Spiritual Journey, Jombang Beriman

Make a spiritual journey by visiting some well-known great people’s graves will make us aware of how our life will be remembered by others someday when we just remain our name on an inscription of gravestone.. @tiwwiDy

Setelah sekian tahun lamanya tak dapat bepergian jauh dengan Bapak, Alhamdulillah akhirnya Kamis, 24 Juli 2013 Allah memberi ijin berwisata religi ke Jombang hingga Mojokerto serta menyambung silaturahmi ke sahabat Bapak di Pondok Tambak Beras, Jombang yang ternyata sudah pindah ke Jakarta.


Pertama kali ke makam Sang Kiai.

Awalnya saya tak percaya kalau Bapak baru pertama kali mengunjungi makam Gus Dur di Tebuireng karena sebelum 4 tahun lalu Bapak tak pernah absen ikut wisata religi walisongo yang membentang dari Jawa Timur hingga Banten. Aah, I made it again! rasanya seperti bangga bisa menghadirkan pengalaman pertama bagi orang lain, dulu mengajak Silvi pertama kalinya ke makam Tebuireng dan kemarin mengajak Bapak untuk pertama kalinya juga. Pasti terkenang nantinya.
Sebenarnya saat itu nyaris tak jadi ke makam Gus Dur dan kakeknya Hadaratussyaikh Hasyim Asyari karena pintu gerbang belakang yang menjadi pintu masuk peziarah tutup. Kami pun nyaris melanjutkan perjalanan namun ternyata pas saya Tanya pak satpam, selama ramadhan tutup dan kalau mau ziarah boleh masuk lewat pintu depan. Alhamdulillah. Sebenarnya ada 2 foto Bapak ketika di dalam komplek pondok tebuireng namun sayang file corrupted.😦

Setelah selesai membaca yaasin, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Tambak Beras untuk mencari sahabat Bapak di pondok dulu yang sudah lama sekali tak bertemu sejak tahun 1959 lalu. Namun sebelumnya, saya dan Bapak mampir ke Masjid Agung Baitul Mu’minin Jombang, Bapak ingin sholat takhiyatul Masjid disana. Setelahnya kami pun berangkat ke Tambak Beras.

Masjid Agung Baitul Mu'minin Jombang

Masjid Agung Baitul Mu’minin Jombang

Pondok Bahrul Ulum Tambak Beras 59 tahun yang lalu.

Masjid Jami' Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang

Masjid Jami’ Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang

Bapak pun tak menyangka bahwa 54 tahun telah berhasil merubah yang dulunya hanya padang ilalang, kini sudah menjadi rumah-rumah berhimpitan dan berdiri ratusan pondok di sekitar Pondok Induk Tambak Beras. Ternyata, orang yang Bapak cari sudah lama pindah ke Jakarta. Tak mudah mencari orang yang dikenal 54 tahun yang lalu dengan masyarakat yang mayoritas orang yang saat itu belum lahir. Akhirnya kami mencoba mencari orang yang sudah tua untuk ditanyai. Samar-samar karena orang-orang yang Bapak sebutkan ternyata sudah lama sekali meninggal, dan yang Bapak cari sudah pindah sejak lama. Akhirnya setelah mungkin tanya 5 kali dengan gerombolan orang yang berbeda akhirnya kami bertemu yang masih saudara dengan yang Bapak cari. Bapak bilang, orang yang kami temui dulunya masih kecil dan Bapak tidak begitu mengenal namun pernah tau. Disinilah kami mendapat kejelasan, namun Bapak ingin mendapat alamat sahabat Bapak yang ada di Jakarta, biar suatu saat kalau ke Jakarta, Bapak ingin menemuinya. Sayangnya, ibu itu tidak tau, dan kami diberi tau agar pergi ke Pondok Mimbar, disana ada saudara yang mungkin tau address sahabat Bapak di Jakarta. Di pondok mimbar, kami bertemu kiai-nya yang ternyata tak mencatat alamatnya, dan kami diminta untuk pergi ke Masjid Kauman, disanalah saudara yang lumayan dekat dengan sahabat Bapak. Jadilah kami ke Masjid Kauman.

Masjid Kauman, Jombang

Masjid Kauman, Jombang

Sesampainya di Masjid Kauman, tak ada seorang pun yang mengenal karena mungkin pas yang kami tanyai semua orang baru. Bapak pun pasrah, paling tidak sudah berniat untuk mencari sejauh ini. Akhirnya saya dan Bapak menumpang sholat ashar di Masjid Kauman. Masjid dengan design Jawa klasik nan indah. Di tempat sholat putri, ada seorang Ibu-Ibu yang sedang berdzikir yang setelah tau saya datang menyalami dan saya pun cerita kenapa sampai di Masjid ini. Dan Alhamdulillah ternyata ibu ini kenal dengan sahabat Bapak, akhirnya kami diberi tau rumah saudara sahabat Bapak yang setelah sholat kami segera mencarinya dan akhirnya bertemu dan alamat sudah ada dalam genggaman.
Niat baik pasti akan dimudahkan oleh Allah walau dengan jalan yang mungkin tidak mudah..

Saya dan Bapak pun melanjutkan perjalanan menuju Mojokerto dengan Makam Syaikh Jumadil Kubro sebagai destinasi berikutnya. Nah, ada hal lucu ketika keluar dari kota Jombang. Saya melawan arus di jalan searah dan sempat dikejar polisi yang akhirnya polisi itu kehilangan jejak, hahaa.. Bapak pun berkata, “masak bulan ramadhan ndak dimaafkan..”😀

Perjalanan Jombang – Trowulan serasa begitu jauhnya. Mungkin keadaan sudah payah, sore hari, lapar dan haus, akhirnya kami sampai dan berbuka puasa serta sholat maghrib di Trowulan. Setelahnya, saya dan Bapak mampir di Mojoagung yang sebenenarnya rencana awal mau menginap disini, namun karena suatu hal akhirnya kami pun pulang jam 9 malam dan sampai rumah jam 10. Alhamdulillah, capek iya namun terbayar dengan pengalaman menakjubkan bersama Bapak, kalau masih ada Ibuk dan beliau masih sehat pasti akan lebih sering lagi berwisata religi seperti ini.

Sampai rumah Bapak pun berkata, “habis lebaran nanti ke Sunan Ampel naik kereta api terus malamnya nginep di Mbah Kholil, Bangkalan..” aku hanya mengiyakan dengan insyaAllah sebagai bentuk meminta persetujuan iya dari Allah. Bismillah, semoga Allah memberi kesempatan itu.

One thought on “Spiritual Journey, Jombang Beriman

  1. Pingback: Lima Puluh Tujuh Tahun | we wee world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s