beranda bercerita “episode = cerita para Kyai”

beranda bercerita

Moment setelah ashar dan menunggu tenggelamnya matahari hingga terdengar adzan maghrib di beranda depan rumah adalah sebuah moment berharga bagi ku, ayahku dan juga ibuku..

sungguh, aku ingin abadi dalam menit-menit berharga itu..

menit-menit dimana bisa berbagi cerita, berbagi pemikiran, berbagi perasaan, berbagi segalanya..
seperti hari ini, dan hari-hari sebelumnya..
terkadang hanya diam menikmati suasana sore nan tenang, terkadang mendengarkan lantunan suara Al-Qur’an, terkadang pula masing-masing antara aku dan bapak larut dalam bacaan kami masing-masing..
semuanya istimewa, sore yang istimewa, senja yang istimewa..
namun entahlah, aku ingin menulis tentang bincang-bincangku bersama bapak sore ini..

bermula dari perbincangan ringan yang entah tadi pada awal mula membicarakan apa, namun termulai dengan percakapan tentang film yang membuat diskusi tadi sungguh sangat menarik dan aku ingin menceritakan kepada semuanya..
berawal ketika aku berkata kepada bapak,

“bapak, misal nanti film Sang Kyai yang aku lihat di Pondok Kapu itu udah tayang tak ajak nonton yaa??”
“nonton ndek mana??”
“yaa ndek bioskop lah..”
“emang e ndak disiarkan di TV??”
“yoo endak, ndek bioskop.. Aku penasaran dengan adegan pas aku nonton dulu, ntar tak kasih tau adegan pas aku sedang di sana.. oiya, pas aku nonton dulu, aku ditanyai sutradarane bapak, kan aku bawa novelku tentang hasyim asy’ari kan, trus lha koq aku ditanyai, ‘hayo siapa pendiri NU selain hasyim asy’ari?’ aku ketawa tok, hahaa..”
“pendirine lak yo wahab chasbullah iku barang kan, Kyai Tambak Beras..”
“hahaa, aku lupa.. woiyo bapak, aku udah ngerti lo pondok Denanyar sekarang, pas ke Surabaya kapan lalu nglewati..”
“Denanyar.. Jombang Barat to??”
“He em, trus aku juga udah ngerti Pondok Jampes..”
“Jampes itu kan di gampeng rejo situ..”
“He em, pokok e ndek jalanan menuju jombang barat, pokok e pas ke surabaya dulu aku nglewatin.. Oiyo bapak, klo Kyai-nya Denanyar siapa??”
“Klo ndak salah, Kyai Khamid atau siapa gitu, he em Kyai Khamid..”
“klo Kyai-nya Lirboyo awalnya??”
“Kyai Lirboyo itu banyak, yang pertama kali dan belum ada pondok dan muridnya dulu Kyai Manaf, Kyai Manaf itu dulunya berguru kepada Kyai Kholil di Bangkalan.. ceritanya dulu, Kyai Manaf itu pergi ke bangkalan ndak bawa apa-apa hanya berbekal niat untuk meguru.. jan ndak bondo belas.. nyebrang selat madura dengan ikut nelayan yang nyebrang, sampai di pesisir ‘luru’ jagung sampek dapat banyak trus disunggi di bawa ke pondok.. sampai pondok ditanya sama mbah kholil, ‘apa yang kau bawa itu naf?’
‘jagung Kyai..’
‘yowis bawa sini, buat makan ayam..’
padahal Kyai Manaf mencari itu untuk makan tapi diminta sma Kyai Kholil yo dikasihkan. lantas Kyai Manaf hanya makan daun bentis.”
“hah?? daun bentis?? daun bentis i yang gimana sih bapak??”
“kui lo, yang buahnya pahit yang biasa buat jamu..”
“oalah iyaa iyaa iyaaa..”
“Hampir seluruh kyai dari tanah jawa itu bergurunya ke Mbah Kholil..”
“he em, hasyim asy’ari, ahmad dahlan, itu juga muridnya mbah Kholil Bapak.. tapi sebelum berguru ke mbah Kholil mereka ke Mekah dulu, lha Kyai Manaf ndak ke Mekah dulu belajarnya?”
“ndak, yo ke mbah Kholil itu..”
“pantesan orang madura itu agamanya bagus-bagus yo bapak..”
“woo yo pasti, didikan’e apik orang madura itu.. di setiap rumah pasti ada mushola kecil..”
“waah he em bapak he em, pas aku ke madura sama silvi dulu, pas selesai acara kan bingung nyari tempat buat sholat sekalian mandi, jane sih ada di masjid agung bangkalan tapi tulisannya ‘DILARANG MANDI’ ngunu jadi akhirnya tanya orang mushola terdekat trus akhirnya ketemu, pas aku nunggu silvi mandi kan aku ikut sholat jamaah, yang jamaah kebanyakan anak-anak bapak, cah cilik-cilik ngunu, trus setelah sholat mereka ndak langsung pulang atau rame dewe tapi mereka malah ngaji satu per satu tanpa dikomando dulu untuk memulai ngaji, rasane nu wis beda banget dengan suasana ndek sini bapak..”
“lha yo kui, wong madura iku didikan’e apik, tapi yo kui kalau udah berantem ya bisa bacok’an..”

lantas hening dan adzan maghrib pun terdengar dari masjid barat rumah yang ku kira aku sudah sangat kenal dengan suara adzan itu dari kecil. Adzan yang tidak pernah berubah, dan memang sang muadzin sungguh seseorang yang istiqomah dalam tugasnya memanggil hamba Allah untuk menghadap dalam adzan maghrib..

mungkin kemarin, hari ini dan esok selalu akan ada sebuah cerita yang patut untuk dibagikan kepada bapak dalam waktu senja menjelang maghrib tiba.. cerita-cerita yang pantas untuk dibahas dalam diskusi kecil sambil menunggu panggilan Allah datang yaitu waktu maghrib..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s