Nasehat “sehat” dari Ibu

Selama makan menjadi sebuah kebutuhan utama manusia, selama itu pula akan muncul berbagai inovasi dalam menghidangkan makanan dengan berbagai ciri khas masing-masing daerah. Ada makanan dengan resep turun temurun hingga mungkin sudah berabad lamanya, ada juga makanan dengan resep baru hasil kreasi tangan-tangan jenius para koki. Namun percaya atau tidak, sehebat-hebatnya seorang koki dalam menghidangkan makanan di restaurant-restaurant ternama, makanan lezat tetap lahir dari tangan-tangan ajaib para ibu. Mungkin ini semacam sugesti dan kebiasaan, namun saya yakin semua orang pasti setuju dengan pernyataan diatas. Saya sendiri mempunyai seorang ibu yang luar biasa dalam memasak, bahkan sampai sekarang belum ada yang bisa menandingi rasa masakan ibu saya dulu apalagi ketika menghidangkan daging lapis, makanan favorite saya sedari kecil.

Sejak kecil saya memang sudah dibiasakan untuk terjun ke dapur membantu ibu dalam memasak, walaupun sebenarnya lebih tepat jika menggunakan istilah “ngrusuhi” daripada membantu, namun dalam setiap masaknya ibu selalu menyelipkan nasehat-nasehat yang sekarang saya baru paham bahwa segala perkataan ibu itu ada benarnya untuk kebaikan diri anaknya. Salah satu nasehat ibu yang paling sering diulang-ulang adalah “Perempuan itu harus bisa masak, ben enek ajine di depan suami. Perempuan (istri) itu sebagai pengganti sosok ibu di kehidupan sehari-hari suami, jadi klo tidak lebih baik dari ibunya (salah satunya dalam hal memasak) jangan harap dapat semua kasih sayangnya.” Dan banyak nasehat yang kadang hanya masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Beberapa yang saya ingat lagi adalah,

my self-handmade

my self-handmade

“dulu, setiap kali nenek mengajari resep baru, ibu selalu mencatat resepnya biar tradisi rasanya tidak hilang karena ganti tangan..”

Itulah yang saya temukan, beberapa resep masih tercatat dengan rapi oleh tangan ibu saya sendiri di belakang pintu-pintu almari dapur. Dan benar, masakan enak itu bukan karena orangnya pandai dalam memasak, namun lebih kepada pandainya orang mengira-ngira ukuran yang pas saat membuat bumbu masakan. Salah satu contoh saat membuat resep soto, sebuah menu dengan bumbu yang lumayan kompleks sejauh yang saya ketahui. Jika dalam memasaknya kurang satu bahan bumbu saja, misalnya kunyit, maka rasanya pun akan lain. Jadi, meracik resep dengan ukuran yang presisi adalah wajib dipelajari untuk mempertahankan tradisi rasa yang diajarkan.

Fresh Shallots

Fresh Shallots

Fresh Chicken

Fresh Chicken

“masak itu lebih baik memilih bahan makanan yang masih segar, dan jangan pake micin..”

Dulu ibu saya jarang sekali menimbun bahan makanan seperti sayuran dan daging dalam kulkas, karena memang, rumah lumayan dekat dengan pasar, jadilah ibu setiap hari belanja secukupnya untuk sekali masak. Ditambah lagi, ibu adalah seorang petani jadi beberapa sayur seperti bayam, kangkung, daun bawang, lengkuas dan tanaman hipotik lainnya dapat dengan mudah ditemukan dibelakang rumah. Jadi sayuran segar yang baru dipetik langsung bisa segera dimasak tanpa harus berpindah dari satu tangan ke tangan lain seperti di pasar. Kalaupun harus disimpan di kulkas, ibu selalu memasaknya setengah matang, seperti misalnya daging ayam atau daging sapi. Walaupun disimpan di dalam freezer sekalipun, esok harinya tidak akan sama lagi segarnya saat pertama membeli. Jadi, bahan makanan yang fresh lebih menyehatkan.

