“MENULIS” Mengikat Ilmu, Berbagi Ilmu

Menulis adalah sebuah bahasa lain saat kalimat tak terkatakan secara lisan. Menulis juga seperti mengumpulkan satu-satu kunang-kunang ke dalam lingkaran lampion hingga membuatnya berpendar dengan terangnya. Satu kunang-kunang tak akan benderang, namun jika beberapa akan menjadi sebuah dinar penerang.. – Tutut Indah Widyawati

Membuka satu persatu tulisan baik dibuku-buku yang sudah usang maupun dalam scrolling down archives blog saya, membuat saya tersadar ternyata menulis telah membawa saya pergi jauh menelusuri halaman demi halaman buku-buku, menjelajah dalam ceritanya, menemukan satu-satu kalimat terbaik didalamnya yang kemudian saya tulis kembali sebagai cara menjadikannya sebagai sebendel Quotes for life.

Quotes atau Kutipan bagi saya bagaikan sebuah guru yang hidup berupa deretan abjad. Dengannya saya belajar segala hal, tentang banyak hal, tentang hidup. Bukankah hebat namanya jika hanya dengan sebuah kalimat namun bisa merubah kehidupan manusia. Bisa menginspirasi, bisa memberi pelajaran berharga dari sebuah kesimpulan hidup yang telah terjalani oleh sang pencipta kalimat itu. Oleh karenanya, seperti sudah menjadi sebuah janji diri bahwa setiap hal yang saya lakukan haruslah terdapat sebuah pelajaran yang tercatat untuk diingat dikemudian hari dan diceritakan kepada orang lain untuk sebuah inspirasi.

Menulis - Writing

Menulis – Writing

Menulis memang seperti mempunyai kekuatan untuk mengikat sebuah cerita, mengikat sebuah ilmu, mengikat suatu informasi. Itulah mengapa saya menjadikan menulis bukan hanya sekedar hobby namun sebagai hidup. Menulis tidak harus panjang, menulis apapun yang hadir dalam pemikiran itulah yang utama. Karena dengan menulis, kita mengikat sesuatu didalamnya.

Betapa tradisi menulis sudah lama berabad, namun hingga detik sekarang pun jutaan buku tercipta hanya sebagai bukti dari keabadian menulis itu sendiri. Menulis untuk menyalurkan sebuh pemikiran, sebuah ilmu, sebuah pengetahuan.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..” – Sahabat Ali Bin Abi Thalib.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, karena seperti buruanmu ia akan lepas bila tanpa ikatan. Sebuah pesan maha dahsyat oleh seorang sahabat terbaik yang pernah hidup itu berhasil membuat manusia dengan mudahnya mengetahui segala sesuatu. Bahkan manusia sekarang bisa mengenal Nabi-nya Muhammad, para filsuf seperti Aristotle, Plato, seorang Sufi Ibnu Athaillah, novelet terbaik seperti Shakespeare, dan para tokoh-tokoh besar yang hidup jauh dari masa sekarang sebabnya hanya satu, MENULIS!

Dengan menulis maka ilmu terikat, kalimat-kalimat teringat, cerita-cerita tersimpan rapat.
Menulis yang dalam perjalanannya pernah disebut sebagai bid’ah ternyata menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengubah dunia. Pikirkan, jika dalam sebuah peradaban manusia tak mengenal tradisi menulis, pastilah cerita peradabannya tak pernah dikenang oleh dunia.

Menulis adalah mengikat ilmu. sejatinya menulis adalah menuangkan isi pemikiran ke dalam lembar-lembar buku. Karena pemikiran bisa lupa, pemikiran manusia pun terbatas, namun buku tak akan pernah lupa karena kalimatnya tertera. Buku menyimpan ilmu yang dikabarkan kepada manusia jika mereka membacanya. Dan lewat menulislah ilmu itu bisa disimpan, bisa disampaikan.

Ada sebuah hadist yang mewajibkan manusia menyampaikan ilmunya. Hadist yang mungkin belum banyak orang membacanya yang sebenarnya saya juga pertama kali mendengar hadits tersebut dari sahabat saya.

رُ بَ مَنْ ئِنْدَهُ ئَنْ ئِلْم لَيْسَ يَلْئَنُهُ فِي يَوْمِ ا الْقِيمَةِ وَ كُوْ نُوْا الْجِمَ بِلِجَا م وَالْقَيْتُهُ اِفَى ا لنَّا رِ وَ لَا أُ بَا لِى ثُمَّ يَقُوْ لُ لِآَيِ شَيْء ئِنْدَ نِى بَلْ لَا تَئْمَلْ لْ

“Banyak orang yang berilmu tapi ilmunya tidak menolongnya di Hari Kiamat. Tetapi malah menjadi sebuah tali yang melilit dan melemparkannya ke neraka dan tidak peduli. Kemudian berkata, “Untuk apa kau memiliku tapi tak kau amalkan..” – Hadits Qudsi

Betapa sebuah kewajiban besar bagi orang yang berilmu untuk menyampaikannya barang hanya sepengetahuannya. Ilmu bukanlah terbatas dari apa yang diajarkan oleh guru, tak harus juga yang terdapat pada buku, namun lebih dari itu, apa yang dimiliki manusia selagi jika disampaikan kepada orang lain adalah bermanfaat maka itu juga disebut sebuah ilmu.

Dan saya, dengan menulis inilah salah satu cara saya untuk bisa tetap berbagi ilmu. ilmu tentang pengalaman hidup, ilmu dari segala hal yang saya temui dalam detik-detik perjalanan hidup yang penuh kejutan disetiap harinya. Menulis-menulis-menulis! Because, writing will lead you to be a historian maker.. – @tiwwiDy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s