Dahsyatnya Doa Seorang Ibu

Cukup percaya saja kalau kau baik maka kau akan selalu dihadapkan dengan sesuatu yang baik pula. Namun jika kau tak baik tapi beruntung selalu diberi kebaikan, pasti ada seseorang hebat dibelakangmu yang mendoakan kebaikan untukmu.. IBUMU.. – Tutut Indah Widyawati

Akhir tahun lalu saya ditandai oleh kawan saya sebuah catatan di facebook tentang sebuah kisah mengharukan berjudul ‘The Power of Emak”, sebuah kisah yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur tentang sang Ibunda yang berkat doa-nya berhasil membawa ustadz Yusuf Mansur menjadi pendakwah hebat.

Ibu Yusuf Mansur, Ibu Hj. Humrifah yang dari pagi siang sore malam, haidh ndak haidh, selalu diatas sajadah mendoakan Ustadz YM biar jadi orang bener, biar jadi orang besar, jadi seorang kiyai. Doa Ibu Humrifah tak pernah putus untuk anaknya sehingga kita bisa melihat bagaimana Ustadz Yusuf Mansur sekarang benar-benar jadi apa yang ibunya doakan untuknya.

Belum selesai akan kekaguman cerita dahsyatnya doa seorang ibu Yusuf Mansur, kemarin saat saya dan Bapak ke Jakarta untuk menemui sahabat Bapak yang sudah 57 tahun tak bertemu, saya mendapay cerita lain yang luar biasa tentang dahsyatnya doa seorang ibu. Satu kalimat yang sampai sekarang saya masih ingat semuanya yang diucapkan Bapak saya kepada sahabatnya, “Suksese sampeyan sampek sukses di Jakarta iki ora lepas teko doa-ne Mak Yah (Nama Ibu Sahabat Bapak), lha wong pas masak ae mesti hafalan yaasiin. Yoo kui barokahe Yaasiin e Mak Yah nang kesuksesane sampeyan.” Betapa doa seorang ibu masih hidup menyertai anak-anaknya walaupun beliau sudah tiada.

Saat kuliah tasawuf, saya mendapatkan sebuah quote dari dosen saya Pak Qomarul Huda, “Rahmat itu adalah intervensi Tuhan atas kehidupan manusia yang tak tampak namun bisa dirasakan.” Saya berkesimpulan, Rahmat Allah itu salah satunya adalah doa seorang ibu. Itu pasti. Sebagai contoh, ada seorang anak tunggal yang tidak biasa bahkan bisa dibilang sangat nakal dan tak pernah taat terhadap aturan. Namun hidupnya selalu diliputi dengan keberuntungan-keberuntungan nyata yang saya yakin, semua itu tidak lepas dari doa sang ibu yang selalu mendoakan kebaikan untuknya. Seorang ibu yang tak pernah jauh dari-Nya. Logikanya dia adalah anak satu-satunya, pasti segala doa ibunya tercurah kepadanya siang dan malam.

Tiga cerita diatas cukup menjadi sebuah bukti betapa doa seorang itu sangat dahsyat kepada anak-anaknya. Dan, cerita diatas juga cukup membuat saya nelangsa setengah mati karena doa ibu sudah tidak bisa saya perdengarkan lagi. Hal itulah yang membuat saya lantas bertanya-tanya, lantas bagaimanakah dengan anak piatu? Seperti saya yang sudah tidak mempunyai seorang ibu, bagaimana saya bisa mendapatkan doa yang dahsyat itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab tuntas oleh teman diskusi saya, @Makhrusy.

Sesungguhnya dahsyatnya doa seorang ibu itu tidak lepas dari kalimat ‘seorang ibu yang bagaimana’, bagaimana sholatnya, bagaimana dzikirnya, bagaimana puasanya, dan seperti yang dicontohkan diatas, ketiga ibu tersebut adalah seorang yang ahli ibadah, jadi tidak salah jika doa yang menyertai anaknya juga begitu dahsyat. Namun harus diketahui bahwa, Doa seorang ibu itu dinilai dahsyat doanya karena ada anak yang didoakan. Seorang anak menjadi faktor penting untuk membuktikan dahsyatnya doa seorang ibu.

Lantas bagaimana dengan seorang ibu yang tega membuang anaknya sendiri? Ada sebuah kisah di salah satu majalah hikmah yang menceritakan tentang seorang anak yang sedari bayi dibuang oleh ibunya sendiri, ia-pun ditanya, ‘cita-citanya nanti mau jadi apa?’, “pengen dipeluk bunda”. Sang penanya bertanya lagi, ‘benci tidak sama bunda, dendam tidak sama bunda?’,”enggak, aku nggak benci sama bunda, kalaupun tidak bisa dipeluk bunda di dunia, aku ingin dipeluk bunda di surga.” Sang penanya pun menangis karena menyaksikan sendiri doa seorang anak sholeh yang meskipun ibunya berdosa telah membuangnya namun ia berdoa untuk bisa bertemu di surga nantinya. Doa anaknya itulah yang mungkin akan melimpahkan hidayah kepada ibunya.

