7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” JogjaKarta (bag 1)

Ditengah bulan yang serba sungguh sibuk dengan acara-acara besar yang cukup menguras tenaga dan juga tugas-tugas yang menumpuk serta mata kuliah yang sebagian sudah menjalankan UTS nya, aku mendapat kabar akan keberangkatanku ke Jogja.

Senang, bingung, kacau dan bengong seketika.

Bagaimana tidak sebelum tanggal pemberangkatan terdapat acara National English Olympiad di kampus, setelah itu acara Galeri Budaya Khadiri oleh PASAK (maaf teman-teman, lepas tangan sebelum rock on!), dan seminggu setelah itu acara reuni keluarga besar Bani H. Imam Musyahid ke 22 yang akan dihelat di rumah yang aku adalah sebagai EO-nya. Fyuuuh, kusebut ini sebagai pelarian diri dari sibuknya tanggung jawab, hehee..

Seperti yang pernah ku katakana sebelumnya, aku dan ketiga temanku, mbak farikha, mas anas dan mas ajib, terpilih sebagai pembatik terbaik dan mendapat kesempatan sekolah batik gratis ke jogja dengan sepenuhnya dibiayai oleh kabupaten Kediri. Setelah sempat tertunda akhirnya, tanggal 14 oktober, kami berangkat.

We start our journey by gathering in Wisma Tamu Chanda Bhirawa Kabupaten Kediri. Dengan memakai mobil dinas ber-plat merah, dengan pak sopir yang ramah yang membuat perjalanan 7 jam terasa menyenangkan dengan berbagai pemandangan yang kami temui.

Teak wood forest in the seasons turnover.

hutan jati saradan-caruban

hutan jati saradan-caruban

Jajaran hutan pohon jati yang meranggas dedaunannya akibat musim kemarau yang panjang membuat pemandangan sepanjang saradan-caruban begitu menarik. Entahlah, pepohonan tanpa daun yang gersang selalu akan membawa suasana damai di hati. Dan benar, jajaran pepohonan jati gersang diantara gundukan tanah-tanah tinggi ataupun landai membuat pemandangan yang berbeda dari kota kelahiranku, Kediri. Masuk lah ke daerah ngawi yang terkenal dengan pondok gontor putrinya, dan juga gerbang barat jawa timur sebelum akhirnya masuk di daerah sragen.

Di sragen inilah, kami beristirahat sebentar untuk makan siang dan sholat dhuhur. Setelah dirasa cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta. Sungguh, kurasa, jawa tengah itu sungguh terasa Jawa. Central Java is truly Java. Hanya dengan melihat rumah-rumah yang sebagian besar berbentuk joglo, baik itu yang masih sangat berbau traditional hingga rumah modern, semuanya beratapkan khas rumah jawa yaitu joglo. Dan juga dengan melihat dan meresapi setiap embusan anginnya, aroma khas jawa akan tercium, walaupun aku sendiri tak dapat mendefinisikan pengertian sejati dari Jawa.

Sragen-Klaten-Solo-Jogja-Bantul..

Bantul, di sini lah kami berempat akan menghabiskan waktu 1 minggu dalam hidup kami untuk mendapatkan beberapa pelajaran berharga tentang batik. Dan benar, memasuki Kecamatan Pandak, Desa Wiji rejo, kami disambut dengan deretan rumah-rumah produksi batik yang telah memiliki show room masing-masing dengan batik yang sungguh cantik. Mobil kami pun berbelok ke arah gang sempit yang ternyata kami menuju rumah produksi batik pertama di desa ini, batik TOPO HP. Dan di sinilah, batik akan kami pelajari..🙂

to be continued..

One thought on “7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” JogjaKarta (bag 1)

  1. Pingback: 7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” Yogyakarta (bag 2) | we wee world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s