7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” Yogyakarta (bag 2)

Yogyakarta, entah kenapa sore ini aku merindumu dan memacu hasratku untuk melihat ulang potretku yang tertangkap di beberapa sudut kotamu, dan mulai meneruskan ceritaku tentangmu yang sempat mengurung dengan segala kiprahku.

aah, semua berawal ketika beberapa hari ini bercakap-cakap dengan banyak orang dengan aksen yang berbeda. Yaa, aku menyadari bahwa satu bahasa bisa menjadi sangat kompleks, seperti bahasa ibuku, bahasa jawa. Sebuah bahasa daerah di Indonesia dengan pencakap terbanyak nomor 1. Hebat bukan??
Guru bahasa daerahku pernah berkata bahwa Bahasa Jawa adalah sebuah dengan banyak tingkatan, dari mulai yang kasar (ngoko) hingga yang paling pun ada (kromo inggril).

Lantas, apa hubungannya dengan cerita Yogyakarta??
wait, don’t be so hurry!! Ceritanya, beberapa hari ini aku mengobrol dengan seseorang, sebut saja Mr. X dengan logat bahasa jawa yang menurutku sangat kasar tapi yaa kumaklumi karena Bahasa Jawa memiliki tingkatan yang sangat lengkap yang beda di daerah satu dengan lainnya. Naah, hal itu mengingatkanku dengan pengalaman hebat bertemu orang-orang hebat dengan bahasa Kromo Inggil, dalam hidupku yang belum tentu sembarang orang dapat merasakannya yaitu menghabiskan 1 minggu dalam hidupku untuk belajar membatik di Bantul, Yogyakarta yang dibiayai penuh oleh pemerintah. Subhanallah, terkadang aku ingat betapa beruntungnya aku ini. How lucky i was!!

Cerita perjalanan dari Kediri-Yogya sudah kutulis sebelumnya dalam posting-an 7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” JogjaKarta (bag 1).
Sesampainya dari perjalanan yang lumayan lama dan melelahkan aku dan ketiga temanku yang terpilih dipersilakan istirahat di salah rumah pak Topo yang lumayan nyaman dan aku merasa seperti sedang di rumah sendiri karena keramahan dari orang-orangnya. Kala itu kami sampai di Bantul sudah sore bahkan hampir maghrib, dengan segera aku bebersih diri agar sisa-sisa capek perjalanan hilang.

Malam hari tiba dan kami pun diajak nge-teh bersama Pak Topo sekeluarga. Pak Topo pun bercerita dengan bahasa kromo inggil yang, masyaAllah, membuat diri merasa diajeni banget. Bukannya tidak biasa mendengarkan bahasa Jawa Kromo inggil namun memang keseharian dengan teman dan keluarga memakai bahasa Jawa biasa tidak kasar tidak juga begitu halus. Kami pun saling melemparkan pertanyaan seputar Batik, dan ternyata Pak Topo menjalankan bisnis batiknya sudah lebih dari 30 tahun!! Dan Batik Topo HP adalah rumah pengrajin batik pertama di Bantul.
Malam pun tak terasa dan akhirnya kami beristirahat untuk menyambut kejutan esok harinya..

Pagi pertama di Bantul, Yogyakarta. Sungguh, aku membenarkan pemikiranku sendiri bahwa, pagi di kota yang bukan tempat lahirmu adalah sebuah pagi yang begitu menginspirasi. Yaah, aku berada di salah satu desa di Bantul dimana semua orang begitu ramah, rumah-rumah yang jauh dari kesan angkuh, dan sinar matahari yang hangat. Tak mau kehilangan pagi pertamaku, aku dan temanku, mbak Faricha, berjalan-jalan berkeliling desa dan sungguh aku dibuat takjub dengan desa dengan keramahan orang-orangnya. eh, orang baik akan selalu bertemu dengan orang baik pula bukan??

Sarap bersama, eh, bener, pada awalnya aku merasa lucu ketika Mbak Mur, seseorang yang masakin kita makanan yang super lezat, yang dalam setiap paginya berkata, “monggo sarap rumiyen mas mbak..” hahaa, lucu dan bikin ngakak, kenapa? arti sarap yang selama ini ku tau adalah gila, lantas kita disuruh untuk gila dulu, hehee, lucu bukan? dari situlah aku tau bahwa masih banyak bahasa jawa yang belum aku ketahui. bukan many lagi tapi much..

