Pristine Tourism Bucolic of Tembi, Bantul – last day of #BN2013

Bayangan awal saat tau tentang rencana menginap di Desa Wisata tembi, Bantul adalah sebuah desa yang sangat terpencil dengan rumah yang dindingnya terbuat dari dinding bambu atau gedhek dengan pemilik rumah yang sudah tua renta yang masak saja harus meniup-niup cerobong bambu agar apinya bisa menyala. Namun ternyata, semua espektasi tentang desa plosok itu buyar saat benar-benar berada di desa tembi malam itu. Desa Tembi ternyata adalah sebuah desa modern dengan gaya tradisional khas Jogja.

Desa Wisata Tembi, Bantul

Desa Wisata Tembi, Bantul

Supranto Homestay, Tembi, Bantul

Supranto Homestay, Tembi, Bantul

Sekitar pukul 10.30 rombongan kami sampai di Desa Wisata Tembi yang ternyata jika jalan terus akan sampai di Desa Pandak tempat saya pernah tinggal 1 minggu untuk membatik akhir tahun 2012 lalu. Bayangan awal lagi, karena di Pandak dulu lumayan dekat pantai sehingga saya sempat ke sebuah Pantai bernama Kwanyar, saya kira di Tembi juga akan bertemu dengan pantai dan pagi hari bisa jalan-jalan menuju pantai dan melihat sunrise. Namun ternyata eh ternyata, Desa Tembi yang berlokasi di Jalan Parangtritis KM 8.4 Timbul Harjo, Sewon, Bantul masih jauh dengan pantai.

Sesampainya di Desa Tembi, kami didrop di gerbang depan yang karena capek semua jadi ndak tau harus kemana sedangkan panitia sibuk sendiri mengurusi peserta yang datang. Loh, bukannya kami juga peserta yaa? Untung saja kami bertemu dengan @Babeh_Helmi yang akhirnya kami diantar menuju tempat registrasi peserta cewek yang agak jauh dengan gerbang depan. Terima kasih sekali babeh, tanpamu kami hilang.

Tempat registrasi homestay cewek berada di depan Masjid Al-Idris yang Alhamdulillah saya, @silvianapple, Ruth dan Diah bisa satu homestay padahal di-list awal kami pisah. Mungkin karena panitianya sudah kelelahan sehingga kami yang datang langsung dijadikan satu homestay. Ketika kami menanyakan tas yang sebelum #TripJogja kami titipkan dari Joglo Abang, panitia di Tembi malah tidak tau menahu tentang penitipan ta situ, hayook. Lantas kami pun bertanya-tanya karena semua harta karun kami ada di tas namun semua panitia malah tak tau menahu. Karena sudah capek akhirnya kami memilih langusng menuju homestay untuk istirahat.

Homestay kami berada tak jauh dari Masjid Al-Idris yang bersebelahan dengan makam umum Desa Tembi, tepatnya di Homestay Pak Supranto. Homestay dengan design Joglo khas rumah adat Jawa ditambah halaman yang luas dengan dua lampu unik di tiang beranda. Kami pun mendapat kamar yang kami isi berempat, ternyata rumah Pak Supranto ini belum sepenuhnya jadi, jadi ke-6 peserta yang lain harus rela tidur di ruang keluarga. Beruntung sekali kami sampai duluan karena di ruang keluarga hanya beralaskan karpet namun dapat fasilitas TV.

Dengan tetap menggunakan baju yang seharian dipakai dan belum mandi lagi, kami berempat terpaksa mulai tidur karena sudah sangat payah sekali. Namun ketika sudah siap tidur, kami dapat sms dari Putut yang mengabarkan tas-nya sudah sampai. Akhirnya kami pun menjemput tas kami, Alhamdulillah ada, karena tas si Putut malah belum ada. Kami pun kembali dengan harta karun kami dan bersiap untuk tiduur!

Pagi di Desa Tembi.

Saking teparnya hingga, sebenarnya, malas untuk bangun namun alarm yang sengaja saya bunyikan jam 5 berdering membuat saya harus bangun mengingat kamar mandi hanya satu. Lantas saya langsung mandi sepagi itu dan ternyata teman-teman cewek lain yang diluar kamar sudah ada yang mandi. Setelahnya saya pun berkenalan dengan ke-6 teman homestay saya. Ada yang asli Jogja, Surabaya, Sidoarjo yang ternyata salah satu dari mereka adalah dari Lembaga Pers Mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel. Iyaa kan, dunia ini sempit sekali kemana-mana masih nemu lingkaran yang dikenal.Sekitar pukul 06.00 teman-teman @Blogger_Kediri mengajak jalan-jalan di sekitar desa Tembi. Saya dan @silvianapple pun sudah bersiap dan kami janjian bertemu di depan Masjid Al-Idris.

Selama jalan-jalan kami menyaksikan sebuah pagi di desa yang damai dengan pemandangan hijau sawah-sawah yang sesekali kami menemukan bebek yang bermain di empang. Rumah-rumah di tembi rata-rata berbentuk sama secara fisik rumah, karena pada saat gempa Jogja, desa ini juga termasuk desa yang paling parah kena dampaknya. Namun pemerintah sangat membantu pemulihan desa Tembi sehingga sekarang desa ini sudah terecovery dengan sempurna. Gemah ripah loh jinawi, begitu kiranya gambaran untuk Desa Tembi.

Oiya, saat kami mau sarapan, kami bertemu dengan eyang @anjarisme, beliau adalah orang yang paling dan sangat penting dalam terselenggaranya Blogger Nusantara selama ini. Saya belum kenal sebelumnya, tapi sist @silvianapple sudah mengenal beliau. Dan akhirnya kami berfoto bersama dan pamer kaos baru @BloggerKediri di #BN2013. Asiik!!