Memang tidak dipungkiri bahwa doa seorang ibu itu sangat dahsyat, bahkan ada salah satu cerita dari seorang sahabat Nabi yang susah dalam sakaratul mautnya. Nabi pun bertanya, ‘apakah dalam hidup sahabat ini dulunya sering melakukan maksiat?’ orang-orang pun menjawab, “tidak yaa Rasul, beliau adalah seorang yang ahli ibadah”, “lantas kenapa ia seperti ini? apakah ia masih punya ibu? Panggil ibunya.” Lantas beberapa sahabat pun memanggil ibunya dan Rasul menanyai ibunya, “wahai ibunda sahabat Fulan, ampuni dia!” sang ibu pun menjawab, ‘kenapa saya harus memaafkannya, ia sedikitpun tidak punya salah kepada saya.’, “kau pasti berbohong, kalau memang ia tidak punya salah, lantas kenapa ia susah dalam sakaratul mautnya? Kalau memang tidak mau menyebutkan kesalahan sang anak, akan ku bakar anak ibu.”, ‘jangan yaa Rasul, ia memang ahli ibadah, puasanya bagus, tahajudnya bagus namun ia sering lupa kapan mengirimi makanan kepada saya.” Dan setelah ibunya memaafkan, sahabat tersebut dimudahkan dalam sakaratul mautnya. Sungguh betapa doa seorang ibu bisa menentukan bagaimana hidup anaknya.

Doa mustajabah salah satunya pada sepertiga malam terakhir

Doa mustajabah salah satunya pada sepertiga malam terakhir

Doa yang dahsyat itu tidak hanya doa dari seorang ibu, masih banyak doa-doa mustajabah lainnya jika dalam hidup tidak bisa menemui dahsyatnya doa seorang ibu. Doa yang sebanding dengan dahsyatnya doa ibu adalah doa seorang ahli tahajjud.

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir, lantas Dia berfirman; ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengijabahinya, siapa yang meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari, 5846)

Hadits diatas adalah sebagai bukti betapa dashyatnya doa seorang yang ahli tahajjud, karena Allah turun dari singgasananya yang mulia menuju ke bumi untuk menyaksikan siapa saja yang bangun dan menunaikan sholat. Dalam tafsir lain disebutkan bahwa, di sepertiga malam terakhir sama sekali tidak ada penghalang antara Allah dan hamba-Nya jadi setiap doa yang dihaturkan kepada hamba-Nya akan langsung terdengar oleh Allah. Jadi doa seorang ahli tahajjud itu tidak kalah dahsyat dari doa seorang ibu.

Jadi walaupun sudah tidak bisa lagi mendapatkan dashyatnya doa seorang ibu, tidak perlu menyalahkan Allah, tidak perlu men-judge Allah karena Allah akan selalu adil dalam setiap keputusan-Nya, dan memang benar, sudah banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari keputusan Allah atas ibu saya.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS. Al-Mu’min : 60)

Sesungguhnya sangat demikian banyak ayat Allah yang menunjukkan bahwa betapa setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah itu akan selalu dikabulkan oleh-Nya. Inilah yang menjadi berita gembira bagi siapapun yang tidak beruntung mendapatkan dahsyatnya doa seorang ibu. Alhamdulillah.

Sungguh dahsyat doa seorang ibu kepada anaknya. Sungguh tak ada yang bisa menyamai cinta ibu kepada anaknya, bahkan cinta itu hampir sejajar dengan cinta Tuhan yang mencintai makhluk-Nya. Walaupun nyaris sejajar namun tetap, cinta Allah kepad hamba-Nya itu lebih-lebih-lebih besar dari cinta apapun yang ada di dunia. Salah satu cara Allah menunjukkan rasa cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan sungguh-sungguh. Itu Janji-Nya.

2 thoughts on “Dahsyatnya Doa Seorang Ibu

  1. MasyaAllah saya juga seorang piatu, berbapak tanpa perhatian. Saya hidup dibantu saudara saya. Untuk mendapat reho Allah haruslah kita berbakti kepada orangtua. Namun saya sangat kecewa kepada bapak saya yang sampai skarang tidak pernah menafkahi saya dan saudara saya. Kami bersaudara sudah memperingatkan bahkan hapir memarahi beliau karena perlakuannya. Beliau bapak saya hanya mementingkan selingkuhannya yang bersuami. Saya sebenarnya tdk mau mengumbar aib kelurga saya. Tapi saya bingung apakah saya masih bisa mendpat redho Allah dengan keadaan saya yang sangat kecewa dan benci terhadap bapak saya? Mohon di jawab ukhti/akhi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s