Edensor The Movie, Edensor yang Hilang

Edensor, sekuel dari tetralogi laskar pelagi yang menjadi my most awaited movie setelah dibuat standing applause untuk film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Dulunya sempat pesimis kalau sekuel kedua laskar pelangi ini akan difilmkan karena bisa dibilang 80% setting tempat diceritanya adalah di Eropa. Bertahun setelah banyak kasak kusuk kabar akan difilmkannya novel Edensor ini barulah akhir tahun 2013 saya mendengar kabar yang kabarnya Mizan Production sudah memulai shooting film ini. Aah, I thought It would be great as its preceding.

24 Desember 2013 film Edensor ini pun premiere, namun karena disibukkan dengan beberapa event saya jadi tak langsung cus ke bioskop untuk nonton. Alasan lain juga karena di bioskop Kediri baru premiere 1 minggu kemudian. Alhamdulillah-nya, sist @silvianapple menang kuis yang diselenggarakan oleh #Mbatitis dari @detikforum yang hadiahnya dua tiket nonton film Edensor di @cinema21, jadilah saya menjadwalkan untuk melihatnya bersama sist karena ketika menjawab pertanyaan kuis nomor dua tentang siapa yang akan diajak nonton, sist mengajak saya. Terima kasih sissy!

Edensor di Cinema 21 Matos, Malang

Edensor di Cinema 21 Matos, Malang

Setelah menunggu kedatangan tiket dari Jakarta semingguan, akhirnya kemarin tanggal 12 Januari saya dan @silvianapple bertolak ke Malang untuk Edensor. Rencana awalnya sih mau nonton di cinema 21 Surabaya, namun karena terbatasnya waktu karena sist juga sudah mulai masuk kuliah jadilah kami nonton di Cinema 21 Matos.
Espektasi awal, setelah melihat trailernya tentu saja, saya akan sangat-sangat-sangat dibuat impress dengan film Edensor seperti dua sekuel laskar pelangi sebelumnya. Namun entah kenapa saat pulang saya malah rada kecewa karena banyak hal yang missing dari apa yang saya pernah baca dari novelnya.

Pemeran ikal masihlah sama yaitu Lukman Sardi, dan untuk Arai yang sebelumnya Ariel diganti oleh Abimana yang menurut saya wajahnya terlalu tampan dan kurang udik untuk seorang anak pedalaman Belitong. Tapi semua itu ditutup dengan kemampuan acting mereka berdua yang baik dengan penguasaan logat melayu dan bahasa perancis yang keren. Istilahnya chemistry-nya dapat.

Mungkin menjadi kesalahan yaa jika menonton film adaptasi novel yang sebelumnya sudah khatam membaca novelnya. Jadilah saat menonton filmnya sering komentar ini itu, lah loh koq gitu sih, dan kadang ndak terima karena di novel ceritanya tidak seperti itu. Namun ada juga koq film adaptasi dari novel yang transformasinya sangat sempurna dari novel ke film. Dan untuk Edensor kali ini, saya pribadi, menurut saya sangat melenceng dari apa yang baca. Yup, walaupun ada satu, dua, tiga adegan yang sama namun esensi dari judulnya sendiri tidak ditampilkan secara real, Edensor. Jadinya, aah, seperti mendengar orang bercerita sebuah cerita dengan ngawur padahal kita sudah tau keseluruan cerita itu dengan baik.

Cerita Edensor versi film yang saya saksikan kemarin adalah berawal dari sebuah perjalanan hidup Ikal dan Arai di tanah rantau dalam mereka menempuh study master di Universitas Sorbone, Perancis dengan segala kesulitan dan keterbatasan yang mereka hadapi. Ikal menempuh study tentang Ekonomi dan Arai Biologi. Dalam kelasnya, Ikal berteman dengan Gonzales dari Mexico, Manooj dari India dan Ninochka dari Russia.

Tak juga berpaling dari bayang cinta pertamanya Aling, Ikal pun tak bisa berpaling dari pesona mahasiswi cantik bernama Katya dari Jerman. Katya yang menjadi dambaan semua lelaki di Sorbonne malah jatuh cinta padanya. Mereka pun dekat akhirnya memutuskan untuk pacaran walau hati Ikal merasa tak pantas dengan gaya pacaran Katya yang hedonis. Akhirnya Ikal dan Katya pun memutuskan untuk putus setelah Arai sadar ada beberapa hal yang berubah termasuk niat awal mereka menggembara sejauh ini meninggalkan belitong. Semangat mereka pun kembali lagi seperti diawal mereka datang.

Ikal pun tetap pada niatnya untuk mencari Aling yang ternyata, atas surat-surat dari Aling, Ikal tau bahwa ia berada di Perancis dan masih mencintainya. Ikal pun mencarinya dan ternyata Aling sudah pergi untuk berkeliling Eropa.

Edensor The Movie

Edensor The Movie

Sebatas itu, hanya sebatas itu.
Padahal seharusnya dalam film Edensor ini saya akan bisa merasakan bagaimana suasana desa Edensor yang digambarkan baik oleh Andrea Hirata dalam novelnya. Saya akan tau bagaimana pertemuan mereka dengan tua-nya Pak Toha sang pengusir kecoa di Serbia yang sudah sangat lama meninggalkan tanah kelahirannya di Jawa. Dan juga merasakan amazingnya perjalanan backpacker mereka keliling Eropa untuk mencari Aling hingga ke Benua Afrika.

Aah, berharap sekali jika film ini dibuat ulang dan menuangkan secara lengkap awal hingga akhir cerita di novel Edensor seperti film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s