yesterday memories of Ramadhan

Ramadhan bagiku adalah sebuah moment 1 bulan luar biasa dalam 12 bulan Masehi. Suka cita pun selalu kuteriakkan dalam hati atas datangnya bulan Ramadhan disetiap tahunnya. Sejak kecil dulu, moment ramadhan kusebut sebagai sebuah moment kejutan. Setiap hari selama 30 hari seperti mempunyai cerita tersendiri disetiap harinya.

Dulu saat semuanya belum mengenal kata kemarin, awal-awal puasa adalah masa adaptasi yang jika sekarang mengenangnya rasanya indah sekali, sangat rindu. Sekitar jam 3-an ibuk membangunkan, bangun pun terasa ringan seperti tak ada beban, tak ada rasa kantuk, yang ada hanyalah semangat menyambut sebulan puasa dengan segala kegiatan menyenangkan. Ibuk pun selalu, ketika sahur pertama puasa selalu menghidangkan menu masakan istimewa yaitu Daging Lapis. Untukku pendamping daging lapis adalah segelas susu dan tambah dewasa beralih jadi teh. Semuanya ibuk
yang menyiapkan, bangun tidur semua sudah siap di meja.

Setelah sahur tak lantas kembali berangkat tidur walaupun sebenarnya rasa kantuk akibat semalam yang sebenarnya tidak begitu tidur membayangkan asiknya esok hari. Menunggu untuk ikut berjamaah di musholla belakang. Dulu ketika masih SD dan SMP, walau bukan sekolah Islam, namun pada saat ramadhan aku diberi semacam buku ibadah untuk 1 bulan ramadhan. Semacam buku resume ibadah mulai dari sholat berjamaah 5 waktu, sholat tarawih, mengaji, tadarus, bahkan sholat jumat yang hanya 4 kali. Jadi awal puasa selalu semangat walaupun semangatnya masih untuk sesuatu yaitu mengisi penuh centang resume ibadah tersebut.

Dihari puasa dulunya, Ibuk selalu memintaku untuk tidur siang yang kadang aku hanya bergaya menutup mata dan setelah ibu pergi aku bermain sesukaku dalam kamar. Kata Ibuk tidur siang biar puasanya kuat sampai sore, biar malam pas sahur ndak ngantuk dan ndak susah untuk dibangunkan, dan juga ibuk bilang ‘tidurnya orang puasa itu ibadah, jadi daripada dolanan lebih baik babuk ae..’ namun kadang kudengarkan dan juga kadang kuabaikan.

Pertengahan puasa, masa dimana sudah terbiasa menahan melilitnya perut dan paitnya mulut disiang harii. Inilah masa saat aku masih kecil, ibuk mulai membuat kue untuk lebaran. It was very long time ago. Kuakui, ibukku adalah seorang yang jago masak apapun, sekali mempelajari resep langsung bisa dan langsung enak, jadinya segala selalu ibuk yang membuatnya sendiri. That was my mother, could handle everything with just her two hands. Aku yang masih kecil hanya membantu sekenanya dan semauku yang sebenarnya kebanyakan malah menganggu saja dan sesekali mbakku berteriak memarahi kegangguanku.

Memasuki tanggal 20-an atau 10 harian menjelang lebaran, adalah masa dimana tarawih berjamaah di musholla harus bolong karena diajak belanja ini itu keperluan lebaran. Baju Baru, seperti menjadi salah satu yang wajib ada dalam setiap lebaran dikeluargaku sejak dulu. Dan aku selalu yang paling ribet dan paling menyebalkan jika harus memilih baju lebaran. Pernah beberapa toko, mungkin lebih dari 10 toko dimasuki sampai capek namun tetap saja tidak ada yang kupilih. Yaa, aku dari dulu suka yang beda, baju yang unik, baju yang tidak biasa. Pernah ibuk yang sudah hafal sifatku mencoba beli baju tanpaku dan berdasarkan atas seleranya, alhasil bajunya pun dikembalikan dan ditukar dengan baju yang aku suka. Iyaa, mungkin aku dulu anak yang nakal buat ibukku.😀

Masa menjelang takbir seperti masa paling membahagiakan sepanjang tahun. Almari dekat tempat makan sudah penuh dengan jajan lebaran dan toples-toples bersih, ibuk yang mulai masak-masak buat megengan setelah sholat Ied, rumah bersih dari depan ke belakang hasil gotong royong serumah dan aku yang sesekali mengintip atau membuka almari pakaian yang disana terdapat baju baruku tergantung, mencoba mengepas-ngepaskan sambil menari-nari kecil saking girangnya mendapat baju baru mewah seperti seorang putri raja.

Dibeberapa ramadhan aku sering mendapati Ibuk meneteskan air mata ketika mendengar suara takbir, aku Tanya kenapa beliau pun menjawab, “suatu saat kamu pasti tau alasan mengapa Ibuk menangis saat mendengar takbir..” beranjak dewasa ini pun aku menemukan alasannya seperti yang pernah ibuk katakan. Rasa bahagia, sedih, haru, berkumpul jadi satu ketika mendengar suara takbir pertama kali. Inilah kemenangan, namun dibalik kemenangan ada sebuah perpisahan dengan bulan yang Allah janjikan pahala berlipat disana.

Aah, semua cerita itu sudah menjadi yesterday memories yang tak dapat kembali dan hanya dapat dikenang. Sekarang semua tak lagi sama, tak akan sama dan baru kali ini mungkin rasanya tak sama. Life has changed! Tanpa ibuk rumah seperti kehilangan auranya. Jelang ramadhan dulu selalu sibuk melihat ibuk yang sibuk mempersiapkan semuanya. Jelang ramadhan 4 tahun terakhir selalu penuh dengan order-an ibuk mengerjakan ini itu untuk urusan rumah dan dapur. Satu belum selesai dikerjakan perintah lain sudah disuarakan dan hal itu sebenarnya menyebalkan namun sekarang kurindukan. Sekarang hanya tinggal aku dan Bapak di rumah, Bapak pun tak banyak meminta, tak banyak memerintah. Segalanya jadi harus berasal dari inisiatifku sendiri, kesadaranku sendiri. Disinilah aku mengerti arti sebuah kedewasaan diri. Menjadi dewasa itu adalah mampu mengerjakan segala sesuatu apapun itu hanya dengan kedua tangan tanpa harus orang lain meminta. Itulah yang secara tidak langsung ibuk ajarkan padaku setelah ia tiada.

Tanpamu mungkin aku belum bisa, bahkan melihat makammu kemarin saja aku belum bisa tak meneteskan airmata.
Bukan hati tak ikhlas menerima, namun aku merasa jauhnya dirimu membuatku semakin rindu dan semakin cinta.
karena memang sepenuh hidupku selama ini tak pernah jauh darimu lama-lama.
Sekarang ramadhan buk, kujalani dengan Bapak dan tanpamu tentunya.

Ramadhan Giveaway : Zaira Al Ameera

Ramadhan Giveaway : Zaira Al Ameera

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat

One thought on “yesterday memories of Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s