Sejuta Pelajaran Berharga dari “Sang Kiai”

“Cerita hidup satu orang dengan orang lain tidaklah akan sama, bahkan didunia ini tidak ada satupun hal yang sama persis, begitu juga dengan hidup, bagaimana cerita langkah hidup seseorang tergantung bagaimana orang tersebut mengusahakan sesuatu untuk hidupnya sendiri dengan tentunya terdapat tangan-tangan Tuhan didalamnya yang membuat cerita itu menarik dengan segala suka dan dukanya..” @tiwwiDy

"Sang Kiai" Hasyim Asy'ari

“Sang Kiai” Hasyim Asy’ari

Sepertinya preface quote diatas terlihat kurang nyambung dengan apa yang akan saya tulis dalam postingan kali ini, begitulah pikiran saya ketika pertama kali mulai mengetikkan kata demi kata quote diatas untuk preface quote dari review saya tentang film Sang Kiai. (Eh, merasa telat banget review-nya. But no probs!! It’s better late than never.) Namun setelah saya baca ulang ternyata nyambung juga karena saya ingat dengan kalimat yang pernah saya tulis dalam postingan tentang Sang Kiai sebelumnya bahwa “Semakin dekat derajat manusia dengan Allah, semakin berat cobaan yang menderanya”. Ternyata kalimat itulah yang menjadi inspirasi saya dalam membuat preface quote diatas.

Sang Kiai, sebuah film yang saya sempat menyaksikan proses shooting-nya di Pondok Pesantren Kapu yang berjarak tidak jauh dari rumah. Yang membuat saya interest dengan film satu ini adalah film ini mengisahkan tentang masa perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, yang kebetulan keluarga saya adalah golongan Nahdhatul Ulama, dan juga karena saya sendiri sudah membaca biography tentang beliau yang #subhanallah sungguh berat sekali cobaan yang mendera dalam kehidupannya mulai dari semasa mencari ilmu di Mekah, kembali ke tanah air, mendirikan pesantren di tebuireng yang kala itu tebuireng adalah tempat ‘gelap’ yang masyarakatnya berperilaku sangat buruk, hingga mendirkan Nahdhatul Ulama. Kisah hidup beliau yang begitu luar biasa itulah yang membuat saya janji pada diri untuk harus nonton film ini.

Semacam beruntung tak berkesudahan dengan Sang Kiai ini karena buku biography Hasyim Asy’ari “Mahaguru” saya dapatkan gratis dari Gramedia, dapat kesempatan foto bersama beberapa pemain utama dalam Sang Kiai, seperti Ikranagara (Hasyim Asy’ari), Christine Hakim (Nyai Kapu), Sutradara Sang Kiai, Rako Prijanto, dan juga ketemu langsung dengan para pemain lain seperti Agus Kuncoro (Wahid Hasyim), Adipati Dolken (Harun), Dimas Aditya (Husein), Marisa (Sarinah), dan yang menjadi Kyai Wahab Chasbullah, dan juga dapat tiket gratis nonton bareng pemain dalam premiere film Sang Kiai dari official Rapi Film di Jakarta, namun sayang tidak bisa hadir karena jauhnya itu lo. Huhuu..

Sejauh yang saya ingat tentang filmnya diluar airmata yang terus meleleh dan sesekali merinding karena memang ceritanya sungguh ngeri, ngeri dalam pengertian merasa bahwa perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia dulu sangatlah berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Pada menit-menit awal sudah dapat banyak sekali pelajaran berharga yang diajarkan oleh Sang Kiai, pelajaran untuk tidak membeda-bedakan derajat manusia dari hartanya, pelajaran untuk selalu menghargai jerih payah orang lain dan menghargai apa yang kita makan. Saya temukan juga lo, quote yang sempat saya tweet-kan ketika pertama kali trailer-nya rilis.

film Sang Kiai

film Sang Kiai

“Negeri ini tanahnya subur, rakyatnya banyak tapi malah menjadi negeri jajahan, kalau saja umat Islam bersatu, pasti hal ini tidak akan terjadi..”

Menit-menit selanjutnya dan selanjutnya berubah menjadi tegang dan juga ngeri harus melihat kekejaman Jepang kepada Sang Kiai dan para santri-nya. Naah, saya temukan ketidak-sikronan disini pula, dari buku yang saya baca tentang biography K.H. Hasyim Asy’ari, permasalahan di Pabrik Cukir itu adalah permasalahan dengan pasukan Belanda yang Belanda ingin menangkap Sang Kiai karena dianggap sebagai penyebab kerusakan pada pabrik dan Sang Kiai harus mengakui hal tersebut, namun ternyata difilm-nya masalah itu terjadi dengan pasukan Jepang. Karena menolak untuk mengakui dan juga menolak untuk melakukan Sekerei (Sembahyang Jepang kepada Matahari), Jepang pun semakin beringas dengan menembaki Pondok dan mengancam akan membakar para santri yang membuat Sang Kiai akhirnya mau untuk ditangkap.

So many words if I have to explain it through the movie. Yang jelas film Sang Kiai benar-benar recommended bagi pecinta film Indonesia. Dengan adanya film Sang Kiai ini membuat para pecinta film yakin bahwa film Indonesia tidak melulu berkutat pada film bergenre freak-horror namun kini film Indonesia mulai berbenah dan menunjukkan karakter Indonesianya dan menjadi film-film berkualitas. Aah, saya jamin, siapapun yang masih mempunyai hati tidak akan bisa menahan gejolak air mata dari awal hingga akhir. Apalagi saat harus melihat K.H. Hasyim Asy’ari meninggal, aah, saya masih merasa getir dengan kata itu. Oiya, diakhir posting, saya akan menuliskan beberapa quotes dari film Sang Kiai. Smeoga bermanfaat.

“Dalam hidup, ada hal-hal yang bisa kita bicarakan, bahkan bisa kita kompromikan. Namun kalau sudah menyangkut tentang akidah itu tidak bisa diganggu gugat..” #SangKiai

“Hukum membela Negara dan melawan penjajahan adalah fardhu’ain..” #SangKiai

“Perempuan itu ibaratnya pakaian bagi lelaki, menghangatkan di musim penghujan, meneduhkan saat kemarau..” #SangKiai

“Kau ada dalam doaku, karena kau bagian dari diriku..” #SangKiai

“Prasangka buruk tidak selamanya berasal dari yang buruk, namun bisa jadi prasangka buruk itu berasal dari ketidaktauan..” #SangKiai

“man arofa lughooti qaumin amina min syarrihim..” siapapun yang mempelajari bahasa asing akan terhindar dari tipu muslihat..” #SangKiai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s