Sarapan pagi yang istimewa. Sarapan pagi itu menunya Pecel khas Bantul dengan rempeyek kacang yang ‘wong’-nya banyak. Kami sarapan di sebuah pendopo Dukuh Tembi dekat dengan D’omah Jogja Restaurant. Sarapam pun dihidangkan prasmanan dengan Ibu-Ibu yang melayani kami dengan sangat ramah. Salah satu rahasia hasil pengamatanku tentang kuliner orang Bantul, mereka tidak suka pedas dan masakannya cenderung manis. Dan orang-orang bantul sangat suka akan kerupuk, seperti makan kurang afdol jika taka da kerupuk. Pecel Bantul pagi itu juga, tidak pedas dan cenderung manis. Membuat lidah Pecel Kediri kami menilai Pecel Bantul istimewa namun lebih istimewa Pecel Kediri. Hehee..

Seusai sarapan kami pun istirahat sejenak di sebuah gazebo di tengah sawah. Disana kami berbincang tentang banyak hal, bercanda akan satu hal. Disebrang pandang, ada D’Omah Jogja Restaurant yang kami lihat disana ada beberapa turis asing yang sedang menikmati breakfast mereka. Ini dia penampakan dari D’Omah Jogja Restaurant di Desa Wisata Tembi yang begitu asri dan indah.

D'Omah Jogja Restaurant, Tembi, Bantul

D’Omah Jogja Restaurant, Tembi, Bantul

Saya dan @silvianapple pun memutuskan untuk kembali ke Homestay untuk kembali merebahkan diri karena capeknya masih saja mengikuti. Di jalan kami bertemu dengan @TukangCoding yang saya mengucapkan ‘mator sakalangkong’ untuk @KaosMadura dari EBo’ T-Shirt yang sudah sekian lama baru bisa diberikan karena memang baru bertemu. Ceritanya, saya menang kuis twitter dri Ebo’ T-Shirt yang pemiliknya adalah Mas Sepupu dari si @TukangCoding. Alhasil dititipkanlah kaos itu kepadanya. Terima Kasih Mas Tang Koceng.

Masih sempat rebahan beberapa saat, sist @silvianapple bilang dapat mention dari klebun @plat-m Mas @WahyuAlam untuk berkumpul di Pendopo Sentono. Saya pun dapat sms dari Mas @MDarulM yang mengatakan hal yang sama. Okelah, kami pun tak jadi istirahat dan langsung menuju Pendopo Sentono yang ternyata di sana sudah banyak teman-teman yang berkumpul untuk mengikuti workshop tentang kearifan lokal masyarakat Jogja. Para pemateri-nya sudah sepuh namun masih sangat anak muda sekali, bahkan ada pemateri yang beliau berkata pernah shooting di Kediri untuk film Sang Kiai dan terlibat dalam beberapa penggarapan film. Keren!!

Workshop pun diselingi dengan makan siang dengan menu Nasi Campur Telur Asap, mungkin begitu namanya. Selesai lunch, saya dan @silvianapple memutuskan untuk kembali ke homestay untuk packing. Di jalan kami menemukan sebuah Galeri Lukisan Batik dan akhirnya kami mampir sebentar untuk melihat-lihat. Disana terdapat beberapa lukisan batik yang sangat artistik. Saya pun menyempatkan bertanya kepada Bapak yang menjaga Galeri ini tentang Lukisan Batik yang setau saya menggunakan teknik colet. Ternyata bukan hanya teknik colet saja melainkan ada beberapa teknik yang saya belum paham. Dan Hasilnya sangat keren dan mengagumkan.

Packing selesai, dan saatnya kami berpamitan dengan pemilik Homestay, Pak Supranto dan Ibu Murtini. Saat pertama kenalan dengan Ibu, saya langsung bilang nama beliau sama dengan nama Ibu saya, yang beliau juga suka dengan kucing dan bercerita banyak tentang kucing-kucingnya. Saat pagi hari, saya juga sempat berbincang dengan Pak Supranto yang beliau berkata ‘panggil saja saya pak cupang, saya lebih terkenal dengan nama itu.’ Beliau bercerita banyak hal seperti pekerjaannya sebagai tukang kayu yang sukses, pernah main ke Kediri, beliau punya putra yang sekarang sedang skripsi, design rumah beliau, dan kejadian gempa yang membuat rumah mereka luluh lantah. Dan inilah beliau dan kami di depan homestay.

Ternyata saat kami sampai di pendopo sentono, acara penutupan sudah selesai. Sehingga kami pun langsung berpamit-pamitan dengan teman-teman Blogger lain. Seperti berpamitan dengan Bunda @IndahJuli yang tak lupa kami berfoto dulu. Kami juga berpamitan dengan @Babeh_Helmi. Tak lupa juga seperti saat pertama kali bertemu, saya dan @silvianapple berfoto bersama 2 anak plat-m si mas @TukangCoding, mas @MdarulM dan @panggilden dan beberapa Blogger lain yang belum sempat kenalan namun foto bersama.

Akhirnya, bus yang akan mengangkut kami menuju terminal pun sudah tiba dan kami say good bye untuk Jogja dan #BN2013. Dalam hati saya pun berharap semoga #BN2014 nanti bisa ikut serta juga. Aamiin yaa Allah. []

One thought on “Pristine Tourism Bucolic of Tembi, Bantul – last day of #BN2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s