malam tak terduga dengan bunda Pipiet Senja

Malam itu, Rabu 7 Maret 2012, adalah malam yang sungguh tak pernah kusangka akan menjadi malam yang bersejarah dalam hidup. Malam yang terlewati beberapa masanya dengan perasaan meledak-ledak seperti permen bertoping asam pedas. Bagaimana tidak, bertemu dengan seseorang yang sungguh ingin ditemui adalah sebuah kebahagiaan tiada akhir dan disanalah puncak kebahagiaan itu.

Sesuai jadwal, seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada jadwal yang mengejutkan karena setiap malam sehabis maghrib hanya terhabiskan untuk berkutat dengan pelajaran anak SD dengan anak-anak kecil yang kelebihan energi yang sungguh buat gregetan saja, hanya itu. Entah itu semacam rutinitas atau konsekuensi diri, yang jelas hanya seperti itu kegiatan sehabis maghrib.

Namun hari itu lain. berawal dari sebuah tulisan di timeline facebook dari mbak Winwin yang memberi kabar bahwa ia akan mengunjungi Kediri, yang itu adalah kota ku tercinta, hingga terkirimlah beberapa teks pesan dengan berkeinginan untuk bertemu satu sama lain.

Mbak winwin, seseorang yang kukenal dari dunia maya, tepatnya facebook, yang malam ini diberi kesempatan dari-Nya untuk bertemu di dunia nyata. Pertanyaan demi pertanyaan pun kupertanyakan hingga pada jawaban keberapa aku berteriak histeris karena suatu pertanyaan yang ku ajukan dan dengan jawaban yang membuatku hampir tidak percaya. Yang ternyata, mbak winwin ke Kediri dengan tujuan Pondok Pesantren Al-Amin Kediri untuk mengadakan bedah buku di sana dengan bunda Pipiet Senja sebagai pembedah bukunya.

Excited indeed!!

Bertemu dengan penulis nasional seperti bunda pipiet sendja adalah sesuatu yang langka terjadi. hingga, dengan tidak berpikir panjang berangkat lah aku menuju ke ponpes al-Amin Kediri.

Kesan pertama datang, sungguh, bener-bener semacam suasana di sebuah pondok (memang kan?). Mulai dari suasana, kamar-kamar bersusun, rak-rak tempat sepatu dan gayung, kolam-kolam ikan, kumandang suara-suara ayat-ayat-Nya, para santri yang berjalan berlalu lalang dengan kitab-kitab ditangan. Sungguh, benar-benar aku ingin bisa merasakan tinggal di pondok.

Menujulah aku yang kala itu ditemani oleh teman-teman sekelasku yang mondok disini untuk keliling-keliling, melewati kolam-kolam luas, tangga-tangga yang menuju ruang-ruang luas, dan bilik-bilik kamar yang didalamnya terdapat santri-santri putri dengan segala macam kegiatannya. Dan aku pun diajak pergi ke salah satu kamar teman ku, dan tau apa perasaan ku saat itu? I feel like in home. Mungkin karena ketika kecil terbiasa dengan ramainya kakak-kakak dan sekarang harus seperti anak tunggal dirumah, dan di sini, satu kamar dihuni oleh beberapa orang yang itu artinya, kamu tidak sendirian. Want it so much..

Mendekati pukul 8, teman-teman ku yangs edari tadi telah siap untuk mengikuti diniah, semacam ngaji kitab malam hari disebuah ruangan yang luas yang duduk mengelilingi pak ustadz yang mengajarnya. Aku pun ikut dengan sembunyi-sembunyi dan duduk dibelakang sokong tiang agar tidak terlihat oleh pak ustadznya. Namun, karena bedanya baju yang aku pakai membuat para santri putri pada melihat kearahku. Artis dadakan, iya.
Beberapa menit setelah itu, karena keinginan yang sangat untuk bisa bertemu dengan mbak Winwin aku pun beranjak menemuinya yang sedang beristirahat di rumah bu nyai pondok. Dan, waa..jreng-jreeeng.. akhirnya bertemu dengan mbak Winwin yang kukenal lewat dunia maya yang akhirnya pada malam itu dipertemukan di dunia nyata. Pelukan pun tak terelakan, rasanya seperti bertemu kembali dengan saudara yang sudah lama tidak bertemu, padahal sebelumnya belum kenal sama sekali. Belum selesai kebahagiannya atas pertemuan dengan mbak Winwin, tiba-tiba mbak Win berkata, “dek, ini dia bunda Rahayu.” masyaAllah, double excitement directly!! Bunda Rahayu Wilujeng, kenal via facebook juga yang aku sangat interest dengan domisili beliau sekarang, yaitu Semarang, sebuah tempat yang sangat-sangat ingin aku kunjungi, entah kenapa, namun sungguh aku ingin ke Semarang. Bahkan liburan kemarin telah membuat rencana yang sangat matang untuk pergi kesana, namun doa ibu lebih kuat daripada doaku, hehee..

