batik “warisan budaya” Kediri

Batik, dengan segala proses panjang nan pelik dalam pengerjaannya, mengandung sebuah cirri diri serta merupakan sebuah bentuk kontemplasi atas kesabaran, kelembutan, imajinasi, tenang dalam hidup dan ketegasan dalam setiap pengambilan keputusan ̶̶ Tutut Indah Widyawati

Batik Kediri

Batik Kediri

Batik, bila kita berbincang tentang batik pasti akan tertuju pada segala baju dengan motif tradisional dengan warna-warna yang cenderung pekat dan gelap. Itulah batik dalam pemaknaan masyarakat luas. Namun sekarang aku tau bahwa, batik tidaklah se-simple itu.

Ketauanku bermula saat aku mengikuti batik class yang diprakarsai oleh ibu bupati Kediri yang dalam penilaianku sekilas beliau sangat menyukai seni, bekerja sama dengan dosen dan mahasiswa jurusan seni Universitas Kristen Petra Surabaya. Acara diadakan selama 2 hari, tanggal 22-23 Juni 2012 di pendopo alun-alun kabupaten Kediri. Kenapa penuturannya jadi seperti berita ya? -_-

Aku beserta beberapa teman-teman yang kala itu hari terakhir UAS yang selama pelaksanaannya kunilai sangat aneh dan membuat aku berkali-kali harus melirik sinis serta gemes terhadap pelaksanaan UAS, tapi Alhamdulillah sudah berakhir yang dengan berakhirnya UAS mulailah aku mendapat kegiatan baru yaitu membatik.
Kelas dimulai ketika brunch time tiba, dimulai dari perkenalan dari dosen-dosen Petra yaitu Pak Tono, Pak Pandu, Pak Widhi, Mbah to dan dua orang mahasiswa Chinese. Perkenalan tentang batik dibawakan oleh Pak Pandu yang terlebih dahulu member kita pertanyaan tentang, “apa itu batik?” jawaban demi jawaban pun terlontarkan dalam mendefinisikan batik, namun jawaban yang terjawabkan adalah kurang tepat bila melihat definisi hakiki dari batik itu sendiri. Batik bukanlah hanya mengacu pada motif saja, bahkan kain polo situ telah bisa disebut batik, definisi batik sebenarnya adalah terletak pada prosesnya. Bahkan ketika Indonesia mendaftarkan batik ke UNESCO dengan wacana Batik adalah warisan budaya asli Indonesia, yang dilindungi bukanlah batiknya namun prosesnya lah yang dilindungi.
Bahkan, kain-kain yang dinilai masyarakat sebagai batik adalah sebenarnya bukanlah batik, namun hanyalah sebuah kain yang dicap seperti motif batik yang bila kita lihat sisi dalamnya pasti tak akan sama dengan sisi luar. Batik yang asli adalah seperti dua mata koin salah cetak yang keduanya adalah bergambar sama, motif dari sisi luar dan dalam adalah sama hanya motif dalam akan terlihat seperti ketika kita mencerminkannya. That’s the original batik.

Batik yang asli memperlukan proses yang panjang dalam penciptaannya, dari mulai mempersiapkan kain, mendesign motif, menyanting, mewarna, menembok, mewarna lagi hingga ngorot. Kain yang digunakan bukanlah kain yang sembarangan, dan yang dapat digunakan untuk membatik antara lain seperti mori, blaco, sutra,dan lain-lain. Setelah mempersiapkan kain, mulai lah sebuah proses membuat pola dan design motif yang nantinya dari motif itu akan diketahui asli pola dari batik tersebut karena masing-masing daerah mempunyai cirri khas tersendiri untuk motif batiknya, seperti batik pekalongan yang cenderung kaya warna, batik jogja, batik solo dan lain-lain. Setelah kita mendapatkan pola, proses selajutnya adalah proses menyanting.

proses menyanting

proses menyanting

Sebelum menyanting, terlebih harus tau dulu apa saja peralatan untuk menyanting. Dari apa yang sudah kujalani dalam proses menyanting, kudapati sebuah definisi sederhana dari menyanting, yaitu membuat pola agar menjadi nyata. Menyanting juga berfungsi sebagai penyekat pola satu dengan pola yang lain. menyanting juga dapat bermakna sebagai pembatas warna. Dan lain-lain yang ketika melakukan proses menyanting, kutemui banyak kata-kata untuk mendefinisikannya. Isi canting adalah lilin atau malam yang bertugas sebagai penghalang warna saat pewarnaan dan juga mempertahankan warna. Proses menyanting pun ada yang bernama ceceg, garis dan juga tembok, namun aku lupa dengan istilah nama-nama cantingnya.

