Cerita Jam 5 Pagi

Ada beberapa hal di dunia ini yang sulit untuk dimengerti, aku pun sulit untuk mengertinya. Salah satunya adalah tentang sebuah rasa memiliki yang baru muncul setelah kehilangan. Yaa, itulah sebuah hal yang baru-baru ini mulai kurasakan namun tak dapat kumengerti. Bagaimana bisa dua hal yang kontradiktif dapat bersatu menghasilkan sebuah rasa aneh yang saling berkesinambungan? Sungguh habis pikirku dalam menerjemahkannya dalam kenyataan dunia. Ternyata kepada manusia, kenyataan terkadang bisa bersikap sangat kejam hingga sampai menghujam hati yang paling dalam. Selama ini mungkin telah kutemui kehilangan-kehilangan kecil yang dalam satu, dua, tiga hari dalam lenyap dengan kehadiran sesuatu indah yang lainnya. Oh, pernah sudah kumerasakan kehilangan yang amat dalam dulu, sangat dulu sekali hingga kehilangan itu dapat hilang termakan oleh waktu dan terlindas dengan proses alami pendewasaan dalam diriku. Kala itu aku kehilangan nenekku, satu-satunya dari 4 orang tua Bapak Ibukku yang dapat kutemui. Namun saat itu aku sangatlah masih kecil dan belum mengerti bagaimana rasa kehilangan yang sesungguhnya. Ya mungkin aku mengerti, namun sebatas sakit pada hati sehingga mata pun ikut menangis. Begitu, hanya begitu saja.
Dan beberapa hari yang lalu, mungkin belum lebih dari 20 hari aku merasakan kehilangan yang luar biasa hebat sehingga masyaAllah, aku tak dapat merasakan apapun, hanya rasa sakit pada hati yang mengujam hingga ke ulunya, walaupun aku tak tau persis dimana sesungguhnya ulu hati itu berada namun sungguh berasa. Mengetahui kenyataan bahwa seseorang yang Allah pilihkan untukku untuk menjadikan aku ada di dunia ini terbujur dengan dada yang telah kehilangan detaknya.
Beberapa saat yang lalu itu adalah ketika pukul 04.50 pagi. Aku dibangunkan oleh kakakku yang mengabarkan bahwa beliau sudah kritis. Segera aku terbangun walau rasa kantuk masih menjalar dikelopak mataku karena baru beberapa jam juga mata ini terpejam. Aku bergegas masuk kedalam kamar Ibuku dan melihat nafasnya sudah berada di tenggorokan. MasyaAllah, aku tak tau harus berbuat apa kala itu melihat Bapak terus menuntun Ibuk melantunkan ayat-ayat-Nya dan kakak yang menangis di sebelahnya. Aah, sungguh suasana saat itu aku sangat tidak suka. Lalu aku pamit Bapak untuk mengambil wudhu dan hatiku berkata, “semua akan baik-baik saja, tidak akan ada apa-apa” sehingga aku pun beranjak ke belakang. Beberapa detik setelah itu, aku mendengar bunyi tangis pecah dari suara kakakku yang memanggilku, hatiku pun tak tenang walau masih sempat berkata, “tidak ya Allah, tidak hari ini, semua baik-baik saja, tidak ada apa-apa” lantas aku pun lari ke kamar dan mendapati tangis kakak yang pecah dan terikuti oleh ku yang seperti hilang separuh kesadaranku.
Aku mendekati ibu sambil bertanya ada apa ke kakak, dan iya menjawab, “Ibu sudah tidak ada” sungguh, aku tak percaya!! Dan aku tak mau percaya!! Dengan air mata yang mulai berlinang aku terus mencari denyut nadi ibu sambil berkata seperti orang gila, “mungkin denyutnya tersembunyi mbak, ayoo dicari, ayo dicari!!” kakakku memegang tanganku seraya menuntunku berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..” aku pun mengucapkannya dengan tangis pecah tak percaya.
Yaa, pada hari itu wanita yang tak kenal lelah, wanita hebat dimata suami dan anak-anaknya, wanita kuat yang telah berjuang dengan sakitnya selama 4 tahun 1,5 bulan, wanita yang memberiku aliran darah ningrat dari seorang anak raja pelarian perang, wanita yang memberikan seluruh cintanya sehingga aku bisa menjadi diriku yang sekarang, telah kembali ke sisi Allah yang aku percaya sisi-Nya adalah tempat terbaik dan terindah untuknya. Aku tak mau menyebut kehilangan itu adalah akibat kematian, karena Ibuku tidaklah meninggal namun hanya berpindah dimensi saja yang nantinya akan berkumpul kembali ketika saatnya tiba.
Untukmu, Ibuku, Emakku, Murtini…

