the holy heart of Surabaya’s heritage

Kesendirian adalah semacam kontemplasi terhadap diri bahwa kita hadir didunia dan pergi dari dunia adalah dalam kesendirian yang abadi.

Sebuah prolog yang kudapat ketika pandang kuterawang jauh menembus kaca jendela usang kereta api rapih dhoho 05.00 pm. Tak kusangka perjalanan hari ini berhasil kulalui sendiri, Kediri-Surabaya, Surabaya-Kediri.

Semuanya berawal dari sebuah keinginan yang telah memuncak untuk berkunjung ke Sunan Ampel, Surabaya. Entahlah, dari ketika pertama kali mendengarkan cerita hidup Sunan Ampel yang kubaca dari buku yang dibelikan ayahku, buku tentang riwayat sunan-sunan yang sepulang dari ziarah ayah selalu membelikan ku oleh-oleh buku cerita dari para wali, namun cerita dari Sunan Ampel inilah yang membuat aku tertarik atas segalanya. Dan ketika melihat gambar wajah Sunan Ampel difoto, diposter-poster, yang aku bertanya-tanya pada diri apa benar seperti itu wajah beliau, mengingatkanku kepada kakek ku yang kuingat samar yang itu juga aku ketahui dari sebuah foto buram ketika aku masih kecil.

menara masjid Sunan Ampel, Surabaya

menara masjid Sunan Ampel, Surabaya

Cerita menarik lainnya adalah cerita dari mbah sholeh yang hidup dan mati lagi sebanyak 9, sehingga kuburannya pun berjajar sebanyak 9 kuburan. Aku masih ingat ayahku menceritakan cerita tentang mbah sholeh ini, beliau adalah seorang tukang sapu masjid yang bila beliau yang menyapu maka masjid dan sekitar masjid akan selalu bersih, dan ketika mbah sholeh meninggal masjid tidak lagi bersih seperti ketika ada mbah sholeh, dan Sunan Ampel pun berkata, “Andai saja mbah sholeh masih hidup.” Seketika itu juga mbah sholeh hidup lagi dan begitulah hingga 9 kali. Begitu cerita yang menempel yang menjadi long term story dalam diri.

Dalam liburan yang panjangnya bila diukur telah sampai di kilometer dekat antartika ini, dengan segala macam kegiatan yang dilakukan dengan moto liburan ku yang berbunyi, ‘tiada hari tanpa acara’, maka terjadikanlah berbagai macam liburan yang terbentang selebar pulau jawa bagian timur. Sebagai penutup, inginlah aku pergi ke Sunan Ampel sebagai liburan pamungkas dan kesana sendiri!

Sendiri? Apa iya berani? Pertanyaan awal yang muncul, dan kujawab jujur, agak sedikit tidak berani. Bahkan ketika telah sampai di stasiun dan dengan tiket ditangan 5 menit sebelum kereta datang masih ada keraguan yang berkecamuk dalam hati dengan berbagai asumsi pertanyaan yang membuat diri ragu. Jadi berangkat tidak?

Terlihat dalam selimut embun yang perlahan menghilang dengan terbitnya matahari tanggal 27 Februari 2012, kereta api yang memberangkatkan dirinya dari stasiun blitar tujuan Surabaya kota datang. Dengan embusan nafas yang panjang, kulangkahkan kaki untuk naik ke dalam kereta dan mencari tempat duduk ku. And yeah, I was going there, completely, alone!

Tak ada cerita spektakuler yang kudengar, hanya cerita biasa yang tak lebih menarik dari gelisahnya diri atas bagaimana setelah ini. 3 jam-an kemudian sampailah di stasiun Surabaya Kota. Aku heran, dalam plang yang menancap di setiap stasiun yang menjadi identitas dari masing-masing stasiun, padahal jelas tertera bahwa stasiun terakhir adalah Stasiun Surabaya Kota, namun kenapa banyak orang menyebutnya dengan stasiun Semut, dan kutemukan jawabannya sendiri.
Sampai di stasiun semut, kulihat sekeliling dan kutemukan jawabanku sendiri kenapa disebut stasiun semut, karena memang seperti ‘leng’ semut tempat itu. Dan baru kali ini aku lihat rel yang berujung, rel paling ujung, rel yang terhenti. Lucu melihatnya dan merasa benar-benar sedang berada di lubang semut raksasa. Suasananya sungguh menggidikkan diri, namun sangat seru. Sebelum benar-benar meninggalkan stasiun, aku pesan tiket untuk pulang untuk sore nanti sebagai antisipasi kehabisan tiket kereta mengingat kebijakan dishub perkeretaapian yang telah berubah.

Menuju ke Sunan Ampel, awalnya berkeinginan untuk jalan kaki, namun, karena ketidaktahuan timur barat yang ketika sampai di depan gerbang stasiun semut seperti berada disuatu tempat antah berantah yang benar-benar entah, membuatku tak ada pilihan lain selain naik becak.