Ibu juga mengajarkan hal baik untuk tidak menggunakan micin dalam memasak walaupun masakan memang lebih gurih jika diberi micin atau MSG (Monosodium Glutamat), namun dalam rasa gurihnya mengandung zat berbahaya bagi tubuh terutama untuk otak. Kalau ingin punya anak yang cerdas jangan memasak menggunakan micin dan penyedap rasa lainnya.

“minyak goreng yang sehat itu katanya bisa diminum, dan tidak beku kalau kedinginan..”

Saya yakin ibu saya dapat kalimat itu akibat setelah nonton iklan minyak goreng di TV, dan saat saya tau tentang itu langsung saya praktekkan dengan memasukkan minyak goreng yang biasa ibu pakai ke dalam kulkas. Alhasil beberapa jam setelahnya minyak goreng tersebut membeku seperti mentega pucat. Namun saat itu tidak lantas membuat berganti minyak goreng karena persediaan minyak goreng di rumah bisa untuk setahun dan ketika sudah setahun akan dipasok lagi untuk tahun selanjutnya. Yaa, ibu ikut semacam arisan bahan pokok seperti Gula dan Minyak Goreng yang dibagikan saat akan lebaran tiba, dan stok-nya tidak akan habis dalam waktu berbulan saja.

Selama ini saya kira minyak goreng-minyak goreng yang punya brand besar itu sudah menyehatkan, ternyata masih ada juga yang tidak memenuhi standard untuk sehat sebagai minyak goreng. Sampai beberapa waktu lalu saya membaca beberapa live tweet dari Emak Blogger tentang keunggulan minyak goreng Sunco yang menyebutkan kalau Sunco adalah minyak goreng yang pengolahannya dimulai tidak lebih dari 24 jam setelah buah sawit dipetik, alhasil minyak goreng Sunco terlihat lebih bening dari minyak goreng lain. Hal itu dikarenakan pengolahan minyak goreng Sunco yang melewati 5 tahapan yakni 3 kali proses penyaringan dan 2 kali proses pemurnian.

Saya jadi penasaran dan langsung mencobanya. Ternyata menggoreng dengan minyak goreng Sunco tidak membuat minyak goreng cepat berubah warna. Selama ini jika menggunakan minyak goreng dengan merk tertentu jika dipakai menggoreng satu, dua hingga tiga kali warnanya akan cepat berubah gelap, namun tidak untuk minyak Sunco. Ternyata eh ternyata, Sunco adalah minyak goreng pertama dengan Fortifikasi Vitamin A, yaitu salah satu cara untuk meningkatkan mutu gizi yang dengan sengaja mengambahkan zat gizi untuk menjaga vitamin tidak hilang walau sudah melalui proses pemanasan.

Selama ini orang beranggapan, saya pun juga beranggapan bahwa makanan yang digoreng itu sangat riskan dalam penyebab batuk, panas dalam, kolesterol bahkan yang lebih ekstrem dapat menyebabkan kanker, namun sekarang tak perlu khawatir lagi dengan makanan yang digoreng dengan minyak goreng Sunco karena Minya Goreng Sunco itu bening, tidak cepat hitam sehingga meminimalisir penyebab penyakit kanker. Minyak goreng Sunco juga tidak mudah beku dalam udara dingin karena kandungan asam lemak jenuhnya rendah sehingga terhindar dari ancaman kolesterol jahat.

Because you are what exactly what you eat! Apa yang kita makan adalah apa yang akan terjadi pada diri kita beberapa tahun yang akan datang. Membiasakan diri dengan hal-hal baik hasil dari pengajaran ibu adalah sangat penting karena ingat, seorang ibu tidak akan mengajarkan hal buruk kepada anak-anaknya. Stay hungry, eat a lot with the healthy self-handmade food!

Tradisi Baik untuk Keluarga Sehat

Tradisi Baik untuk Keluarga Sehat

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”

Reference: http://minyakgorengsunco.com/

3 thoughts on “Nasehat “sehat” dari Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s