Setelah sarapan kami lantas menemui Pak Topo dan beliau berkata hari ini akan diajak jalan-jalan keliling rumah produksi Batik Topo HP, sounds great, and yes it was!!

Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta

Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta

Ibu-ibu mengerjakan Batik Tulis (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

Ibu-ibu mengerjakan Batik Tulis (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

Batik Tulis (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

Batik Tulis (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

Kami pun berkeliling melihat-lihat di rumah produksi pertama yang bersebelahan dengan show room Batik Topo HP.
aku pun melihat beberapa ibu sedang asik melukiskan cantingnya pada kain batik setengah jadi dan aku pun bertanya-tanya beberapa hal tentang mereka setelah berkenalan. Dan lagi-lagi, mereka sangat ramah, sangat halus.
Masuk ke dalam, kutemukan satu meja untuk menge-cap batik, timbun-an kain-kain yang menunggu gilirannya untuk dicanting ulang, mesin penge-press kain batik, rak-rak canting cap, bak-bak dengan warna hitam hasil dari bermacam warna selama 30 tahun, bejana-bejana besar dengan luweng super besar pula tempat pelorotan malam, serta malam-malam yang siap mengisi canting-canting.
Terdapat sebuah tangga dari kayu yang setelah kutelurusi ternyata merupakan sebuah tempat penjemuran kain-kain batik yang satu inchi pun tak tersentuh oleh matahari.

Puas melihat-lihat, kami pun diajak ke rumah produksi batik kedua yang tak jauh dari rumah pertama, mungkin hanya berjarak 20an meter saja. Sampai disana, aku dibuat takjub karena 100% pekerja batik di sini adalah bapak-bapak. Terntaya di sinilah tempat dihasilkannya batik cap, yang rumah pertama tadi kebanyakan ibu-ibu karena disana tempat menghasilkan batik tulis.

Suasana Rumah Produksi Batik Cap TOPO HP, Bantul, Yogyakarta

Suasana Rumah Produksi Batik Cap TOPO HP, Bantul, Yogyakarta

pengerjakan Batik CAP (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

pengerjakan Batik CAP (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

peng-klowong-an Batik (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

peng-klowong-an Batik (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

macam-macam canting Batik CAP (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

macam-macam canting Batik CAP (Batik TOPO HP, Bantul, Yogyakarta)

Aku sempat bertanya, kenapa kalau lelaki membuat batik cap sementara perempuan batik tulis, salah satu bapak tersebut menjawab bahwa, sebenarnya tidak ada pakem yang mengharuskan seperti itu, namun pengerjakan batik cap itu sangat membutuhkan energi lebih, lain dengan batik tulis. Itulah sebabnya batik cap dikerjakan oleh bapak-bapak.
Di sini, ada 11 bapak-bapak yang rata-rata sudah 20 tahunan lebih bekerja di Batik TOPO HP, sama seperti ibu-ibu yang kutemui di rumah produksi pertama tadi. Jadi kebanyakan dari mereka sudah mendekati sepuh dengan wajah-wajah bijaksana mereka. Sungguh, aku langsung teringat dengan ayahku di rumah kala itu.
Terdapat 11 meja untuk mengecap yang ketika kupegang meja itu alasnya begitu dingin karena memang berisi gabus yang diisi air dan dilapisi plastik khusus.

Hari pertama kala itu setengah harinya terhabiskan untuk melihat-lihat dan selanjutnya saatnya merasakan menjadi pembatik yang sesungguhnya. Hari pertama, kami membuat batik tulis dengan media kain prissima.
Oke, to be continued later..

2 thoughts on “7 hari dalam Jika Aku Menjadi “Pembatik” Yogyakarta (bag 2)

  1. Batik TOPO HP memang paling terkenal di lingkungan pembatik di kec Pajangan Bantul. Karena mbah buyutku turun temurun berasal dari daerah itu, sampe skrg aku masih familiar dengan lingkungan tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s