“Sang Kiai” sebuah kisah perjuangan Hasyim Asy’ari

Kabar adanya shooting sebuah film yang berjudul “SANG KIAI” di sebuah pondok kecil yang lumayan dekat dengan rumah pun sudah tersiar kemana-mana bak aroma kembang kopi yang menyeruak atas suka cita menyambut musim penghujan tiba. Mendengarnya aku hanya menanggapi sederhana dengan hanya sedikit interest ingin melihat namun tak berniat. Teman-teman pun berkata, ada beberapa artis terkenal seperti adipati dolken, christine hakim, agus kuncoro, marissa, dll.

Aku pun bergeming, hingga suatu ketika ada seorang teman nge-share info tentang film tersebut dalam salah satu berita online yang mengatakan bahwa film tersebut mengisahkan tentang perjuangan Hasyim Asy’ari. Langsung seketika berniat untuk segera meluncur kesana karena kebetulan aku punya sebuah buku tentang perjuangan beliau yang berjudul MAHAGURU yang cerita hidup beliau sungguh penuh perjuangan dan cobaan. Hingga ketika aku bercerita kepada seorang sahabat dia pun berkata padaku,“Semakin dekat derajatnya dengan Allah semakin berat cobaan menderanya.” And my willingness can’t be beared anymore!! Akhirnya sore itu aku pun kesana dg sahabatku, nurul khotimah. Alhamdulillah-nya, karena bapak pernah mengajakku kesana, jadilah aku tau jalan belakang dari pondok.

Pondok Kapu, sebuah yang tidak terlalu luas namun sedari kecil aku tau banyak teman ku yang sekolah disana, dengan kiai yang ketika aku kecil beliau meninggal, Mbah Shodiq, lalu diteruskan oleh putranya yaitu Kiai Dawam.\

Lewat belakang pondok ternyata sepi, sebenarnya jalannya ditutup dengan kursi kayu namun ada celah sehingga dapat masuk. Ketika masuk dalam pondok aku dan nurul menjumpai seseorang yang berpakaian banser buluk warna hijau seperti prajurit jepang, karena bingung dengam kesepian dalam pondok dan banyak sekali properti-properti syuting akhirny kami pun milih untuk keluar dari pondok dan lewat sebelah timur pondok. Ketika sampai di depan pondok ternyata banyak sekali masyarakat sekitar dan juga orang-orang luar desa yang melihat proses syuting. Sebenarnya sih merasa sungguh ‘ngasin’ namun mau gimana lagi, keinginan untuk bertemu pemain dan meminta tanda tangan pada novel damien dematra ini sungguh meledak-ledak. Akhirnya kami pun berjalan ke tempat shooting yang di-setting tahun 40-an. Kulihat seliweran pemain pendukung dengan pakaian mereka yang buluk-buluk membuatku benar-benar terbawa pada zaman dahulu banget. Rumah Pak Kiai yang lumayan bagus telah disulap menjadi sebuah rumah kayu yang tempoe doeloe banget.

Aku dan nurul pun menuju rumah timur Kiai yang menjadi basecamp para artis yang kulihat di depan rumah itu telah terpenuhi oleh cewek-cewek yang pasti ingin berpose dengan adipati dolken. Adzan pun berkumandang, dengan alih-alih ingin sholat, aku mengajak nurul ke masjid dan ternyata, Cristine Hakim sedang duduk di serambi masjid. Waa, tanpa mau kehilangan moment dan sebenarnya selain kru film dilarang untuk masuk area masjid, namun dengan santai aku dan nurul berjalan dan meminta foto serta tanda tangan Bunda Christin! And here is my picture with her.. ^^

w/ Christine Hakim

w/ Christine Hakim

Sholat ashar pun selesai ditunaikan dan di pelataran depan masjid kami bertemu dengan Ikranagara, beliaulah yang memerankan Kiai Hasyim Asy’ari. Sungguh, wajahnya itu ‘wise’ banget, mirip dengan bapakku. Dan aku selalu senang dengan para orang tua karena terdapat sebuah kebijaksanaan dan cerita hidup yang panjang dalam setiap keriput dalam wajah mereka. Dan ini dia, foto dengan seseorang yang sungguh tampan, Pak Ikranagara. ^^

w/ Ikranagara, Sang Hasyim Asy'ari

w/ Ikranagara, Sang Hasyim Asy’ari

Alhamdulillah, telah mendapat 2 tanda tangan, dan iseng aku bertanya kepada mas-mas kru berambut kepang kecil-kecil tentang sutradara film ini, eh, langsung ditunjukan dan dapatlah foto dan juga tanda tanganya. Beliau pun bertanya yang kubawa buku apa, lalu kujelaskan mengenai novel yang mengisahkan tentang perjuangan Hasyim Asy’ari selama di tanah arab sebelum akhirnya mendirikan sebuah organisasi islam Nahdhatul Ulama. Pose dulu Pak Raka Prijanto..🙂

Raka Prijanto, Sutradara Sang Kiai

Raka Prijanto, Sutradara Sang Kiai

Dan akhirnya, shooting pun dimulai dengan mengambil set di dalam masjid. Proses shooting ternyata sungguh rumit, dalam satu adegan saja harus berkali-kali take dan kemarin yang kujumpai 1 adegan saja harus take 4 kali karena ada sebuah adegan menangis yang harus diperankan oleh Marissa. Dan akhirnya setelah take ke-4 sang sutradara berkata cut dan diikuti tepukan dari para pemain. Dan karena waktu sudah sore aku pun pulang, walaupun sebenarnya saat itu adipati dolken dan dimas aditya mendekat ke penonton yang ingin foto bersama, namun aku cukup puas sudah bisa berfoto dengan Christine Hakim, Ikranagara dan sang surtadara. Dan sekarang, tinggal menunggu premier film Sang Kiai di layar lebar 2013 mendatang.

Dimas Aditya dan Adipati Dolken

Dimas Aditya dan Adipati Dolken

Pondok Kapu, Pagu, Kediri

Pondok Kapu, Pagu, Kediri

para pemain pendukung film "Sang Kiai"

para pemain pendukung film “Sang Kiai”

suasana shooting film Sang Kiai di pondok Kapu

suasana shooting film Sang Kiai di pondok Kapu

10 thoughts on ““Sang Kiai” sebuah kisah perjuangan Hasyim Asy’ari

  1. Aku baca ini pas lagi demam. Baca ini jadi berkurang demamku. Aku bisa tertawa dan bahagia. Terima kasih atas artikel dan foto2 pengalaman menarikmu, niece. Salam hangat your uncle in Jeddah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s