Pasdite dhe Rain

Langit Sore Hari

Langit Sore Hari

Hujan, sebuah kesempatan yang tak tentu datang. Entah mengapa aku sangat menyukai hujan. Entah perjanjian apa yang kutunaikan di masa lalu bersama hujan sehingga aku menyukainya. Seperti sore ini. Hujan disore hari selalu membawa sebuah jeda waktu yang mendamaikan. Seperti yang pernah kubilang, bau hujan selalu berhasil membawa kenangan terlempar jauh menuju suatu waktu yang entah yang dirindukan. Suara rintik hujan selalu memaksa rasa untuk berdamai dengan hatinya. Iya kan? Karena turunnya hujan dimanapun itu selalu seperti menjadi jeda untuk waktu yang terkadang melesat cepat hingga akhirnya merasa sangat terlewat.

Sore ini lagi, entah rasa damai yang dibawa hujan sore hari ini terasa berbeda. Jelas, sangat berbeda dan aku tau jawabnya. Beranda itu kosong! Dulu, disetiap ashar yang lewat menuju maghrib, selalu ada yang mendiami beranda itu. Entah hanya untuk melihat satu persatu orang yang tergesa-gesa lewat, membaca buku atau juga berbagi cerita setiap masa. Sore selalu menjadi sebuah waktu yang sangat berharga. Kebersamaan. Yaa, kebersamaan itu yang membuatnya kosong. Salah satu diberanda itu telah berada di dunia berbeda. Dua yang tertinggal kini hanya bisa sama-sama berdiam diri. Sesekali berusaha berbagi walau masing-masing hati tau bahwa yang hilang itu masih membuat hati terasa sakit untuk sekedar menempati beranda itu.

Entah pergi kemana, yang kutau, yang hilang itu juga sedang menikmati hujan sore hari ini. Damai, damain itu masih bisa terasakan dan aku yakin dua yang tertinggal merasakan kedamaian itu. Apalagi hari ini, alunan puji-pujian terhadap Rasul yang mereka kagumi menggema diseantero langitnya dari pagi hingga sekarang ketika hujan.

Aah, aku merasa akhir-akhir ini kehilangan kata-kataku sehingga untuk merangkai kata-pun aku merasa takut akan tak mampu. Entah kenapa, apa sebabnya. Aku tak tau!! Banyak cerita yang ingin terbagi, banyak kejadian yang ingin tersampaikan namun sungguh, kata-kata itu tercekat dalam tangan yang enggan menuliskan. Segala cerita sudah terjadi dan keinginan untuk berbagi cerita sudah ada dalam benak, namun aku takut. Aku takut kalimatku tak sama seperti dulu. Aku takut kalimatku tak lagi dibaca. Dan aku tak tau mengapa.

Di sore yang hujan membawa serta angin dingin yang menyejukkan ini aku berhasil bercerita. Yaa, mungkin kalimatku masih carut-marut, tak bertema dan tak beralur baik, namun apa yang ingin kusampaikan tentang perasaanku atas sore hujan ini telah tersampaikan. Maaf jika kalimatku benar-benar tak bertema.

*the title is Albanian of “Evening and Rain”

One thought on “Pasdite dhe Rain

  1. Menjelang maghrib disertai hujan, selalu membawa suasana hati menjelajah menembus segala rasa. Dan setiap kita akan memaknai berbeda.
    Salam silaturahim dan hangat dari Srengat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s