Our Real Adventure, Pantai Ngalur, Tulung Agung

Perintah Allah itu jelas dalam Fathir ayat 44 tentang Anjuran Allah untuk mengadakan perlawatan di Buka Bumi untuk membuktikan kekuasaan Allah, lalu akankah manusia harus mengabaikan perintah-Nya dengan menganggap menjelajahi bumi baru, camping, dan traveling itu tidak ada gunanya? Karena Allah selalu punya cara tersendiri untuk membuat mulut hambanya berdzikir dengan dua kalimat toyyibah yang paling disukai-Nya. This is the way how we said “Subhaanallahiwabihamdihi • Subhaanallahil’adziim”, and this is what we did and we are going to do!!

We Were There

We Were There

Rencana berawal setelah (kesuksesan/kegagalan?) Camping di pasir putih trenggalek akhir februari lalu untuk mengadakan Camping lagi di bulan April. Oleh Makhrusy yang selanjutnya dipanggil Kapten Jack Sparrow yang bertanggung jawab penuh atas Camping kali ini (dan camping kemarin juga mungkin) saya ditugasi untuk browsing venue next camping dengam pilihan kota Tulung Agung, dengan pertimbangan jaraknya yang paling dekat dari Kediri. Saya pun mendapat banyak referensi pantai yang indah di Tulung Agung, ternyata T.agung bukan hnya popoh saja namun ada banyak. Namun yang menjadi pilihan sang kapten adalah Pantai Tanjung Badak. Belum banyak informasi tentang pantai ini namun kata teman saya yang lain, tolhah, medannya belum terjangkau dan “ndak ngatasi” kalau ngajak cewek. Oke fine, akhirnya saya pilih pantai Ngalur yang dalam beberapa review yang pernah kesana, salah satunya teman saya SMA, sadam, pernah kesana dan pantainya indah banget!!

After well prepared dan briefing berkali-kali akhirnya Sabtu, 26 April 2014 kami berangkat dengan terbagi menjadi dua kloter pemberangkatan. Pemberangkatan pagi (saya, makhrusy, angga, asnaf, ninik, diah, fitria, imnin) berangkat dari Kediri sekitar jam 11 siang dan kloter kedua (ahmed, izud, tolhah, Om Juneng). Berangkat jam 3 sore karena masih ada kuliah ba’da dhuhur. Kloter pagi berangkat agak santai karena waktu yang dirasa cukup jika harus sampai di lokasi sebelum senja. Karena semuanya belum paham jalan menuju lokasi maka kami pun mengandalkan google untuk arah kesana walaupun pada awalnya kami keblabasan ke perempatan kedua setelah terminal namun jalannya sama.

Dari perempatan sebelum terminal (arah dari timur terminal) belok kiri arah campur darat kurang lebih 10 km, sampai ada pertigaan pasar campur darat belok kiri lagi. Terus sampai ada SMAN 1 Campur darat belok kiri. Lurus 7 km mengikuti jalan utama (yang ada white line-nya karena di jalan berkelok ini lumayan banyak jalan yang bercabang) kalau ada pertigaan sebelum SMPN 1 Tanggunggunung belok kiri. Naah, setelah belok kiri ini harus banyak-banyak tanya orang karena jalurnya banyak, terpencil, bnyak jalan yang susah dan huaah, pokoknya perlu skill rider yang mumpuni.

Alhamdulillah, mungkin karena niat baik kami semua untuk mengagumi keindahan alam-Nya saat pertama berhenti tanya orang sekitar karena jalan bercabang, kami pun dipertemukan dengan seorang Bapak (aah, kemarin lupa tidak tanya namanya) yang kebetulan juga ingin pergi camping di Ngalur untuk mencari ikan. Dalam hati semua teman-teman saya berkata “yaa Allah apa mungkin kami sampai tujuan dengan cepat kalau tidak ada Bapak ini” tapi benar, jalannya susah karena batu-batu aspal banyak yang mencuat kemana-mana, medan yang naik turun bukit dan banyak jalan bercabang with no sign and no signal!

