Jember, Desaku yang kucinta pujaan hatiku

Curah Nongko, Jember

Curah Nongko, Jember

Jember, suatu tempat yang selalu aku ingin kembali ke sana. Sungguh, aku rindu sekali dengan tempat itu. Padahal baru sekali aku kesana dan itu pun ketika itu aku masih SD. Di sana itu adalah rumah bibiku, adiknya ayah. Tepatnya di kaki gunung dengan desanya bernama curah nongko. Suatu tempat yang sangat ingin ku kunjungi sekali lagi. Bahkan kalau bisa berkali-kali.

Di sana aku temukan suatu desa yang benar-benar aku rasakan itu adalah desa ku, desaku yang kucinta, pujaan hatiku, semuanya masih alami ketika itu.

Jembatan sesek yang bergoyang-goyang bila ada satu dua orang yang melewati. Rumah-rumah yang kebanyakan masih terbuat dari bambu yang setiap rumah itu selalu ada surau kecil di belakangnya yang penerangannya itu adalah dengan lampu ublik. Sungai yang pada alirannya mengeluarkan kabut ketika pagi hari. Sebuah toko yang toko itu adalah toko satu-satunya di dusun itu. Satu hal yang tidak terlupakan di toko itu adalah toples lodhong kaca besar-besar tempat gulali manis. Yang lucu bila malam hari ingin ke toilet, harus bawa obor untuk ke sungai karena tidak ada WC dan tidak ada yang punya WC. Kangen semua itu.

Rumah bibiku, sebuah rumah yang dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu. Tepat di depan rumah terdapat pohon asam yang rindang dan lebat buahnya. Hampir disetiap paginya bibiku selalu memunguti asam-asam yang jatuh dengan besek.

Ruang tamu rumah bibi sederhana sangat. Kursi-kursi dari kayu rotan dengan lampu gantung yang mirip dengan lampu padepokan-padepokan. Dengan televisi hitam putih dengan layar biru sebagai pelindung mata agar tidak sakit, yang di samping bagian TV itu terdapat radio yang RRI sebagai siaran favorite. Jendelanya pun sangat sederhana namun itu bagus sekali, jendelanya dari kayu yang pemandangan nya adalah pematang sawah hijau nan luas. Sungguh indah sekali.

Ketika pagi datang, baru sekitar jam 8-an matahari dapat memancarkan pendaran cahaya nya di dusun ini, karena dusun curah nongko ini benar-benar berada dalam kaki gunung. Sungguh aura desa yang sangat kental.

Di atas gunung ada tempat namanya bande alit, tapi sayang aku tak sempat ke sana untuk melihatnya karena untuk mencapai ke sana harus berjalan sedikit jauh yang kala itu orang punya motor di sana masih bisa di hitung dengan jari. Orang-orang bilang, bande alit itu adalah semacam alat untuk membuat besi di jaman dulu oleh empu siapa begitu dan sekarang dikeramatkan oleh warga sekitar. Dan kata ayah, dari puncak bande alit ini kita bisa melihat keindahan pulau nusa barong di pantai selatan.

Wisata lain yang ada adalah watu ulo dan pantai papuma. Indah banget!! Dalam perjalanan ke sananya pun juga merupakan unforgettable trip indeed! Pantainya ada di kabupaten ambulu, dan dari curah nongko ke kota ambulunya itu yang menghabiskan berjam-jam dalam perjalanannya. Namun dijamin ndak akan bosan karena dalam perjalanan akan disuguhkan berbagai macam pemandangan yang masih asri. Ada kebun karet dengan deresan karet yang terlihat menetes-netes, kebun coklat, hutan pinus, hutan jalinan kayu rotan, kebun nanas, kebun papaya, dan yang lain lupa karena sebagian perjalanan aku tertidur kala itu.

Diatas adalah cerita tentang Jember yang pernah saya posting di http://tiwwidy.multiply.com yang sekarang sudah ditutup karena suatu hal. Sebuah cerita yang saya tulis sekitar tahun 2011 lalu saat kerinduan akan desa bibiku di Jember membuncah. Alhamdulillah akhir 2013 lalu saya dan sekeluarga sudah melepas semua rindu dengan Jember setelah saya terakhir kesana sekitar tahun 2004. It has been a while and it has changed much. Gambaran cerita saya tentang Jember diatas haruslah sudah banyak direvisi disana-sini karena desa bibiku kini telah berubah banyak.

Jembatan yang dulu masih dari bambu kini sudah berubah menjadi jembatan beton. Hutan yang dulu sangat rimbun dan menyeramkan kini sudah berubah dengan hutan dengan pemandangan indah khas hutan karet yang guratannya membentuk garis horizontal yang bertemu disatu titik temu diujung deretan. Rumah-rumah sudah banyak berubah modern. Aah, namun aku masih suka dengan desa ini. Masih sangat desa.

One thought on “Jember, Desaku yang kucinta pujaan hatiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s