Musik, Kotak Kenangan dalam Nada


“Selama ini ada dua hal yang kupercaya dapat membawa kenanganku terlempar jauh ke sebuah kenangan di masa lalu yang benar-benar dirindukan, pertama adalah pretichor, kedua adalah MUSIK..” @tiwwiDy

Musik (Google)

Musik (Google)

Bagi beberapa orang, musik mungkin menjadi suatu kehidupan. Ada beberapa yang menganggap musik sebagai Tuhan. Ada beberapa juga yang menyebut musik itu haram. Bagi sebagian besar orang musik hanya sekedar untuk hiburan. Namun bagiku, musik adalah sebuah kotak kenangan yang suatu saat dapat terbuka seiring alunan iramanya.

Musik, apapun itu selagi nyaman untuk didengar, dapat menjadi mesin penyimpan kenangan dalam hidup yang ketika memutarnya ulang dikemudian hari atau tak sengaja mendengarkannya di sebuah tempat akan berhasil menciptakan sebuah visualisasi dalam imajinasi diri tentang masa lalu sejalan dengan irama musik yang melantun. Percaya atau tidak, musik mempunyai kemampuan ajaib itu.

Entah ramuan ajaib apa yang sebenarnya ada dalam setiap melodi dari musik. Yang pasti, musik hanya melantunkan nada-nadanya tanpa sadar akan rahasia besar yang ia bawa dalam nadanya. Hal itu yang selama ini kupercayai kebenarannya. Ada beberapa lagu yang kutau berhasil membawaku ke sebuah kenangan di masa lalu yang entah. Sebuah kenangan yang pernah terjadi ketika pertama kali mendengarkan lagu itu, bahkan sebuah kenangan yang dalam hidup tidak pernah kujumpai di masa lalu namun benar-benar terekam jelas dalam ingatanku tepat ketika detik per detik musik tersebut diputar.

Beberapa lagu itu adalah seperti When I Fall in Love-nya Nat King Cole, All the way dari Celine Dion dan Frank Sinatra, Field of Gold-nya Emi Fujita, Fly me to the Moon oleh Olivia Ong, dan lagu klasik lainnya, adalah beberapa lagu yang selalu berhasil membuat titik airmata di ujung mataku. Mungkin karena memang aku adalah seseorang yang mudah terbawa suasana haru, jadilah ketika meresapi dalam-dalam lagu tersebut darah melankolisku tergugah.

Yaa, lagu-lagu diatas memang adalah jenis musik Jazz dan Classic, namun bukan hanya musikmusik itu saja yang dapat menyimpan sebuah kenangan, segala jenis musik dapat melakukannya. Masa ketika aku masih kecil dulu, aku sudah mengenal berbagai musik seperti Jazz, Islami, Classic, Pop-Barat, Pop-Indonesia, Keroncong, Melayu, yang semua itu tidak terlepas dari peran Ayah dan ketiga kakak-ku yang sangat mengapresiasi musik. Jadilah sekarang, jika memutar salah satu musik Islami yang ketika kecil dulu Ayahku sering memutarkannya untukku, kenangan akan masa dahulu seperti kembali lagi dan aku merasa berada dalam suatu waktu dahuluku.

Tidak usah jauh-jauh ke masa lalu, kalau kita mendengar suatu musik dengan seseorang untuk pertama kalinya, maka ketika suatu saat mendengar kembali lagu tersebut maka ingatan akan berhasil membawa kita exactly ke masa dimana pertama kali kita mendengarkan lagu tersebut lengkap dengan perasaan dan keadaannya. That’s the miracle of music!

Seperti saat sekarang ketika tulisan ini berhasil kuselesaikan. Selama menuliskannya aku mendengarkan instrumental musik “Married Life” dari Michael Giacchino yang berhasil membuat perasaan campur aduk karena mengingat musik ini menjadi soundtrack dari film Animasi mengharukan, UP. Mungkin suatu ketika nanti saat aku kembali mendengarkan lagu ini, aku akan mengingat segala proses dalam aku menyelesaikan tulisan ini yang beberapa kali harus terhenti entah kenapa. Dan semua itu sekarang sudah menjadi kenangan yang tersimpan dalam lagu Married Life.

Listen your music and keep your life memories inside its melody.. @tiwwiDy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s