Jenang, Kuliner Tradisional Jawa

Jenang, sebuah kuliner tradisional jawa yang telah turun temurun keberadaannya. Sedari saya kecil hingga sekarang, jenang seperti selalu ada. Mulai dari pembangunan rumah, kelahiran anak, slametan, dan ritual-ritual kejawen lainnya, jenang abang dan putih atau dalam bahasa Jawanya Jenang Sengkolo, seperti menjadi sebuah makanan yang harus ada. Dan ternyata, kenapa jenang selalu ada dalam ritual tradisional Jawa, itu karena Jenang menyimpan sebuah filosofi kehidupan.

Jenang yang paling sering ada dalam ritual jawa yang saya tau adalah jenang sengkolo yang ternyata ada filosofinya. Kata orang-orang tua, Jenang abang dan putih itu menjadi symbol dari keberadaan manusia di dunia. Jenang merah melambangkan lelaki, dan jenang putih melambangkan perempuan. Namun saya masih bingung tentang hubungan dari sebuah ritual dengan filosofi jenang yang mengatakan jenang sebagai symbol eksistensi manusia. Atau mungkin menurut saya begini, adanya jenang disetiap ritual itu agar manusia selalu ingat kalau dunia terisi oleh dua esensi, feminin dan maskulin.

Jenang Sumsum

Jenang Sumsum

Jenang lain yang saya tau seperti jenang sumsum, jenang putih yang terbuat dari tepung beras. Jenang sumsum bertekstur lembut, beda dengan jenang sengkolo yang berbentuk seperti bubur nasi. Jenang ini biasa disajikan dengan “juruh gulo” atau saus gula merah, atau dengan santan sehingga disebut sebagai Jenang Kolak yang biasanya dilengkapi dengan ketan hitam, mutiara, ‘godir’ atau agar-agar, dan lain-lain. Jenang ini masih dengan mudah dijumpai dan mudah juga jika ingin membuat sendiri. Satu hal yang unik dari jenang ini, jenang ini sering dibuat setelah mengadakan hajatan besar. Saya pernah Tanya ibuk tentang ini, dan ibuk bilang dengan makan jenang setelah hajatan akan membuat rasa capek hilang. Dan saya pun mempercayai hingga akhirnya mensugesti diri hingga capek pun terasa hilang.

Jenang grendul, naah, jenang ini yang sudah jarang sekali tertemui, missal adapun rasanya sudah tidak seperti buatan
ibu dulu. Dulu ketika saya masih kecil, ibu sering membuatkan jenang ini. Jenang ini berbentuk bulat-bulat kenyal yang terbuat dari ‘gaplek’ atau ketela pohon yang sudah dijemur. Menurut saya, jenang inilah yang cara pembuatannya paling sulit dari jenang-jenang lain karena proses pembuatannya yang lama. Dari mulai proses penjemuran ketela hingga menjadi gaplek, ditumbuk-tumbuk hingga halus, dibentuk bulat-bulat dengan tampah, lalu dimasukkan kedalam air mendidih hingga matang. Dengan prosesnya yang lama itulah yang sebenarnya membuat jenang ini rasanya istimewa yang beda dari yang lain.

Naah, Saya ingat dengan jenang . Jenang ini pasti selalu ada disetiap acara pernikahan tradisional Jawa. Dikarenakan Jenang ini dibuat untuk acara pernikahan maka selalu dibuat secara besar-besaran dengan wajan yang besar dan pengaduk yang besar pula. Pembuatannya pun dikerjakan dengan minimal dua orang karena dari awal ketika masih cair hingga kental harus diaduk secara berkala. Naah, proses pembuatan inilah selalu tercipta kebesamaan. Saya masih ingat betul ketika pernikahan kakak pertama saya juga membuat jenang ini, para rerewangan lelaki dan perempuan bergantian mengaduk jenang ini yang diselingi dengan tawa canda, sedangkan anak-anak kecil termasuk saya sudah menunggu dengan ‘jejer-jejer’ seraya membawa daun pisang untuk antri mendapat leletan jenang nikmat yang masih panas dari sendok aduk yang besar itu. Aah, jenang ternyata menyimpan salah satu memory masa kecil saya.

Jenang, walaupun sekarang kebanyakan orang menganggap jenang hanyalah sebuah makanan ringan tradisional Jawa, namun sebenarnya Jenang membawa filosofi masing-masing yang kian hari kian dilupakan dan tidak diketahui oleh masyarakat Jawa. Masyarakat hanya tau jika ada ritual ini harus membuat jenang ini tanpa tau makna dibaliknya. Inilah Jawa, dengan segala ritual tradisionalnya. []

6 thoughts on “Jenang, Kuliner Tradisional Jawa

  1. Pingback: Kisah Tentang Jenang Grendul Yang Manis, Lazis dan Narsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s