enchantment of Madura Island #1


Selama aku masih bisa mendengar suara adzan bergema, maka itu adalah masih rumahku, Madura.. – Tutut Indah Widyawati @tiwwiDy

Seperti itulah quote yang kudapatkan dalam diamnya diri menerawang jauh ke garis horizon laut yang perlahan dileburkan oleh matahari yang kian menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Suara adzan pun sudah tak lagi terdengar menggema yang ketika tadi kuniatkan diri untuk berniat memenuhi panggilannya. Niat dulu saja bila dalam perjalanan dan sedang tidak memungkinkan untuk melakukan sholat, pesan ayahku ketika dulu sering traveling bersama.

picturesque moment at Selat Madura

picturesque moment at Selat Madura

Yaa, disanalah aku kala itu, di atas kapal penyeberangan yang melintasi selat madura disetiap harinya. Sejuta perasaan pun hadir kala itu. Takjub, merinding, excited, takut, terkatung2, damai, entahlah, segala perasaan muncul karena itulah kali pertama aku melakukan perjalanan jauh ke seberang pulau hanya ddengan seseorang yang juga baru pertama kali melakukan perjalanan tanpa keluarga yg dituakan.

Berdua dengan seseorang yang kamarku dan kamarnya bersebelahan, yang Bluetooth pun bisa connect saking dekatnya, Silviana, kami pun bertolak dengan bus ke terminal Bungurasih Surabaya, atau Purbaya deh, sama aja. Truly saying, perjalanan ini adalah perjalanan jauh pertama kali untuk kami. Madura. Yang kami pernah kesana ketika masih SD dan itu pun dengan keluarga, dan kali ini kami sendiri, kami yang tidak tau menahu tentang akses jalan ke Madura dan hanya dengan niat kuat dan kenekatan saja kita bisa sampai di sana dan Alhamdulillah saya bisa bercerita ini kepada bapak ibuk di rumah.

Ada apa sih di Madura hingga nekat seperti itu? Wanna know about the answer?? Let me know you!
Kenekatan kami berdua bukan tanpa alasan, namun dengan alasan yang sangat kuat dan rasional, wuih! The reasons are, mengisi liburan semester, ingin mengikuti acara Blogilicious di Madura, dan menjadi backpacker sejati. Dan akhirnya, jumat 6 Juli 2012 tepat pukul 12.56 pm kami berangkat menuju Madura.

That was an extraordinary journey.

Selama di bus, seperti biasa, melihat pemandangan dari kota ke kota, mendengar genjrengan para pengamen yang turun naik dengan variasi suara yang kadang membuat saya tertawa dan rolling my eyes, bau rokok yang membuat saya harus pura-pura batuk untuk menyadarkan perokok, hey bung ini tempat umum! Dan akhirnya sekitar pukul 05.30 pm kami sampai di pelabuhan Perak Surabaya setelah transit bus kota di terminal Purbaya.
Berusaha khusnudzon dengan segala hal, itulah yang kami lakukan melihat potret kehidupan pelabuhan yang kebanyakan serba keras. Akhirnya ketika maghrib tiba kami pun telah terombang-ambing di laut selat Madura, eh!

It was a picturesque moment!

twilight on Selat Madura

twilight on Selat Madura

Mosque or Church??

Mosque or Church??

shimmering night on Madura

shimmering night on Madura

Maghrib di langit selat Madura dengan blink-blink lelampu kapal dari yang besar hingga kecil, baik yang sedang berlayar maupun telah mengistirahatkan jangkar. Langit pun berwarna biru bersemburat merah jingga warna khas aurora, beautiful! Incredible! Subhanallah sungguh indah!

Setelah sekitar 1 jam-an berada di atas selat Madura nan kelam, eh, akhirnya kami pun menginjakkan kaki di bumi Madura, dan ini adalah kali ketiga kaki ku menginjak pada bumi ini. Ada semacam rasa aneh dalam hati, aneh yang mendekati perasaan bangga dan terharu, karena kaki ini dapat berpijak lagi di Madura. Namun rasa yang membuai tersebut seketika hilang ketika melihat kenyataan telah pekatnya langit pelabuhan kamal Madura. Kenapa? Karena secara sosio-environment yang namanya lingkungan pelabuhan adalah selalu lingkungan yang keras segalanya, dan disanalah kami, dua orang yang masih bingung harus melangkah kemana selanjutnya. Hingga sebuah kata-kata bijak pun muncul dalam pikirku dan kubuat sebagai quote dalam check in di foursquare ku,

“Orang baik pasti akan selalu bertemu dengan orang baik..”

And, we’ve proved it there. Kami pun dibantu mas mas yang sedari dari Bus Kota duduk berseberangan dan kami banyak tanya kepada beliau, yang dari logatnya, beliau adalah oreng Madura. Akhirnya kita berhasil naik dalam angkot, kalau di Madura disebut carry, bersama ibu-ibu yang pulang dari berdagang dengan dagangannya yang di-blek-blek-an di atas kami, dengan percapakan aneh menggunakan bahasa yang sama sekali tidak kita ketahui ditambah dengan sopir yang ngebut bak berada dalam lintasan F1. Saya dan silvi pun hanya bisa saling pandang bengong dan terus berdoa. Dan Alhamdulillah kita sampai di alun-alun bangkalan yang akibat percakapan dalam carry tadi kami langsung diantar mencari penginapan ke salah satu hotel yang ada namun, all booked!

Bertolak lah kami ke masjid agung bangkalan tepat di depan alun-alun Bangkalan yang saya merasa aneh ketika melihatnya karena alun-alun-nya lebih mirip dengan lapangan sepak bola namun segera ingat mungkin alun-alun ini juga berfungsi sebagai arena karapan sapi. Mungkin.

Sesampainya di masjid, terkesima, iya. Megah, selalu. Damai, pasti. Dalam hati aku berkata, Alhamdulillah 1 masjid lagi tersinggahi dan tersholati.

Setelah selesai berbenah dan melepat penat selama perjalanan, kami pun saling bertanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya tanpa ditanyakan pun kita sama-sama tau bahwa kami tak akan mendapat jawaban hingga kita sendiri yang memutuskan. Akhirnya, kami memutuskan untuk bermalam di LPM SM Universitas Trunojoyo.

Sedikit bercerita, aku tergabung dalam PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) yang cukup kenal baik dengan SekJend PPMI yang sedang mengenyam kuliah di UTM (Universitas Trunojoyo Madura), sebelum berangkat pun aku mengirim pesan singkat kepadanya dan mengabarkan kalau mau pergi ke Madura, serta merta dia nya berkata, kalau ke Madura tak mampir ke LPM akan berdosa! Hahaa.. dan kami pun sebenarnya telah dijemput di pelabuhan kamal namun karena banyaknya yang dihubungi dan sedikit miss communication akhirnya terdampar di bangkalan sekitar 20km an dari Telang. Dan memang tak ada pilihan lain, kami pun ke telang dan bermalam di kantor LPM SM UTM.

To be continued soon..

4 thoughts on “enchantment of Madura Island #1

  1. aih aih.. maaf ya mbak ..jadi bermalam di sekret..
    coba kasih tau dari awal, tak ungsikan di kosku sampean, maklum saat itu lagi sibuk di gedungnya, jadi saya jam 1 malam baru balik ketelang..hehe

    but, beribu0ribu terima kasih sudah datang mewakili daerah tercinta😀

    • hahaa, ndak apa lagi, jadi dapet pengalaman bermalam di sekret Trunojoyo, jarang orang bisa dapat pengalaman macam tu..😀

      he em, sama-sama, senang bisa ke Madura..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s