#SuratDariBapak :’)

Seperti, orang dulu mempunyai sebuah cara yang indah untuk menyampaikan perasaan, kabar dan cerita dalam sebuah kertas yang terpatri dengan sebuah pena lewat sebuah SURAT. Berbeda sekali dengan sekarang yang semuanya berbatas dengan karakter dan tak menghitung banyak waktu untuk tersampaikan.

Surat Dari Bapak

Surat Dari Bapak

#SuratDariBapak - @tiwwiDy

#SuratDariBapak – @tiwwiDy

Dengan surat, semacam ada sebuah penantian yang indah untuk sekedar membaca baris demi baris cerita lewat tulisan tangan. Bukan huruf paten digital yang dalam satu, dua, tiga detik sudah tersampaikan.

Sudah banyak surat yang tertujukan padaku dan kutulis kepada orang lain, kepada teman, kepada seseorang, kepada sahabat penaku. Namun seumur hidup belum pernah aku mendapat surat dari Bapakku. Pikirku, kenapa tidak? Bagaimana mau mendapat jika sejauh hidupku sebentar pun aku tak pernah tinggal jauh dari Bapak dan Ibu. Berbeda dengan kedua kakakku.

Berawal dariku menemukan surat Bapak tahun 1997 yang ditujukan kepada kakak kedua-ku yang sedang di Jakarta diperantauannya. Surat usang itu begitu bermakna, penuh kenangan yang tersimpan didalamnya, penuh dengan kerinduan yang tersampaikan lewat kata. Semuanya membuatku iri dan aku berkata ingin mendapat surat dari Bapak, namun Bapak hanya tertawa.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba Bapak mengabulkan keinginanku yang sebenarnya hanya sebatas ke-iri-an saja dengan meminta kertas dan amplop untuk menulis surat buatku. Kuberikan kertas dan amplop terbaik hasil koleksiku sejak SMP. Aku pun penasaran dengan apa yang Bapak tulis yang kemudian saat aku tau surat itu aku mulai merasa terharu, bahagia, dan entah kenapa ada kerinduan disana.

Ada tiga pesan di surat Bapak yang pada amplopnya ditulis “Kepada Anak da Tutut Indah Widyawati di Ngampel, Surabaya” aku terbahak sesaat saat tau tulisan alamat surat tersebut. Bukan apa-apa namun surat itu terbaca saat perjalanan saya dan Bapak ke Sunan Ampel Surabaya tepat tanggal 30 Maret. Pesan ketiga itu adalah

“Yang ketiga. Mudah-mudahan kuliyah bisa lancer akhirnya bisa tercapai apa yang dicita-citakan. Bapak berdoa mudah-mudahan anak bisa mendapatkan kebahagiyaan dunia dan kebahagiyaan di akhirot. Aamin Yaarobbal’aalamin.”

Kalimat terakhir, “Bapak minta maaf yang sebesar-besarnya”, berhasil membuat darah berdesir, detak jantung berhenti beberapa detik, mata memanas yang akhirnya menitikkan air mata. Yaa Allah, terima kasih untuk Bapakku.

Dan akhirnya, walaupun tak pernah jauh dari Bapak, aku mendapat Surat dari beliau. Satu kertas saja namun mewakili sebuah cinta ayah kepada putrinya. Sebuah kertas saja namun menjadi sebuah hadiah ulang tahun yang akan tak terlupakan selama hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s