Winter trees without leaves (Google)

Winter trees without leaves (Google)

4 thoughts on “Cerita Jam 5 Pagi

  1. Tulisan yang dalam dan sangat menyentuh…Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku mendapati dalam tulisan ini terdapat sebuah cinta yang luar biasa….Be Strong ya🙂

  2. sekedar berbagi kisah ya dek… aku tahun lalu ngalamin yang namanya ditinggal sosok seorang Kakak (anak dari bapakku dengan istri lamanya, namun setelah bercerai. bapak menikah dengan ebok aku yang sekarang ini yang melahirkan aku dan masku).

    jadi aku (Slamet) masku (Erfan) [ebok aku sekarang ini] dan kakaku (Dhawi) [anak istri bapak yg sudah dicerai].

    makanya waktu adek nanya aku berapa bersaudara, ya dua bersaudara kalo dihitung dari ebok. tapi kalo dari bapak ya tiga bersaudara.

    ceritanya begini, aku dan masku memang akrab dan juga dengan kakakku. kami gak pernah mempermasalahkan apapun. hingga suatu ketika kakakku (dhawi) sakit parah hampir setahun. nah setelah lama menderita sakit yang cukup parah, akhirnya tahun kemarin kakakku dipanggil oleh sang maha kuasa.

    waktu itu posisiku kan masih ada di Lab kampus sore2. dan terdengarlah bunyi handphone yang ternyata adalah ebok aku yang menelponku. beliau bilang “nak kakakmu sudah tiada” mendengar kata itu, aku langsung shock dan hampir mau nangis. akan tetapi aku masih menahannya… dan kemudian ebokku berkata “kalo mau pulang hati-hati ya nak di jalan”. sambil terbata-bata aku menjawab “iya bok”. setelah bersalaman aku langsung ke kontrakan untuk ngambil helm.

    tanpa pikir panjang, aku langsung ngebut pulang ke pamekasanan. dan selama diperjalanan mulai dari bangkalan ke pamekasan hujan terus membahasiku. dan air mata pun ikut membasahi pipiku. bayangkan selama 2 jam kehujanan di jalan dan selama 2 jam pula aku menangis. di dalam perjalanan yang aku ingat adalah wajah kakakku dan beberapa kenangan waktu bersamanya.

    setelah menempuh 2 jam perjalanan, sesampainya disana aku langsung meletakkan motoku dan langsung menuju ke dalam. tidak perduli meskipun banyak orang, aku pun langsung memeluk jasad kakakku yang ditutupi kain. selama hampir setengah jam aku memeluknya dan menangisi diatasnya meskipun aku lagi basah kuyup.

    akupun ditarik oleh ebok dan menyuruhku untuk mengikhlaskan kepergiannya karena akan segera dimandikan. akupun langsung masuk ke kamar kakakku dan beberapa orang yg ada disana menyuruhku untuk tidak menangisinya lagi agar kepergiannya lancar.

    aku pun turut memandikannya, menshalatkannya, serta turut mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya.

    aku gak bisa membayangkan bagaimana jikalau kedua orangtuaku yang meninggalkan aku. pasti aku akan sangat merasa terpukul dan kehilangan.

    ya semoga orang yang kita sayang diberikan umur yang panjang dan juga dan juga semoga selalu sehat wal’afiat aamiin…

    maaf ya dek aku malah nulis postingan baru di komentarnya adek. buat adek, yang tegar ya dalam menghadapi kenyataan ini.

  3. Ternyata begitu berharga waktu yang diberikan Tuhan untuk bersama orang-orang tersayang, sebelum mereka meninggalkan kita untuk selamanya🙂
    Turut Berduka Cita Kak Tiwwi, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta arwah beliau di terima di sisi-Nya, Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s