Relativitas disetiap seduhan Kopi

Coffee of SideWalk Cafe

Coffee of SideWalk Cafe

Seperti pagiku dahulu telah dekat dengan aroma sedap kopi hitam pekat buatan tangan ibuku untuk ayahku. Terkadang sesekali kuseruput diujung lepek yang akhirnya selalu meninggalkan butiran-butiran halus disekitar mulut. Pahit namun sedap. Meskipun begitu aku tidak pernah berniat untuk membuat secangkir kopi untuk kuminum sendiri. Kata ibu, kalau minum kopi malamnya pasti “ngancil”, istilah insomnia dalam Bahasa Jawa. Oleh karenanya aku tak berteman dengan secangkir kopi, aku hanya mengenalnya saja.

Dan ternyata, aku orang yang begitu kuno..

Mungkin baru akhir-akhir ini aku mulai berteman dengan kopi, walaupun masih sebagai teman yang jauh dan belum sedekat itu. Pada beberapa kesempatan ketika berbincang, kopi pun tersajikan. Dalam hati pun aku bergumam, ‘Ooh ini cara hidup orang dewasa”, ya sudah aku ikuti untuk sekedar masuk dalam dunia orang dewasa itu.
Perlahan aku pun mengenal kopi, mulai dari kopi hitam yang dulu ibu sajikan setiap pagi untuk ayahku, cappuccino, kopi susu, coffee latte, hingga kopi yang menurut penjumpaanku paling aneh penyajiannya yaitu Vietnam drip coffee. Oke, kuakui aku mulai suka dengan kopi.

Kebanyakan orang suka kopi mungkin karena ingin menikmati seseruput demi seruput kenikmatan yang ditawarkan oleh kopi, namun entah kenapa aku tak sesabar mereka ketika minum kopi. Atau mungkin karena aku yang belum menemukan kelezatan kopi yang diminum seseruput demi seruput itu sehingga aku selalu meminumnya sekaligus selagi hangat. Kuakui memang nikmat, benar-benar nikmat.

Kukira kopi selama ini hanyalah sebagai minuman pendamping rokok bagi para lelaki, namun setelah dapat menikmati aroma sedap kopi dari sisi perempuan-ku, aku pun jadi mengerti kalau kopi adalah sahabat bagi semua orang dan tak melulu sebagai pendamping rokok. Dalam setiap seduhan kopi apapun itu, seperti mengandung sebuah sihir yang sesuai dengan perasaan penikmatnya yang membuat diri sendiri berjanji dalam hati bahwa secepatnya harus meluangkan waktu untuk menikmati kopi lagi walaupun cangkir masih tergenggam erat dengan asap yang masih mengepul. Itulah sihir yang kutemukan pada kopi, sangat menginspirasi.

Tak heran bahwa para dewasa selalu menyeduhnya dalam setiap kesempatan dan menurut jiwa dewasaku, kopi dapat memperpanjang waktu yang hanya 24 jam saja dalam sehari itu. Waktu memang relative, dan menurutku kopi bisa membuatnya lebih panjang dari pada biasanya. Mungkin hanya merupakan perasaan, namun bisa dilogikakan. Hingga akhirnya aku berkesimpulan mengapa para dewasa suka kopi, karena mereka menginginkan dalam sehari waktu bisa lebih dari 24 jam. Para dewasa perlu waktu lebih untuk bekerja, perlu waktu lebih untuk berbuat bagi keluarga, perlu waktu lebih untuk sekedar ngobrol dengan teman lama. Dan dari kesimpulan itulah aku jadi tau pula alasan ayahku memimta ibuku untuk membuatkan secangkir kopi setiap paginya. Karena kopi menyimpan sihir untuk relativitas waktu dalah hari-harinya.

Aah, aku jadi ingin menyeduhnya lagi. Memang benar, kepulan asap kopi telah memberi inspirasi buatku untuk menyelesaikan cerita ini, kepulannya pula yang membuatku tau sebuah rahasia relativitas waktu dalam setiap seruputan kopi yang selama ini aku belum paham dengan cara hidup para dewasa yang begitu menikmati kopinya. Dan kopi itu pun berada didepanku sekarang. []

Coffee of Coffee time Cafe, Malang

Coffee of Coffee time Cafe, Malang

*tulisan ini diikut sertakan dalam Give Away Lomba Artikel “Penulis & Kopi” by Emak Lisa Gopar..

Give Away Lisa Gopar

Give Away Lisa Gopar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s