some sweet memories to remember w/ Silviana

I’m a last child, but my life is blessed by having Silviana as my younger sister, and yes, it is about her.. @tiwwiDy

Aku tak ingat kapan pertama kali persisnya mengenal Silvi, yang jelas sebelum akhirnya dia pindah rumah ke sebelahku aku sudah mengenalnya karena seringnya aku ikut Ibuk ke pasar dekat rumahnya. Tak lama kemudian akhirnya keluarganya pun membangun rumah tepat disebelahku, and all of our adventure began!

Saat kecil, bahkan saat masih sangat kecil, kawan bermainku adalah Nayu. Dia masih saudaraku dan sebelum ada rumah silvi, rumah kami dekat. Namun saat TK nol kecil dia harus pergi untuk mondok. Jadilah aku bermain ke belakang yang disana ada Mbak Rini yang baru kala itu baru pulang dari Malaysia. Kami pun semakin akrab, bahkan sangat akrab karena kami satu sekolah. beberapa tahun setelahnya Silvi pun datang, persahabatan kami pun kian lengkap dan kami sepakat untuk membuat suatu genk dengan nama STAR. Nama genk itu sekarang masih ada di cerobong asap belakang rumah yang dulu aku menulisnya dengan pilox.

when we were a child

when we were a child

We really have our childhood!!

Seperti anak-anak kecil pada jamannya, aku dan silvi pun tumbuh dengan berbagai petualangan seru yang jika sekarang diingat aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan bertanya, koq bisa yaa.. sebenarnya petualangan seruku hingga ekstrim banyak kulakukan bersama Mbak Rini karena dia yang sebaya denganku, sedangkan silvi lebih mudah dua tahun daripada kami.

Saat kecil aku suka dengan hal-hal baru yang Bapakku selalu mendukungnya dengan membuatkan apa-apa saja yang aku minta. Aku masih ingat ketika di belakang rumah aku mendirikan sebuah perpustakaan dengan silvi yang jika ada yang meminjam per bukunya kami hargai Rp. 100 untuk dipinjam selama satu hari. Buku-bukunya pun kebanyakan adalah buku pelajaran SD ku, buku-buku cerita, majalah bobo dan sisanya buku-buku kakakku. We managed it all. Bukankah itu menakjubkan!

We were little young girls.

Aku dan silvi pun tak terlepas dari namanya masak-masakan, membuat rumah dari tanah, main Barbie, menjadi karakter dalam tokoh kartun dan juga film, dan boyband! Yah, dulu saat booming-nya Westlife, kakakku yang anak muda pun membeli kaset CD-nya, jadilah sedari kecil aku sudah dicekokin lagu-lagu barat bahkan film barat seperti James Bond. Aku pun mengajak Silvi untuk menonton semua video Westlife setiap hari hingga kami benar-benar hafal lagunya dan mengidolakan mereka satu persatu. Bahkan aku masih ingat ketika westlife mengadakan konser di Jakarta aku pun usul kepada Silvi dan Mbak Rini, ‘bagaimana kalau kita jual rumah saja untuk pergi ke Jakarta dan ketemu sama Westlife’, hahaa..

Nah, aku ingat juga satu hal. Mungkin kelewat menjadi anak yang kreatif, aku kecil pun membuka sebuah salon (untuk mainan sih, tapi dulu serius) di rumah dengan wardrobe dan make up-nya mbakku di rumah. Disini Silvi lah yang menjadi modelnya. Aku mendandani dia macam apapun dan kuminta untuk bergaya bak model. Do you remember this sist? Hahaa.. Aku ingat nama salonku saat itu adalah RATU, namun aku lupa kenapa aku memilih nama itu yang jelas TU-nya adalah Tutut.

We were (are) freak about Indian movie.