Pembatik-pembatik tradisional pasti akan memakai canting biasa dengan malam yang dimasak dalam wajan kecil, namun ketika praktik kemarin aku menggunakan canting elektronik yang lebih simple lebih cepat dan lebih mudah dibanding canting tradisional yang pasti kita harus meniupnya terlebih dahulu untuk menstabilkan suhu malam dan harus berhati-hati agar tidak menetes di kain.

Proses menyanting sudah terceritakan walaupun dengan penjelasan sejauh ingatku saja, tibalah saatnya untuk pewarnaan yang karenanya berhasil mengubah tangan ku menjadi tangan zombie yang aku sendiri merasa takut ketika melihat tanganku, hahaa.. tapi ndak apa, itulah seni dan kenang-kenang-an dari proses membatik kemarin. Seni adalah bagaimana caranya merubah kotor menjadi indah, weitss!!

eksperimen pewarnaan batik

eksperimen pewarnaan batik

Pewarnaan, ada dua hal juga, mewarna dengan warna alami yang berasal dari alam dan juga pewarnaan dari bahan-bahan kimia dengan takaran dan komposisi yang harus presisi. Namun perlu diketahui, warna bahan kimia awalnya juga tetap berasal dari warna alam. Benar. Dan ketika praktik mewarna kemarin kita menggunakan pewarna kimia yang didahului dengan pemberian materi untuk rumus-rumus komposisi dari masing-masing larutan. Menurutku, pada proses pewarnaan inilah kusebut sebagai proses yang paling rumit dan proses yang menentukan kualitas batik nantinya karena kita harus tau perpaduan antara komposisi bahan larutan satu dan dua yang jika beda komposisi akan berbeda juga warnanya. Proses pewarnaannya sendiri adalah ada dua, dengan cara colet dan juga celup. Colet adalah mewarna seperti kita sedag melukis, bila celup maka kain kita celupkan seluruhnya ke pewarna.

Terdapat rumus untuk membuat larutan 1 untuk warna, dan larutan 2 yaitu penguat warna, namun catatanku tentang komposisi larutan tertinggal maka tidak kutuliskan disini, insyaAllah kalau catatannya sudah ada akan kubagikan disini.

pewarnaan batik pada celup yang pertama

pewarnaan batik pada celup yang pertama

Proses pewarnaan pada pratik pewarnaan kemarin adalah dengan celup, caranya dengan terlebih dahulu kita basahi kain yang telah lengkap dengan cantingan malam, basahi hingga seluruh permukaan basah yang pembasahan kain ini dimaksudkan agar dalam proses celup nanti warna bisa terserap lebih sempurna. Lalu kita masukkan ke larutan satu yang ketika dicelup pada larutan 1 belum mengalami perubahan warna yang signifikan, baru ketika masuk dilarutab dua sim salabim berubah menjadi warna baru yang dalam setiap pengangkatan kain tercipta sejuta kejutan atas warnanya yang tak tertebak.

Proses selanjutnya adalah nge-block atau nembok, yaitu bila kita menginginkan warna lain pada motif batik kita, menemboknya pun tetap dengan malam. Setelah itu kita masukkan lagi ke larutan seperti semula tentunya dengan komposisi larutan yang berbeda, setelah mendapatkan warna yang diinginkan tibalah proses terakhir yaitu ngorot. Proses ini adalah sebuah proses untuk menghilangkan malam atau lilin dengan kain dengan cara merebus kain dalam air mendidih.

Finally, jadilah kain batik yang sungguh ketika kau melihat hasilnya, walaupun masih clemot sana sini, namun my heart feels weird inside knowing that’s my hand made hingga mata pun berbinar karenanya. Kubuatkan segelintir kata sebagai penutup postingan ini.

Batik dengan segala prosesnya menyimpan sejuta rahasia tentang perasaan pembatiknya.

3 thoughts on “batik “warisan budaya” Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s