Sarung, melestarikan budaya Islam bagi Perempuan

“Sarung merupakan sebuah kain persegi empat yang dalam pemakaiannya identik dengan kaum lelaki dan sarung adalah sebuah pakaian serba pantas, dari pengertian serba pantas tersebutlah inspirasi fashion datang..” @tiwwiDy

Selama ini sarung akan lebih sering terlihat di hari jumat dimana kaum lelaki muslim menggunakannya untuk menunaikan ibadah wajib sholat Jumat. Atau ketika lebaran tiba atau juga disaat tetangga baru saja disunat, pasti sarung menjadi busana wajib bagi kaum lelaki. Bagaimana dengan kaum perempuan??

Bagi perempuan, sarung bukanlah sebuah pilihan untuk ber-fashion dan memang jarang sekali saya temui ada perempuan yang memakai sarung. Kalaupun ada itu pasti perempuan-perempuan yang tinggal di Pondok Pesantren karena memang mereka tidak boleh menggunakan celana panjang dalam berpakaian. Dan inilah yang menggelitik saya untuk mencoba menggeserkan makna sarung dari yang hanya busana bagi kaum lelaki menjadi busana yang juga pantas bagi perempuan modern.

Nah, saya jadi ingat seorang Budayawan Kediri yang gemar sekali memakai sarung dan beliau menggunakan sarung di setiap harinya walaupun beliau bukan seorang muslim. Beliau mengatakan sarung adalah sebuah busana yang serba pantas dan merakyat, hampir semua lapisan masyarakat mempunyai sarung. Dan memang benar, sarung merupakan sebuah pakaian yang serba pantas dan bisa digunakan mulai dari acara besar seperti pernikahan, lebaran atau hari raya islam lainnya dan tentunya sebagai pakaian ibadah kaum lelaki, hingga sebagai selimut tidur atau penangkal dingin bagi para lelaki yang sedang ronda malam.

Setelah beberapa waktu terakhir bergulat dengan inspirasi fashion dari Batik, kemarin saya mendapat inspirasi lain dalam berbusana menggunakan sarung. Berawal dari ketidaksengajaan saat tidur-tidur-an di kamar ibuk yang diatas bantal bapak ada sarung terlipat dan dengan naluri designer yang ada pada diri, uhuk, sarung tersebut langsung saya coba di depan kaca untuk mendapatkan pola yang pas di badan, dan jreng jreeng, jadilah model baju terbaru yang hari ini saya pakai ke kampus.

Saya Bangga dengan Sarung

Saya Bangga dengan Sarung

Lucunya, ketika tadi pagi saya mau berangkat, saya tunjukkan dulu ke Bapak tentang salah satu sarungnya yang tadi malam saya minta dan sekarang jadi baju. Bapak pun terkesima lalu bertanya apakah sarungnya dipotong atau dijahit atau bagaimana, dan dengan tawa saya jawab, “yaa seperti ketika Bapak menggunakan sarung, hanya saja tidak saya ‘ubel-ubel’ di pinggang.” Bapak pun masih bingung dan saya tersenyum puas. Mungkin pikir Bapak “anak ku aneh-aneh ae” hahaa.. Sesampainya di kampus banyak yang bertanya, “loh, yang mbok pake itu sarung??”, “aah arek iki mesti aneh-aneh bajune”, “piye loh carane iki??”(yang ketika pertanyaan ini datang baju saya dibuka-buka karena dia penasaran, hahaa..) “iki pake dijahit atau tidak?” dan lain-lain.

Masih sekali dan sudah menginspirasi. Memakai sarung adalah merupakan budaya dalam Islam, dan dengan memakainya berarti membantu melestarikan budaya Islam itu sendiri, dan tentunya budaya Indonesia. And this is my way..🙂

7 thoughts on “Sarung, melestarikan budaya Islam bagi Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s