Saat awal tahun 2000-an di TV santer diputar film India, naah, film itu pun tak lepas dari ke-kreatifan kami. Jika ada film bagus, mas-ku yang di Malaysia pun membelinya dan kami tonton setiap hari hingga kasetnya sekarang rusak. Difilm Mohabbatein, aku menjadi Mega, Silvi menjadi Sanjana, Mbak Rini menjadi Ishika (sebenarnya ia tidak setuju karena Ishika tak lebih cantik dari yang lain) dan Nayu sebagai Kiran. Difilm Kabhi Khusi Kabhi Gham, aku jadi Anjali, silvi jadi Pooja, Mbak Rini menjadi Naina . Hahaa.. Masih banyak lagi film India yang karakternya diganti menjadi kami dan kami pun hafal lagu serta gerakan tarinya hingga sekarang.😀

Rumah kami berdekatan, begitu juga kamar kami. Saat kamarku masih di belakang, jendela kamarku dengan kamar silvi pun sejajar. Tak jarang aku memanggilnya lewat jendela kamar untuk janjian melakukan suatu hal. Bahkan kami pernah membuat telpun-telpunan dari kaleng yang kami pasang di jendela kami.😀

Aku dan silvi mempunyai tempat bermain favorite, yakni di lantai dua rumah masku. Kami sering menghabiskan waktu diatas genteng lantai dua, bahkan kami pun pernah naik hingga genteng tertinggi rumah tingkat masku. Mungkin kita dulu tomboy, yaa memang tomboy. Bahkan kami pun sering memakan rambutan diatas genteng yang pohonnya melengkung ke genteng lantai 2. Nakal yaa? Bukan, lebih kepada nyelintis berjiwa petualang.😀

Di lantai dua ini juga, aku dan silvi pun berinisiatif untuk membuka tempat kursus bernama “Mentari”, terinspirasi dari majalan mentari yang kupunya. Muridnya pun cuman dua, dan mereka membayar Rp. 500 setiap minggunya untuk SPP, dan kami pun membuat form SPP sesungguhnya lo! Berkat adanya fotokopi dirumah masku. Meja belajar dari kardus, papan tulis biru yang kami dapat dari sisa triplek meja makan Bapakku, buku-buku bekas fotokopi yang kami jepret, dan spidol board marker yang kami bayar setengah di toko-nya mbakku. Kreatifnya bukan main!

Saat SMP, SMA kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing, namun kami masih saling bercerita satu sama lain. Mungkin tak ada cerita yang tak kuceritakan kepada silvi, begitu juga silvi. Mungkin benar kalau silvi lebih muda dariku, namun tak berarti aku lebih dewasa daripada dia at all, bahkan mungkin aku yang lebih ngalem kepadanya. Naluri sebagai anak pertamanya lah yang membuatnya terkadang bisa lebih dewasa daripadaku. Apalagi semenjak hidupku penuh dengan cobaan tepat setelah Ibuku sakit, silvi lah yang menjadi tempatku cerita segalanya. Bahkan tak jarang aku meng-sms dia hanya untuk sekedar datang ke rumah dan mendengarkan aku menangis atau sekedar aku ingin dipeluk. Hehee..

we are growing up together

we are growing up together

Kami tumbuh dewasa bersama. Dewasa ini, persahatan kami pun semakin tak terdefinisikan. Banyak hal yang kami lakukan bersama dari mulai yang sederhana hingga yang nekat! We do love to travel, sedari kecil sih kami sering travel bersama namun dengan orang tua, dan dewasa ini kami mencobanya just the two of us! Nekat sih, namun pengalaman hidup yang didapat banyak.

We are going to grow old together just like we grown up side by side. Silvi yang dulunya bukan sesiapa sekarang persahabatan kami lebih dari sekedar kakak adek, lebih dari sekedar tetangga rumah, lebih dari sekedar teman bermain. Nothing can break our relationship, and we will create more sweet memories to remember together as sister.

Giveaway 'Sweet Moment" by UnTu

Giveaway ‘Sweet Moment” by UnTu

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu”

5 thoughts on “some sweet memories to remember w/ Silviana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s