Masjid Sunan Muria, Kudus

Hening lewat tengah malam, dingin puncak gunung 15 derajat, spectacular night view dan suasana religious yang mendamaikan di puncak Gunung Muria.

Tepat pukul 01.00 am setelah kurang lebih 10 jam perjalanan Kediri-Kudus yang melelahkan, terbayar dengan suasana yang tergambarkan. Kudus, destinasi pertama dari wisata religi saya bersama Bapak dan kali ini adalah kali pertama Bapak berwisata religi lagi setelah vakum selama 4 tahun dikarenakan harus merawat ibu. Barulah sekarang, Bapak mulai merencakan banyak perjalanan lagi untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dengan berwisata religi seperti dulu.

Beruntung saya bisa menemui 2 suasana yang berbeda di puncak Gunung Muria. Pada akhir tahun 2010 lalu adalah pertama kali saya tiba di puncak siang hari sehingga dapat melihat landscape Kudus dari puncak Gunung Muria dengan jelas, dan kemarin saya tiba malam hari sehingga Kudus malam hari seperti bertabur sejuta bintang. Sungguh panorama yang spectacular!! Lampu sepanjang jalan Bypass Kudus pun seperti rangkaian lampion yang dijajar lurus dan belok. Sayangnya, kamera 10 MP saya tak menangkap seluruh keindahan lansekap Kudus malam itu.

Fast and Furious versi Tukang Ojek. (Fearful)

Dari area parkir menuju Puncak Gunung Muria yang disana terdapat Makam Sunan Muria dan Masjid Muria dapat ditempuh dengan 2 cara, yakni dengan menaiki tangga dan naik ojek Rp. 8000/orang. Dua kali saya merasakan sensasi naik ojek bak salah satu adegan film fast and furious, hanya saja lebih tepat kalau furiousnya diganti dengan fearful. Fast-nya dapat, Fearful-nya banget! Dengan track yang berkelok khas pengunungan, jalan aspal yang bumpy, kecepatan pun tetap diatas 60 km/jam. Memang harus ngebut agar tidak jatuh, namun jika kurang professional akibatnya juga bisa jatuh dan lebih fatal. Untungnya semua tukang ojek disana sudah hafal track-nya dan sangat professional.

Opsi kedua adalah lewat anak tangga yang tiada habisnya. Saya pun pernah merasakan tahun lalu namun turun tangga dan belum pernah merasakan naik tangga sebanyak itu. Turun saja sudah sangat payah karena saking banyaknya anak tangga hingga serasa tak sampai-sampai dengan samping kanan kiri terdapat kios-kios yang penataan dan dagangannya sama semua. Dan kemarin karena suatu hal, ngantuk plus dingin yang menusuk jadilah saya memilih untuk turun dengan ojek lagi.

Masjid Sunan Muria, Kudus

Masjid Sunan Muria, Kudus

Masjid di puncak gunung yang pernah dibakar.

Akibat sampai diatas malam hari, jadilah makam Sunan Muria pun sudah ditutup dan baru setelah subuh dibuka kembali. Disela menunggu saya pun mengajak bapak berkeliling Masjid Sunan Muria yang terletak dikanan Makam. Bapak pun bercerita tentang sejarah Masjid ini. Dahulu kala, Masjid Muria dibangung dengan sangat megah dan indah di puncak Gunung Muria. Setiap orang yang datang, setiap orang yang menyaksikan selalu memuji keindahan masjid ini. Dikarenakan banyak sekali yang memuji keindahannya, Raden Umar Said pun membakar masjid Muria dan membangun Masjid lagi namun lebih sederhana. Orang hebat yang tingkat imannya tinggi akan takut jika mendapatkan pujian, seperti itulah Raden Umar Said atau Sunan Muria.

Suasana Masjid pun sepi namun tak sepi manusia. Ada yang masih berdoa ada juga yang terlelap dalam tidurnya. Berada ditempat-tempat religious seperti di Sunan Muria ini menambah kekhusyukan dalam berdoa kepada Allah. Seperti serasa dekat dengan-Nya karena yang dikunjungi adalah salah satu kekasih-Nya yang taat kepada-Nya.
Oke, insyaAllah akan saya ceritakan kelanjutan cerita wisata religi di Jawa Tengah lain waktu.. Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Demak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s