Setelah melewati jalan berbukit dengan pemandangan alam luar biasa perbukitan tanggung gunung, kami sampai di desa Ngelo yang ketika masuk kami disambut dengan banner “selamat datang di wisata alam pantai sanggar” namun kami pergi ke pantai Ngalur. Setelah masuk desa jalanan tak beraspal namun masih dikatakan mudah jika dibandingkan jalan sebelumnya. Kami pun akhirnya sampai di pertigaan kecil (yang saya kira kami diminta untuk parkir di rumah warga) eh ternyata memang itu jalannya. Pertigaan kecil yang ada tulisan “Pantai Ngalur ->” dengan ada pos kampling kecil di pertigaan yang sebenarnya lebih tepat jika disebut gang. Nah setelah belok ini tadi kami dihadapkan dengan jalan yang tak lebih lebar dari 50 cm dengan medan naik turun bersebelahan dengan tebing dan jurang.

Saya tak henti-hentinya membaca sholawat karena sedikit saja lengah maka buuzz, astaghfirullah. Namun tak perlu khawatir, pemandangan perbukitan disekitarnya membuat medan yang sulit jadi tetap patut untuk disyukuri, alhamdulillah. Akhirnya setelah melewati perkebunan pisang, akhirnya suara deburan ombak pun terdengar. ALHAMDULILLAH WE ARE HERE!!

Sunrise di Pantai Ngalur, Tulung Agung

Sunrise di Pantai Ngalur, Tulung Agung

Pantai Ngalur, Tulung Agung

Pantai Ngalur, Tulung Agung

Pantai Ngalur, Tulung Agung

Pantai Ngalur, Tulung Agung

Namun sayang, kata Bapak yang menyertai kami, barusan terjadi banjir di suatu tempat yang akibatnya bibir pantai banyak sampah-sampah kota. But it still looks so georgeous! Kami pun bersantai, membuka perbekalan yang kami bawa (kentang kukus, ubi goreng, dan makanan ‘ndeso’ lainnya) Sambil bernyanyi-nyanyi melepas lelah sebelum akhirnya kami menyusuri rentangan pantai, sholat yang wudhunya ‘no choice’ jadi pakai air laut yang asin dan mendirikan tenda. Bisa dibilang this is real ‘back to nature’!! Pengalaman Camping berkali-kali sejak SMP namun belum pernah merasakan ‘primitive runaway’ seperti ini, yang paling mengejutkan adalah wudhu dengan air laut. this is my first time, my salty experience. hahaa..

Senja-pun berganti malam. Menyaksikan detik demi detik perubahan warna langit diatas horizon pantai adalah pengalaman yang sangat mencengangkan dalam hidup. Melihat bagaimana berbagai warna senja menyatu dalam satu langit, kuning, orange, hijau, biru, dan warna tak terdeskripsikan lainnya. Memberi saya pelajaran bahwa, Alam saja bisa berubah begitu indah hanya dalam beberapa detik saja, lalu kenapa manusia tidak belajar untuk selalu berubah menjadi indah disetiap harinya? #Subhanallah!!

Malam pun tiba.

Karena tidak adanya sinyal dan listrik jadilah kami lost contact dengan teman-teman yang berangkat sore, kami pun berharap cemas atas sampai tidaknya mereka di satu tujuan yang sama, Pantai Ngalur. Sekitar jam tujuh malam, saya dan teman-teman melihat beberapa cahaya di sebrang, di Pantai Sanggar dan kami semua berasumsi bahwa itu mereka, our rest friends. Sekitar pukul delapan saat kami semua tidur-tiduran sambil bercerita satu sama lain di depan tenda, kami dikejutkan dengan kedatangan orang bersuara parau membawa tongkat dengan celana basah. Sontak dalam kegelapan malam semuanya terkejut campur takut, eh, ternyataa, orang itu adalah Faris, teman kami yang berangkat sore, disusul kemudian muncul sosok tolhah dengan rambut gondrongnya. Alhamdulillah!

