Déjà vu, already seen

“saat Déjà vu kita merasa pernah dekat sekali dg sebuah suasana, suatu tempat atau saat ketika, tiba-tiba terdiam, mengingat dan tak asing.” @tiwwiDy

Berbagai pertanyaan tentang kata sebagai tagar diatas telah menjadi pertanyaan yang sudah lama ada dipikiran saya. Mungkin sejak lama, sejak dahulu ketika saya merasakan berada disebuah suasana yang tak asing, disebuah tempat yang familiar dan suatu ketika yang begitu dekat. Saat itu pula saya mulai terdiam, mencari-cari kembali memory tentang sebuah memory asing yang tiba-tiba kembali namun ternyata memory itu belum pernah terjadi dan sebenarnya memang tidak pernah karena sebuah tempat tersebut benar-benar masih asing.

Déjà vu

Déjà vu

That’s called by Déjà vu .. something already seen..

Saya yakin, setiap manusia yang pernah hidup pasti mengalami Déjà vu. Sensasinya memang sangat misterius hingga menyentak pemikiran manusia. Yaa, mungkin sudah banyak penelitian ilmiah tentang adanya Déjà vu yang mengatakan bahwa hal itu hanya merupakan gejala alami yang terjadi pada otak manusia yang luar biasa kompleks.

Teori tidak akan diciptakan jika tak ada sebab musahab yang menyertai terjadinya sebuah teori. Beberapa teori ilmiah menyebutkan bahwa Déjà vu hanyalah sebuah kerja otak yang disana tersimpan berbagai memory yang terdistorsi. Déjà vu diartikan sebuah recognition memory dimana manusia menyadari bahwa apa yang ia alami sekarang sebenarnya sudah pernah teralami sebelumnya. Teori lain yang saya pelajari dari Sigmund Freud mengatakan Déjà vu terjadi karena pemikiran bawah sadar manusia lebih besar daripada pikiran sadar manusia. Kurang lebih begitu cara ilmiah dan sains memecahkan tentang Déjà vu.

Namun tulisan saya kali ini bukan untuk membahas tentang teori ilmiah, namun sebuah tulisan tentang sesuatu yang imajinasi saya ingin membacanya tentang Déjà vu, bukan berdasarkan logika dan sains namun imajinasi.

Dalam pengertiannya, Déjà vu bermakna sebuah masa dimana kenangan akan suatu masa yang entah terbawa kembali tanpa manusia berkemampuan memahami kapan hal itu terjadi. Walaupun begitu, segala gambaran akan sebuah kejadian aadalah begitu jelas sehingga membuat manusia berusaha keras menggali memori dalam otak dan mencari the exact time. Walau it’s never working.

Déjà vu seperti pantulan sebuah mimpi manusia yang mencuat pergi ke hadapan dunia nyata. Memori yang selama ini hanya tertidur seiring tidurnya diri untuk mendatangkan mimpi seolah bangun dan menjadi nyata didepan mata. Saat semuanya muncul, semuanya hanya menjadi kumpulan memori yang mendistorsi current memory sehingga muncul sebuah confusion. Tidak semua berhasil terpecahkan, tidak semua bisa dijelaskan.

Déjà vu juga bisa dibilang sebagai sebuah kehidupan masa lalu manusia yang tersimpan pada salah satu sudut ruang pikir saat masih bermimpi indah dalam Rahim ibunya dan merekam dengan jelas semua memori yang didengar olehnya. Bukankah janin dalam Rahim sudah bisa mendengar? Disanalah ia mendengar apapun yang dikatakan dunia dan menyimpannya hingga menjadi manusia sempurna.

Sungguh, disini terlihat betapa dahsyatnya otak manusia.

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya..” (At-Tiin : 4)

Dalam ayat tersebut terimplikasi tentang bagaimana Allah telah menciptakan makhluk yang begitu sempurna bernama manusia melebihi kesempurnaannya dalam penciptaan jin, setan bahkan malaikat sekalipun. Dalam penciptaan yang sempurna itu Allah menganugerahi manusia dengan otak yang sangat luar biasa untuk berpikir karena selain nafsu, manusia juga diberi akal untuk berpikir. Otak yang didalamnya terdapat berjuta neuron yang bahkan tempat kotak memori tersimpan tak terdeteksi secara fisik.

Déjà vu, apapun itu pengertiannya dan bagaimanapun pembahasannya akhirnya adalah tetap menjadi sebuah rahasia kecil Allah tentang pemikiran manusia yang tersimpan dalam organ meliuk-liuk bernama otak. Entah bagaimana bisa terjadi, dan mengapa otak manusia dianugerahi Déjà vu jawabannya masih menjadi rahasia alam, rahasia Tuhan. Tinggal manusia memaknai apa-apa yang dahsyat tersebut dengan penuh kekaguman kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s