Oldest : Masjid Menara Kudus & Masjid Agung Demak

Satu jam menuju Kudus.

Pada awalnya saya kira, Sunan Muria adalah di daerah Jepara karena memang cukup dekat dengan Jepara, namun ternyata Muria masih berada di Kabupaten Kudus. Setelah turun gunung dengan pemandangan indah Kota Kudus malam hari akhirnya saya pun terlelap selama 1 jam dalam perjalanan menuju Masjid Menara Kudus.

Subuh di Masjid Batu Merah Kudus.

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Sudah tak asing lagi. Sudah seperti lama kenal. Yaa, sudah 3 kali saya pergi ke Masjid Menara Kudus ini. Pertama akhir tahun 2010, kedua April 2012 dan kemarin. Kudus sudah tak asing lagi karena saat kunjungan saya tahun 2012 lalu saya dapat kesempatan memahami kudus selama 3 hari saat mengikuti PORSENI STAIN se-Jawa di STAIN Kudus. 3 hari saja namun telah berhasil membuat saya jatuh hati dengan Kota Kretek ini.

Menjelang adzan subuh saya sampai di Masjid dengan kolaborasi arsitektur Hindu-Budha-Majapahit ini. Suasana menjelang subuh semakin mendamaikan dengan cahaya lampu kuning yang menyorot bangunan menara bata merah Kudus menambah ke-classic-an masjid yang dibangun sekitar abad ke-15 Masehi. Untuk masuk ke dalam Masjid Kudus dan makam sunan Kudus ini terdapat gerbang-gerbang khusus dengan bangunan gapura yang senada dengan bangunan masjid menaranya. Gapura paling selatan adalah pintu keluar peziarah, gapura sebelahnya adalah pintu masuk bagi peziarah, dan gapura sebelah utara menara adalah gerbang masuk menuju Masjid utama.

Suasana menjelang subuh di Masjid Menara Kudus ini sungguh jauh dari kata hening. Serambi Masjid penuh musafir-musafir yang sedang istirahat, sebagian bermunajat dengan-Nya, sedangkan saya dan rombongan langsung menuju tempat wudhu putri yang terletak di kanan Masjid Utama. Beberapa saat kemudian, adzan subuh pun dikumandangkan. Semua beranjak dari tempatnya untuk mengambil wudhu untuk mengikuti sholat berjamaah. Sholat jamaah pun dilaksanakan. Ada yang beda dengan sholat masjid di Masjid Menara Kudus ini. Tempat sholatnya sebenarnya tak terlalu luas jika dibandingkan dengan Masjid Al-Akbar Surabaya atau Masjid An-Nur Pare, namun terdapat petugas yang menyambung suara imam agar makmum paling belakang terdengar.
Selesai sholat subuh dan pergi ke Makam Sunan Kudus lantas melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Demak.

Demak Kota Wali.

Kurang lebih sekitar satu jam juga perjalanan yang saya habiskan untuk sekedar memejamkan mata, akhirnya sampailah saya di parking area Demak Bintoro dan dengan segera saya dan Bapak mencari Becak menuju Masjid Agung Demak. Ada 3 Opsi transportasi untuk menuju ke area Masjid Agung yakni dengan Becak, Ojek dan Dokar, sama seperti di Kudus. Saya pun memilih naik becak karena lebih santai untuk menikmati kota Demak.

Gapura besar bertuliskan Kawasan Masjid Agung seperti menyambut saya dengan kemegahannya. Terdapat sebuah lapangan luas yang dikeliling jalan satu arah yang setelah masuk Gapura Pak Tukang Becak pun membelokkan kami ke kiri, menandakan bahwa jalan disini diputar searah jarum jam. Pandangan saya pun terpaku pada sebuah bangunan joglo tua di bagian barat lapangan. Itulah dia.

Masjid Agung Demak.

Menara Masjid Agung Demak

Menara Masjid Agung Demak

Sebuah masjid yang selama ini hanya saya dengar ceritanya dari Bapak. Masjid Demak ini dibangun oleh Raden Patah pada pertengahan tahun 1400 Masehi. Dari foto-foto Masjid Demak jaman dulu yang saya lihat di Google dengan Masjid Demak sekarang yang saya lihat kemarin memang tak banyak perubahan karena memang bangunan ini sengaja dipertahankan keasliannya saat pertama kali dibangun. Masjid dengan gaya khas Jawa dengan menara terbuka yang sangat unik. Sangat unik!!

Atmosfer Jawa sungguh terasa ketika pertama kali melihat masjid ini hingga memasuki serambi masjid, terlihat dari inskripsi Jawa diatas pintu masuk yang sayang sekali pengunjung tidak diperkenankan masuk pagi itu sehingga saya hanya bisa memotret tiang dalam masjid yang kabarnya dulu dibuat dari Tatal Kayu yang ditumpuk-tumpuk saja. Jika dipikir secara logika, Masjid dengan tiang yang terbuat dari Tatal kayu akan cepat rubuh, namun masyaAllah-nya adalah Soko Tatal itu masih kuat menyangga Masjid selama berabad-abad.

Disisi kanan Masjid terdapat Museum Masjid Agung Demak yang menyimpan segala sejarah Masjid Agung Demak ini. Disisi barat laut Masjid terdapat Makam Raden Patah dan juga Makam Raja-Raja Kesultanan Demak.

Sungguh. Mengunjungi salah dua dari Masjid-Masjid Tertua di Indonesia membuat saya berpikir bagaimana bisa Para Wali itu dengan hebatnya mengukir peradaban hingga manusia sekarang dan nanti tetap bisa mengenang mereka dengan bangunan-bangunan hebat yang mereka tinggalkan. Masjid selama masih dipertahankan keklasikannya akan dapat bercerita dengan sendirinya tentang sejarah hebat jaman dahulu tanpa harus ada yang menceritakan. Saya merasakannya sendiri, betapa hebatnya sejarah Islam di Pulau Jawa kala itu.

2 thoughts on “Oldest : Masjid Menara Kudus & Masjid Agung Demak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s