Ceritanya, kelompok yang berangkat sore ternyata salah tujuan dan langsung menuju Pantai Sanggar karena Tolhah tau medan kesana dan belum paham dengan jalan menuju Ngalur. Pantai Sanggar dan Pantai Ngalur dibatasi oleh tebing batu yang rimbun sehingga untuk sampai ke tempat kami, mereka harus memanjat tebing dan melewati rerimbunan daun yang lebat. Aaak, dengan kemunculan mereka seperti menemukan teman yang hilang 1000 tahun baru dan akhirnya bertemu kembali. Hahaa.. Namun kemunculan itu memunculkan masalah baru. Jreeeng!!

Masalahnya, masih ada empat orang yang terjebak di Pantai Sanggar. Tidak mungkin membiarkan mereka tetap disana with no meals, no drinks. Setelah melakukan diskusi yang lumayan sengit mengingat medan yang susah, hari sudah malam dan pasti tidak adanya orang untuk ditanyai jika nanti tidak tau jalan, akhirnya diputuskan untuk tetap menjemput mereka. Dan akhirnya tolhah dan si Kapten pergi ke Pantai Sanggar dan menjemput mereka muter lewat jalan. Kami tak hentinya berdoa supaya tidak terjadi apapun dan mereka tiba secepatnya, dan alhamdulillah satu jam setelahnya suara motor pun datang dari balik tenda kami. Here they are!

Campfre at Ngalur Beach

Campfre at Ngalur Beach

Api Unggun di Pantai Ngalur, Tulungagung

Api Unggun di Pantai Ngalur, Tulungagung

Kami berberdua-belas pun menghabiskan malam dengan melingkari Api Unggun, Bercerita segala cerita, makan ‘telo bakar’, saya mengejar kunang-kunang, dan akhirnya satu persatu beristirahat di tenda masing-masing karena memang capeknya luar biasa. Malam pun sangat indah dengan suara deburan ombak khas pantai selatan yang besar dan berjuta kilauan bintang yang terlihat indah tanpa terhalang apapun. Alhamdulillah, we really have a great night!!

Sunrise diatas Horizon Pantai Selatan, Subhanallah

Sunrise diatas Horizon Pantai Selatan, Subhanallah

Pagi pun tiba.

Rasanya luar biasa berada di suatu tempat yang tak ada suara penanda sholat bergema, yang ada hanya kesadaran diri untuk menunaikan kewajiban menghadap kepada-Nya. Subuh saat itu begitu damai dengan bintang yang masih setia menunggui alam tanpa penerang. Perlahan dari atas bukit langit berubah merah yang perlahan merambat menyibakkan warna jingga di langit hitam. Suasana pagi yang mendamaikan dengan pemandangan spektakuler!! Saya dan teman lain pun menyusuri lagi pantai yang terbentang luas.

Sebenarnya saya berencana pagi ingin menyebrang ke Pantai Sanggar karena letaknya yang bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tebing, namun laut tidak jua menunjukkan waktu surutnya yang akhirnya kami urungkan niat dikarenakan beberapa teman ada yang masuk angin dan juga kelaparan. Karena memang, kami tak begitu banyak membawa logistik makanan dan hanya makanan ringan.

Dan beberapa mie instant. Setelah sarapan seadanya semuanya pun satu persatu diceburkan kelaut! Hahaa.. Dari awal-awal saya sudah pesan tidak mau mandi karena keadaan yang belum fit, alasan lain adalah karena jadi ‘tukang jepret’ anak-anak yang pada mainan air di laut. Hanya dengan menerjang deburan ombak saja bisa membuat mereka tertawa-tawa, hanya dengan menceburkan diri dalam air laut yang asin itu bisa membuat mereka bahagia. Setelah dirasa cukup main air-nya, kami pun berkemas untuk selanjutnya pulang. Aah, waktu akan pulang selalu memendekkan kenangan bahagia sehingga sehari semalam terasa hanya hitungan menit saja. Sebelum pulang, kami pun melingkar dan berdoa, bersyukur atas segala kesempatan luar biasa yang telah Allah berikan kepada kami, kelas C, untuk Camping dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan lewat alam-Nya.

“Subhaanallahiwabihamdihi • Subhaanallahil’adziim”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s