Sepanjang jalan, mata disuguhi dengan pemandangan kota lama Surabaya. Walau itu juga merupakan kesimpulanku sendiri melihat jejeran bangunan tua yang tetap ditempati dan terlihat begitu klasik, tua dan berserakan dimana-mana namun terlihat tua dan berharga. Nama-nama tokonya pun masih ada yang bertuliskan ejaan lama. Bangunan-bangunannya tertutup lumut yang mongering yang mengandung debu khas pemandangan dinding rumah-rumah tua. Sedikit angker memang, namun indah terlihat dimataku.

Beberapa meter setelahnya sampailah di plang nama besardi gapura simpang 4 tak beraturan bertuliskan Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel. Tak dapat terelakkan, aku pun tersenyum melihatnya, I can’t believe I was there with no family around me.

gerbang selatan Masjid Sunan Ampel, Surabaya

gerbang selatan Masjid Sunan Ampel, Surabaya

Sampai di gerbang masuk yang tepat menuju masjid Agung Sunan Ampel. Berjalan menyusuri kios demi kios yang berjualan aneka macam oleh-oleh baik makanan dan juga barang.

Masjid Sunan Ampel. Kuno dan Klasik. Masjid ini bergaya arsitektur jawa kuno yang terlihat dari bentuk cungkup masjid yang dibuat seperti atap joglo khas rumah-rumah jawa, dan juga bergaya Arab Islami yang terlihat dari beberapa aksen baik dipintu, ditiang sokong dalam masjid dan lafadz-lafadz Al-Quran dibeberapa tiang penyangga.

bentuk pintu bagian selatan Masjid Sunan Ampel, Surabaya

bentuk pintu bagian selatan Masjid Sunan Ampel, Surabaya

arsitektur bagian dalam Masjid Sunan Ampel, Surabaya

arsitektur bagian dalam Masjid Sunan Ampel, Surabaya

lorong masjid Sunan Ampel, Surabaya

lorong masjid Sunan Ampel, Surabaya

Semacam satu ketentuan yang wajib bahwa tempat sholat pria dipisah dengan tempat sholat wanita, dan terdapat space yang sangat luas untuk tempat sholat pria yang membentuk lorong panjang dengan tiang-tiang yang berkumpul pada satu titik horizon dengan cahaya disebrang sana. Sungguh indah sekali.

gerbang makam Sunan Ampel, Surabaya

gerbang makam Sunan Ampel, Surabaya

Gerbang ke makam. Yang setiap gerbang dari gerbang depan hingga ke makam adalah bergaya sama, seperti pintu menuju sebuah keraton. Cat hijau muda dan tua serasa senada dengan keadaan sekitar yang kebetulan juga sangat serasi dengan baju yang sedang ku pakai ketika kesana. Sekedar curhat, cape hijau tua yang ku pakai itu adalah made by myself, aku membuatnya sendiri. Is that good right?

Terbacalah surat yasin dan beberapa doa yang kupanjatkan kepada Allah disana. Ibuk selalu berkata, jangan kita meminta doa ke wali, wali itu adalah seseorang yang dekat dengan Allah, jadi bila kita mendoakannya maka insyaAllah doa kita akan dikabulkan oleh Allah, sederhananya, seperti kita yang sedang bersholawat kepada Nabi Muhammad, kita akan dapat syafa’atnya.

Setelah selesai dan puas di area masjid dan makam, menujulah ke pasar samping selatan masjid yang kalau ikut rombongan orang-orang ziarah tidak akan aku dapat pergi ke sana, dan yang namanya pasar, isinya tetap sama, kios, penjual, barang dagangan, minyak wangi, tasbih, baju-baju, kurma, dkk, dan ternyata tembus ke kompleks perumahan yang pemiliknya sebagian besar berhidung mancung khas orang arab. Mungkin ini bisa disebut pula sebagai kampung arab, yang lebih kepada manusianya, bukan bahasanya.

penjual jajanan di sekitar Ampel

penjual jajanan di sekitar Ampel

Dengan melihat sekitar jalan menuju ke stasiun yang membuatku tertarik mengabadikan segalanya lewat jepretan foto, maka terputuskan untuk jalan kaki ke stasiun. Dan benar, aku dapatkan tempat-tempat yang itu lebih kepada bangunan-bangunan kuno klasik, ada yang berarsitektur bangunan tiongkok hingga arab kuno. It’s real such a great heritage!!

menara langgar sudut jalan gapura Sunan Ampel

menara langgar sudut jalan gapura Sunan Ampel

semacam menara tiongkok bukan? selatan Ampel

semacam menara tiongkok bukan? selatan Ampel

Ungkapan terima kasih tak terkira kepada Allah yang telah mengijinkanku mengadakan perjalanan yang bisa dibilang nekat ini, dengan didampingi oleh photographer yang ndak kusangka dapat didampingi olehnya. And yes, that’s my great journey ever!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s