Euforia bertemu pun kita habiskan untuk take pictures yang kala itu Pak Ridho salah satu official dari Bunda Pipiet Senja sedang menata-nata buku, yang kami bertiga dengan innocent face berfoto-foto dengan buku-buku beliau dan meminta beliau untuk memotret kita, hehee..masyaAllah. Namun Pak Ridho sangat baik hati.
Saat yang ditunggu-tunggu datang. Bunda pipiet senja telah selesai istirahat dan menujulah beliau ke beranda rumah tempat aku, mbak Winwin dan Bunda Rahayu masih sibuk dengan cekrek-an foto-foto. Dan waaaaaaaaaa.. histeris sangat ketika bunda pipiet senja datang. Seperti mimpi, seperti tidak percaya, seperti bohongan, namun benar-benar nyata. Aku bertemu penulis yang sangat produktif sekaliber Bunda Pipiet Senja. Extremely happy, excited, and all of the feelings come into the one!!

Acarapun segera dimulai dan kami bertiga dengan bunda pipiet senja menunggu acar dimulai di backstage masjid yang disana kami mendengarkan cerita bunda pipiet yang sungguh beliau adalah seseorang dengan sejuta cerita. Hanya beberapa menit saja aku duduk di sebelah beliau telah mendapatkan banyak cerita, cerita tentang kejadian rok yang robek tepat ketika akan menghadiri sebuah acara yang daripadanya bunda pipiet harus memakai baju yang bau pinjaman dari panitia, cerita di sebuah event yang bunda pipiet dikira penjual gado-gado dan lucunya ditanggapi sebagai penjual gado-gado juga oleh bunda pipiet, dan ketika mengetahui bahwa beliau adalah guest starnya langsung minta maaf orang yang mengira bunda pipiet senja sebagai penjual gado-gado. masyaAllah, sederhana dan apa adanya. Itulah bunda pipiet senja.

Acara pun dimulai dengan peserta bedah buku yang sangat antusias yang terlihat dari penuhnya masjid Al-Amin kala itu. Bunda pun memulai dengan menceritakan pengalamannya yang penuh dengan motivasi diri dan juga cerita hidup yang menginspirasi, dan tentunya isi buku dari Orang Bilang Aku Teroris yang bila itu dibuat akronim jadi OBAT. Buku yang akan menjadi obat bagi pembacanya. Obat anti galaunya anak muda. Begitulah kata bunda pipiet.
Semakin malam semakin seru acara yang ada, namun semakin malam juga semakin aku risau karena harus pulang dengan segera. Dan akhirnya, walaupun acara belum selesai dan dengan berat hati aku pun pamit pulang.

dari kiri ke kanan, Mbak Winwin, Bunda Rahayu, Bunda Pipiet Senja, dan saya

dari kiri ke kanan, Mbak Winwin, Bunda Rahayu, Bunda Pipiet Senja, dan saya

Dengan segala rasa syukur, kuucapkan terima kasih kepada Mbak Winwin Faizah, Bunda Rahayu Wilujeng, Pak Ridho, dan tentunya Bunda Pipiet Senja atas pertemuan yang sangat berkesan. Kapan ya bisa bertemu lagi? Semoga Allah memberika kesempatan kedua, ketiga dan selanjutnya selanjutnya lagi untuk bertemu. insyaAllah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s