh ibuk karena menggunting baju sembarangan untuk baju-baju boneka Barbie ku, jadilah ide datang yaitu mempermak baju. Baju lama yang sudah tidak terpakai dan masih bagus, yang didalamnya setelah kuterawang 7 hari 7 malam terdapat sebuah pola baju baru yang unik, itulah idenya. Yaa, walaupun hasilnya kadang gagal, ndak rapi atau bahkan lumayan, berasa seperti memakai baju yang baru lagi, itulah tujuannya.

Hingga aku mempunyai suatu slogan untuk diriku sendiri, “Jika bisa dibuat, kenapa harus membeli?” itulah kalimat yang menjadi suatu pedoman dalam berpakaian. Hemat, iya. Ngirit, pasti. Bahagia, banget!!
walaupun tetap ada saja komentar-komentar dari orang-orang yang mengomentari cara berpakaian hingga berjilbabku, namun bila akunya merasa nyaman, why not? Berpakaian bukanlah sekedar mengikuti tren terkini namun adalah sebagai cerminan diri dengan tetap nyaman dengan outfit yang dipakai. Begitulah kiranya.

Dan, hal ini adalah semacam merajut mimpi, sebuah mimpi yaitu suatu saat bisa mempunyai sebuah butik sendiri dengan plang namaku disana. sekarang, sebagai peng-ayem diri kusulap salah satu kamar di rumah ku menjadi sebuah wardrobe pribadiku, dan ini juga adalah sembari berdoa. Amin, ya Allah, amiin..

high heels 10 cm

high heels 10 cm

One thought on “tiwwidy’s wardrobe, awal rajutan mimpi..

  1. amiiiiiin… ^^ semoga semua mimpi ini terwujud dek…

    punya butik, dan sambil menunggu pelanggan datang adek sibuk mengetik tulisan mengejar deadline yang diberikan oleh penerbit yang mau membukukan tulisan adek… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s