Kecil gemar didongengi, Dewasa gemar Membaca

By telling the kids some stories, it will construct their mind to have a good imagination.. ~ @tiwwiDy

image

Satu kalimat yang lansung terlintas dalam benak saya ketika melihat foto diatas. Foto saat saya membacakan dongeng tentang The Tale of The rabit kepada salah satu anak bernama Kyla dalam acara peringatan Hari Aksara Dunia #1000BukuMahanani oleh Taman Baca Mahanani beberapa minggu yang lalu.

Benar, dengan mendongengkan sebuah cerita kepada anak-anak, dalam perkembangannya mereka akan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Saya belum membaca tentang fakta ilmiah yang membahas tentang hal itu, namun fakta itu ada pada diri saya sendiri.

Saat kecil, sebelu tidur, saya suka didongengi oleh Bapak saya tentang cerita Kancil, cerita rakyat, dan cerita apapun yang walaupun diceritakan berulang-ulang, saya tidak merasa bosan.
Saat Bapak bercerita, saya mengimajinasikan apapun yang Bapak katakan. Seperti saat Kancil ditangkap oleh pak petani karena mencuri timun, imajinasi saya langsung berada di sebuah ladang dimana kancil sedang memakan timun sedangkan Pak Tani yang memakai caping dan membawa paculnya mengejarnya di tegal ladang.
Saat bercerita memang menjadi saat membayangkan sesuatu yang dituturkan oleh sang pencerita.

Bersyukur, saya mempunyai Bapak yang pandai bercerita jadilah waktu sebelum tidur, saat saya kecil dulu adalah a precious time for me.

Dari mendongengkan cerita, kedekatan rasa antara Bapak dengan saya pun semakin erat. Bisa dibilang, saya lebih dekat ke Bapak daripada Ibuk. Bahkan sampai sekarang pun, jika sedang ada waktu luang, saya mengajak Bapak duduk di beranda depan sambil nge-teh untuk mendengar belia bercerita. Saya bertanya apapun yang memancing Bapak untuk bercerita panjang mengenai seperti nenek moyang, kehidupan beliau jaman waktu muda,  cerita apapun di masa lalu yang saya yakin belum tentu mas dan mbak saya tau tentang cerita-cerita yang saya dengarkan.

Darisanalah mungkin, kegemaran saya membaca tidak terlepas dari dongeng yang Bapak ceritakan. Karena intinya sama, mendengar dan membaca adalah dua proses yang sama-sama mendapatkan sebuah cerita untuk diimajinasikan. Karena dari sebuah cerita imajinasi akan berjalan dengan sendirinya ke tempat dimana cerita itu diceritakan.

Saat saya SMP, saya mulai mengoleksi novel-novel teenlit hingga sekarang menjadi sebuah candu untuk mengoleksi buku yang candu itu masih mengakar kuat.
Bercerita sejatinya adalah menguatkan rasa. Rasa imajinasi, kedekatan rasa, rasa penasaran tentang cerita lainnya dan lainnya.
Bisa jadi, saat kecil gemar dibacakan cerita, dewasa gemar membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s